Jaminan Penghapusan Kelaparan

Dalam sistem kapitalisme yang menjadikan sekularisme sebagai landasan membuat kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat, mengumbar janji dilakukan untuk membangun citra positif. Pemisahan agama dari kehidupan menjadikan seseorang bebas melakukan apa saja tanpa rasa takut berdosa. Mengingkari janji, korupsi, bahkan bertindak zalim (tidak adil), menjadi sesuatu yang biasa.
Oleh Aprilina, S.E.I.
(Aktivis Muslimah Peduli Umat)
JURNALVIBES.COM – Pernyataan yang menggembirakan datang dari Juru Bicara Kementerian Komunikasi dan Informatika, Dedy Permadi saat menyampaikan perkembangan terkini terkait dengan implementasi PPKM Darurat, Minggu (11/7). Sebagaimana dimuat pada harian merdeka.com (11/7/2021), bahwa Pak Dedy menjelaskan, Menko Luhut telah memberikan arahan kepada TNI/Polri untuk mencari lokasi marjinal di tiap daerah dan memastikan ketersediaan makanan khususnya beras untuk masyarakat yang betul-betul membutuhkan. Selain itu, Menteri Sosial juga telah mempersiapkan program bansos beras melalui Bulog sebesar 10 kg per penerima manfaat. Penyaluran bantuan dilakukan melalui jaringan Bulog yang tersebar di seluruh tanah air.
Dari keterangan Pak Dedy di atas, muncul harapan masyarakat untuk bisa menjalani masa PPKM darurat ini dengan tenang. Namun, benarkah masyarakat bisa tenang di rumah saja dengan pernyataan tersebut? Mari kita lihat realitasnya.
Program Bansos kali ini bukanlah program pertama yang dijalankan oleh Kementerian Sosial di republik ini. Namun, untuk yang kesekian kalinya pula masyarakat dikecewakan karena bantuan sosial yang diberikan tidak tepat sasaran. Ditambah lagi, diketahui bahwa Bansos di tengah pandemi ini pernah dikorupsi oleh menteri dan pihak terkait. Bagaimana mungkin masyarakat bisa percaya sepenuhnya bahwa mereka akan mendapatkan bantuan, karena apa yang sudah terjadi tidak sesuai dengan harapan masyarakat.
Selama ini, pemerintah hanya memberikan janji tanpa bukti. Namun yang lebih menyedihkan lagi, dikorupsi. Sudahlah bantuan yang diberikan tidak seberapa nilainya dan tidak tepat sasaran, dikorupsi pula. Habis sudah kepercayaan masyarakat. Terlalu sering masyarakat diberikan janji manis namun kenyataannya pahit.
Dalam sistem kapitalisme yang menjadikan sekularisme sebagai landasan membuat kebijakan yang mengatur kehidupan masyarakat, mengumbar janji dilakukan untuk membangun citra positif. Pemisahan agama dari kehidupan menjadikan seseorang bebas melakukan apa saja tanpa rasa takut berdosa. Mengingkari janji, korupsi bahkan bertindak zalim (tidak adil), menjadi sesuatu yang biasa.
Berbeda halnya dengan sistem Islam yang menjadikan Akidah Islam sebagai landasan dalam setiap perbuatan. Keimanan yang benar kepada Allah Swt.akan memunculkan kesadaran untuk terikat dengan hukum-hukum yang telah Allah tetapkan.
Hal ini telah dicontohkan oleh Rasulullah Saw. Beliau sebagai pemimpin masyarakat Madinah setiap pagi pergi ke pasar memberi makan seorang pengemis Yahudi. Dengan kesabarannya, beliau menyuapkan makanan ke mulut orang Yahudi tersebut. Beliau tidak pernah mengumumkan program hariannya ini kepada para sahabatnya dan meminta mereka untuk meneruskannya. Hanya istri beliau, Aisyah yang mengetahui kebiasaan ini. Abu Bakar ash-Shiddiq merupakan sahabat terdekat Rasulullah Saw. sekaligus mertuanya yang meneruskan kebiasaan beliau setelah beliau wafat. Abu bakar mengetahui kebiasaan Rasulullah Saw. dari anaknya, Aisyah.
Pada masa Umar bin Khattab ketika terjadi wabah, beliau menetapkan kebijakan “lockdown” serta memberikan kebutuhan pokok dan obat-obatan kepada masyarakat yang terkena wabah. Ketika musim kekeringan terjadi pada saat kepemimpinannya, Umar bin Khattab melayani masyarakat perkampungan yang datang ke Madinah dan menyediakan dapur-dapur umum untuk memenuhi kebutuhan mereka. Beliau sendiri ikut memasakkan makanan untuk masyarakat. Khalifah Umar mendahulukan makanan untuk masyarakat daripada dirinya sendiri. Umar tidak makan lemak, susu maupun makanan yang dapat membuat gemuk hingga musim paceklik ini berlalu.
Para khalifah kaum muslimin yang ada selama kurang lebih 13 abad, selalu meneladani kepemimpinan Nabi Muhammad Saw. Meskipun pada akhir kekhilafan Islam terjadi penyimpangan-penyimpangan penerapan Islam, tetapi kejujuran para khalifah tidak pernah diragukan.
Begitu pula dengan pengorbanan mereka untuk rakyat. Hal ini dikarenakan keimanan yang benar terpatri pada mereka. Keimanan yang benar akan membimbing seseorang pada ketaatan kepada Allah Swt.
Allah Swt. berfirman:
“Sesungguhnya orang-orang mukmin yang sebenarnya adalah mereka yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu, dan mereka berjihad dengan harta dan jiwanya di jalan Allah. Mereka itulah orang-orang yang benar.” (TQS. Al-Hujurat [49]: 15)
“Dan tidaklah pantas bagi laki-laki yang mukmin dan perempuan yang mukmin, apabila Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu ketetapan, akan ada pilihan (yang lain) bagi mereka tentang urusan mereka. Dan barang siapa mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, maka sungguh, dia telah tersesat, dengan kesesatan yang nyata.” (TQS. Al-Ahzab [33]: 36)
Rasulullah Saw. telah mencontohkan cara menghilangkan kelaparan sebagai salah satu ciri kemiskinan. Beliau melakukan beberapa hal, di antaranya:
- Menjelaskan pemahaman yang benar mengenai rezeki dan tawakal.
- Memotivasi masyarakat untuk bekerja.
- Memberikan pekerjaan kepada seseorang sesuai dengan keahliannya.
- Menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok orang-orang yang lemah tanpa keluarga dengan pemeliharaan negara khilafah melalui dana Baitul mal.
- Melakukan pengawasan terhadap penggunaan dana Baitul mal sehingga dapat diketahui kesalahan maupun kecurangan dalam penggunaannya.
- Menerapkan hukum dengan adil.
Demikianlah Islam hadir sebagai rahmat bagi seluruh alam ketika aturannya diterapkan secara keseluruhan.
Allah Swt berfirman:
“Dan Kami tidak mengutus engkau (Muhammad) melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi seluruh alam.” (TQS. Al-Anbiya [21]:107)
“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi ternyata mereka mendustakan (ayat-ayat Kami), maka Kami siksa mereka sesuai dengan apa yang telah mereka kerjakan.” (TQS. Al-A’raf [7]: 96).
Wallahu a’lam bisshowab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






