Lingkaran Pemuda di Hari Pahlawan

Dengan Islam pemuda mampu menjadi pengubah masa depan, penjaga peradaban serta menjaga negara dari para penjajah. Baik penjajah secara fisik, menjajah sumber daya alam, maupun penjajahan dalam bentuk pemikiran dan life style.
Oleh Rhany
(Pemerhati Remaja Andoolo)
JURNALVIBES.COM – Hari Pahlawan adalah momen yang spesial, di mana kita mengenang para pahlawan yang berjasa untuk kemerdekaan bangsa berkorban dengan tenaga, harta, bahkan jiwa.
Dilansir dari Kompas.com (9/11/2022) penetapan 10 November sebagai Hari Pahlawan berkaitan dengan pertempuran yang pecah di Surabaya pada 10 November 1945. Pertempuran di Surabaya menjadi salah satu perang terbesar dan tersulit yang pernah dihadapi para pejuang Indonesia melawan pasukan sekutu.
Agus Sunyoto dalam bukunya Fatwa dan Resolusi Jihad: Sejarah Perang Rakyat Semesta di Surabaya 10 November 1945 menyebutkan bahwa hal ini selengkapnya disebut dengan resolusi jihad fi sabilillah dan fatwa jihad sabilillah. Hal ini ditandai dengan datangnya Tmtentara Inggris pimpinan Brigadir Jenderal A.W.S. Mallaby, yang menjadi buah dari agresi militer Belanda II. Fatwa jihad yang dibawa oleh KH Hasyim Asy’ari, “Berperang menolak dan melawan penjajah itu fardlu ’ain yang harus dikerjakan oleh tiap-tiap orang Islam (tempo.co, 21/2021).
Jika kita membaca sejarah ke belakang akan kita dapati semangat para pahlawan berkobar manakala dimotori keinginan berjuang di jalan Allah dengan Jihad di jalan Allah Swt. Mereka meyakini bahwa mengusir para penjajah yang bercokol di negeri ini adalah salah satu jihad yg paling utama dan merupakan bagian syariat Allah yang harus ditegakkan.
Hari Pahlawan mengajarkan kita arti penting berjuang dan menjaga tanah air yang sesungguhnya dengan tidak mengeploitasi sumber daya alam kepada antek penjajah. Jihad seperti inilah yang harus ada tiap diri pemuda. Bukan hanya sekadar slogan dan jargon gorengan yang terus diperdagangkan, “Saya pancasila, Saya NKRI, Radikal-radikul. Tapi justru sebaliknya yang aktif menyuarakan malah kena OTT, menjual negeri ini.
Bukan hanya itu, rupanya penguasa di negeri ini terkena islamohobia. Buktinya materi pelajaran sekolah jihad dan khilafah harus dihilangkan karena ditafsirkan penyebab timbulnya paham radikal. Padahal yang memotivasi para pahlawan untuk berperang mengusir penjajah adalah makna jihad perang itu sendiri.
Namun kini yang terjadi, tampak adanya upaya untuk mengkriminalisasi sejumlah ajaran Islam hingga menimbulkan ketakutan kepada pemuda untuk kembali pada syariat Islam kafah. Tapi sebaliknya para pemuda menjadi apatis dan takut mengkaji agamanya sendiri dan disuguhkan dengan banyak konten unfaedah bahkan didominisi konten sampah minim edukasi.
Hari pahlawan juga diperingati hanya mengingat peristiwa tanggal dan menghafal nama tokoh, tidak mampu menggerakkan serta mengubah negeri ini agar menjadi lebih baik.
Tentu sikap pemuda hari ini dipengaruhi oleh sistem yang diterapkan di tengah-tengah mereka. Sehingga berakibat pada penurunan kualitas berpikir dan jiwa mereka. Jangankan mau berjuang melawan penjajah, yang ada mereka disibukkan dengan diri mereka sendiri. Sikap yang ditanamkan pada mereka sikap individualisme yang lahir dari rahim sistem kapitalisme sekular.
Padahal sejatinya sebagai pemuda Muslim, harus memiliki standar dalam kehidupan sebab akan menentukan tata cara berpikir dan bersikap mereka.Tentu standar itu ada pada Islam yaitu pola pikir Islam dan pola sikap islami, dan akan menghasilkan kepribadian islami. Karena pemuda yang senantiasa terikat dengan Islam adalah pemuda yang Allah Swt. cintai.
Rasulullah saw. bersabda, “Ada tujuh golongan yang Allah naungi dalam naungan-Nya pada hari tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, … pemuda yang tumbuh dalam ibadah pada Allah.” (HR Al-Bukhari).
Maka, dengan Islam pemuda mampu menjadi pengubah masa depan. Menjadi penjaga peradaban serta menjaga negara dari para penjajah. Baik penjajah secara fisik, menjajah sumber daya alam, maupun penjajahan dalam bentuk pemikiran dan life style.
Seperti inilah karakter sesungguhnya pemuda, yakni menjadi tongkat estafet kepemimpinan. Sebagaimana dahulu pernah dicontohkan oleh para pemuda kita di masa silam dan di masa kejayaan Islam. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






