Opini

Ledakan Plumpang Akibat Semrawut Tata Kelola

Oleh karena itu harus ada sistem alternatif yang mampu melakukan mitigasi akurat, melindungi seluruh rakyat tanpa terkecuali.


Oleh Mia Annisa
(Member Pena Perjuangan)

JURNALVIBES.COM – Jumat, 3 Maret 2023, depo Pertamina di Plumpang, Koja Jakarta Utara meledak akibat ledakan pipa gas BBM di lahan Pelindo yang memakan korban jiwa 15 orang meninggal dunia, 49 orang mengalami luka-luka serius dan menyebabkan ratusan orang mengungsi.

Dilansir dari Detiknews, depo Pertamina Plumpang yang berdiri sejak tahun 1974 ini merupakan terminal BBM menyuplai 20% kebutuhan harian di Indonesia atau sekitar 25% dari total BBM Pertamina berjarak sekitar 20 meter dari pemukiman warga.

Kondisi ini yang menjadi sorotan para ahli melihat jarak antara depo Pertamina Plumpang dengan pemukiman warga sangat dekat menyebabkan kebakaran sulit teratasi dengan cepat dan korban yang berjatuhan menjadi lebih banyak. Ini seperti apa yang disampaikan oleh Peneliti Utama Puslitbangtek Migas 1985-2015, Oberlin Sidjabat di CNBC Indonesia dalam program ‘Profit’, Senin, 6 Maret 2023. Dengan melakukan buffer zone paling tidak sejauh 1 km dari pemukiman warga. Selain itu alangkah baiknya terminal BBM terletak di pesisir pantai dekat dengan pelabuhan dan kapal-kapal pengangkut BBM.

Mitigasi Depo BBM

Di Indonesia sendiri bagaimana standar keamanan Depo BBM di bangun belum memiliki aturan yang jelas. Berapa jarak aman Depo BBM didirikan misalnya dengan perkantoran atau dengan pemukiman warga di sekitarnya. Jjika membandingkan dengan negara tetangga, Malaysia memiliki beberapa pedoman dengan menetapkan buffer zone melalui tiga mekanismenya yaitu Primary Buffer Zone, Secondary Buffer Zone, dan Overall Buffer Zone. Mereka sudah memiliki gambaran seperti apa mitigasi yang aman antara pemukiman warga dengan area Industri. Paling tidak harus tersedia jalan yang cukup lebar, drainase, sungai, area khusus konservasi, danau, hutan, lapangan terbuka, dan sebagainya.

Tujuannya adalah mitigasi. Bagaimana caranya mengurangi dampak bencana ke depannya nanti. Inilah yang tidak disadari hari ini. Warga justru dibiarkan tinggal di sekitar depo Plumpang dengan segenap legalisasi yang diberikan dengan pembentukan RT, RW dan pemberian KTP. Sehingga wilayah semakin berkembang. Ibarat kata mereka tidur di tengah jalan namun malah diijinkan. Padahal bahaya sedang mengintai mereka akibat abainya negara dalam menyediakan tempat tinggal yang aman dan nyaman.

Ledakan Plumpang Semrawut Tata Kelola

Musibah ini menunjukkan adanya kesalahan tata kelola kependudukan dan kota. Jika permasalahannya karena lahan/wilayah yang semakin menyempit. Indonesia memiliki kekayaan alam dan wilayah yang luas untuk diberdayakan oleh warganya sekalipun mesti bertaruh anggaran untuk memberikan tempat tinggal dan lapangan pekerjaan. Sayangnya negara saat ini selalu hitung-hitungan jika itu berkaitan dengan kepentingan rakyatnya karena menerapkan sistem kapitalisme.

Padahal dalam Islam keselamatan rakyat adalah yang utama. Penguasa merupakan pihak yang diberi tanggung jawab untuk menjaga keselamatan rakyat. Sebagaimana sabda Nabi saw. “Seorang Imam adalah pemelihara dan pengatur urusan rakyat, ia akan dimintai pertanggungjawaban terhadap rakyatnya”. (HR. Bukhari-Muslim)

Dalam hal ini negara akan memetakan wilayah mana yang boleh dijadikan pusat industri, lahan pertanian dan perkebunan serta wilayah mana yang boleh ditinggali berdasarkan aspek kemaslahatan dan sisi sains. Di wilayah industri negara akan memberlakukan buffer zone untuk membatasi pemukiman dan area Industri sebagai bentuk mitigasi.

Kehebatan Islam dalam tata kelola kota pernah dibuktikan sekitar 1.300 tahun yang lalu. Cordova misalnya negara membagi kota menjadi tiga area yaitu pusat kota, pinggir kota dan luar kota. Area luar kota inilah yang nantinya akan dijadikan sebagai pemukiman warga terpisah dengan pinggir kota yang dijadikan sebagi kota industri dan perdagangan. Sehingga warga terjamin keamanannya. Namun semua ini mustahil terwujud dalam sistem kapitalis sekuler saat ini.

Oleh karena itu harus ada sistem alternatif yang mampu melakukan mitigasi akurat, melindungi seluruh rakyat tanpa terkecuali. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by bing.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button