Refleksi Hari Guru: Patutkah Merayakan Rusaknya Generasi Buah Merdeka Belajar

Sebagai pendidik harus teliti dan wara’, selektif dalam menerima dan menyampaikan informasi dalam pembelajaran serta harus bisa mengembangkan potensi anak didiknya. Serta menjadikan Rasulullah saw. sebagai suri tauladan dalam memberikan pendidikan dan pengajarannya
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Setiap tanggal 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional karena HGN dianggap mempunyai kaitan erat dengan perjuangan guru-guru di Indonesia pada masa lalu.
Seperti yang dilansir tirto.id (13/11/2023), peringatan hari guru pada tahun 2023 ini jatuh pada hari Sabtu (25/11/2023). Tahun ini tema yang diusung adalah “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar”. Dari tema yang disampaikan lewat Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional 2023 ini berkaitan dengan kurikulum merdeka, dimana kurikulum tersebut dibuat untuk mewujudkan SDM Unggul Indonesia yang mempunyai profil pelajar pancasila.
Sebagaimana yang ditulis di Pedoman Peringatan Hari Guru Nasional di kemdikbud.go (26/10/2023), peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Sejak masa penjajahan, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat.
Pada tahap awal kebangkitan nasional, para guru aktif dalam organisasi pemuda pembela tanah air dan pembina jiwa serta semangat para pemuda pelajar.
Di dalam Undang-undang Nomor 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen menegaskan bahwa guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar dan pendidikan menengah.
Jadi guru merupakan salah satu faktor yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk masa depan bangsa. Sebagai penghormatan kepada guru, pemerintah Republik Indonesia melalui Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994, menetapkan tanggal 25 November selain sebagai HUT PGRI juga sebagai Hari Guru Nasional (HGN). Untuk memperingati momentum yang berharga ini, Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi telah memberikan berbagai apresiasi terhadap dedikasi guru.
Dengan mengusung tema “Bergerak Bersama Rayakan Merdeka Belajar” di hari guru 2023 ini menjadi pertanyaan, mengingat berbagai realita generasi yang sarat berbagai masalah serius. Mulai dari kriminalitas, kesehatan mental bahkan hingga tingginya angka bunuh diri menjangkiti generasi hari ini. Hal ini menunjukkan kurikulum yang diterapkan saat ini tidak tepat dan banyak permasalahan. Ini menegaskan bahwa sistem kapitalis tidak memiliki sistem untuk bisa membangun generasi yang berkualitas.
Kurikulum merdeka membuat dunia pendidikan semakin sekuler kapitalistik, yang berakibat membuat pendidikan bermuara pada hal yang keliru. Kurikulum merdeka dengan proses pembelajaran yang dibuat bebas dan menyenangkan agar proses pembelajaran lebih membahagiakan, tidak menghasilkan output sesuai misi pendidikan yang diharapkan. Kurikulum ini hanya fokus pada materi esensial yang berasaskan kapitalis, bahwa standar keberhasilan pendidikan diukur dengan banyaknya lulusan yang terserap di dunia kerja.
Pada akhirnya yang menjadi target tujuan pendidikan bukanlah mendapatkan ilmu pengetahuan, tetapi bagaimana caranya mendapatkan nilai yang tinggi untuk bisa diterima di dunia kerja. Dalam kurikulum merdeka pendidikan dirancang sebagai pencetak tenaga kerja untuk kepentingan industri sebagai penggerak ekonomi dan bisnis.
Kurikulum merdeka dibuat untuk meningkatkan keterserapan di dunia kerja dan menguatkan link and match dengan industri. Sehingga menjadikan anak didik terpacu untuk mendapatkan nilai yang tinggi. Bahkan dengan cara apapun ditempuh agar bisa mendapatkan nilai yang tinggi. Dari mulai kecurangan hingga ketidakjujuran, mereka lakukan demi mendapatkan nilai yang sempurna.
Apabila nilai tidak memenuhi target dan harapan, bisa berakibat stres sampai melakukan bunuh diri. Dengan adanya kurikulum merdeka yang semakin tidak jelas ini, visi misi tujuan pendidikan tidak jelas mau dibawa kemana. Hal ini juga berakibat menjadikan generasi semakin rusak tidak tahu tujuan hidupnya, maka patut kah diperingati hari guru setiap tahunnya.
Berbeda sekali dengan pendidikan dalam Islam yang bertujuan untuk kemaslahatan seluruh umat dan bukan untuk segelintir orang. Kurikulum pendidikan dalam Islam disusun untuk membekali lulusannya dengan ilmu-ilmu terapan yang dibutuhkan masyarakat.
Dengan adanya perkembangan teknologi bukan hanya sekadar kemajuan yang bernilai materi, tetapi bertujuan untuk memenuhi kebutuhan dan kemaslahatan masyarakat. Kurikulum dibuat untuk menyesuaikan terhadap kebutuhan masyarakat, bukan keinginan dan kehendak pihak korporasi atau pebisnis.
Jadi urgensi pendidikan dalam Islam dikembalikan kepada syariat Islam keseluruhan, agar pendidikan kembali kepada khithahnya dan manusia bisa meraih kemuliaan.
Islam memiliki sistem pendidikan yang berkualitas dengan berasas pada akidah dalam membentuk syakhsiyah islamiyyah. Tujuannya adalah untuk membentuk keimanan yang kokoh dan menguasi ilmu-ilmu keislaman pada setiap individu agar mempunyai ketakwaan kepada Allah Swt.
Islam sebagai kepemimpinan berpikir harus didakwahkan, agar terbentuk kepribadian Islam yang bisa menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi untuk bekal kehidupan.
Kurikulum dalam Islam dilandaskan pada akidah Islam yang mempunyai muatan mabda Islam. Tsaqafah Islam sebagai dasar pembelajaran diajarkan dari tingkat dasar sampai perguruan tinggi. Konsep dari pendidikan Islam adalah sebagai pengemban dakwah Islam yang menjadikan Islam sebagai kepemimpinan berpikir.
Sebagai pendidik harus teliti dan wara’, selektif dalam menerima dan menyampaikan informasi dalam pembelajaran serta harus bisa mengembangkan potensi anak didiknya. Serta menjadikan Rasulullah saw. sebagai suri tauladan dalam memberikan pendidikan dan pengajarannya.
Semua itu perlu adanya keterpaduan antara tiga pilar, yaitu keluarga, masyarakat dan negara untuk bisa menjamin keberhasilan dalam pembentukan generasi yang berkualitas. Dari keluargalah yang akan memunculkan generasi yang bermartabat, dengan pendidikan Islam maka akan tercipta keluarga yang penuh kasih sayang dan suka saling tolong menolong dan jugatercipta keluarga yang harmonis yang akan terwujud tatanan kehidupan masyarakat yang kuat.
Dalam masyarakat juga diterapkan syariat Islam yang akan tercipta tatanan masyarakat yang baik, damai dan sejahtera dengan menerapkan hukum-hukum Islam demi untuk mendapatkan rida Allah Swt. Namun hal ini juga perlu peran negara untuk menyediakan pendidikan islami yang berkualitas, semurah mungkin bahkan gratis.
Dengan demikian maka akan bisa menguatkan tekad dan bergandeng bersama untuk bisa mengembalikan tegaknya aturan Islam, dengan menerapkan kurikulum pendidikan Islam sehingga akan tercapai kebahagiaan hakiki dalam kehidupan keluarga, masyarakat, dan negara. Dan semua itu hanya bisa terwujud dengan penerapan Islam kafah secara keseluruhan dalam kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






