Opini

Perempuan dan Solusi Perekonomian

Islam memiliki mekanisme agar nafkah bagi perempuan juga anak-anak terpenuhi secara sempurna. Saat perempuan belum menikah, maka ayahnya, walinya lah yang dibebankan kewajiban untuk memenuhi nafkahnya. Saat sudah menikah, maka suaminya lah yang berkewajiban mencari nafkah.


Oleh Fatimah Azzahra, S.Pd.

JURNALVIBES.COM – “Perempuan adalah pahlawan ekonomi”

Begitulah yang digaungkan oleh sistem saat ini. Mereka mengangkat peran perempuan dalam ranah ekonomi demi mengentaskan kemiskinan yang terjadi. Pertanyaannya, mengapa harus perempuan? Apakah ada hubungan antara perempuan dengan kemiskinan?

UMKM dan Perempuan

Saat pidato pada event KTT G20 di La Nuvola Italia, presiden Jokowi mengungkapkan bahwa beliau ingin supaya negara-negara G20 mendorong penguatan peran UMKM dan perempuan melalui berbagai aksi nyata. Salah satunya, meningkatkan inklusi keuangan UMKM dan perempuan. (Kompas.com, 31/10/2021)

Dilansir dari laman cnnindonesia (31/10/2021), Indonesia mengalokasikan US$17,8 miliar untuk Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan lebih dari 2,4 juta pengusaha perempuan telah menerima bantuan tersebut. Indonesia juga mendukung transformasi ekonomi UMKM melalui digitalisasi. E-commerce menjadi salah satu penggerak ekonomi Indonesia di masa pandemi dengan nilai yang akan mencapai US$24,8 miliar pada tahun ini.

Data mencatat hasil atas kebijakan yang sudah dijalankan pemerintah, yakni pertumbuhan angka perekonomian, penurunan angka kemiskinan dan pengangguran, juga pertumbuhan nilai ekspor. Dengan demikian, pemerintah menilai berhasil atas penggenjotan peran perempuan dalam dunia perekonomian. Benarkah demikian?

Jebakan UMKM

Semakin banyaknya perempuan yang terjun langsung menghidupkan perekonomian keluarga. Atas nama pemberdayaan ekonomi perempuan, pemerintah juga lembaga internasional mengapresiasinya. Padahal sejatinya program ini dibangun atas nama gender equality dan bentuk pelepasan tanggung jawab negara atas pengurusan rakyatnya.

Kemuliaan dan kesuksesan perempuan kini diukur dengan standar penghasilan materi. Perempuan dianggap produktif dengan sejumlah nominal. Semakin tinggi insentif, dikatakan makin produktif. Sementara ibu rumah tangga dicap tidak produktif kala tidak memiliki penghasilan materi. Bahkan dilabeli beban bagi perekonomian keluarga.

Kapitalisme memaksa perempuan keluar dari fitrahnya di rumah sebagai ummu wa rabbatul bayt dan ummu ajyal. Perempuan dipaksa membiayai hidupnya sendiri, menopang finansial keluarganya. Sementara bahaya baru mengintai mereka, terabaikannya kualitas generasi yang pemerintah pun alpa akan pengurusannya.

Di lain pihak, negara malah mengobral kekayaan negara yang melimpah pada korporat swasta dan asing atas nama keramahan investasi. BUMN pun pailit di sana-sini, karena keliru dalam pengelolaan ala kapitalis. Inilah kegagalan nyata penerapan sistem kapitalis. Kemiskinan merajalela hingga rakyat, khususnya perempuan dijadikan tumbalnya.

Bukannya menjadi solusi, pemberdayaan ekonomi perempuan justru menimbulkan ancaman baru yang nyata bagi generasi juga institusi keluarga. Inilah ciri khas kapitalisme yang justru solusinya malah menambah masalah lainnya.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam memposisikan perempuan sebagai ibu dan pengurus rumah tangga. Dari rahimnya lahir generasi penerus yang berkualitas. Ia dimuliakan dengan kehidupan di dalam rumah. Sementara kewajiban mencari nafkah dibebankan pada suami dan walinya.

Islam mendukung perempuan untuk menuntut ilmu. Islam memperbolehkan perempuan berkiprah di ranah publik tanpa melalaikan kewajibannya di ranah domestik. Dengan catatan bekerja bukan untuk mencari nafkah, meski untuk dirinya sendiri. Tapi untuk kemaslahatan umat.

Karena Islam memiliki mekanisme agar nafkah bagi perempuan juga anak-anak terpenuhi secara sempurna. Saat perempuan belum menikah, maka ayahnya, walinya lah yang dibebankan kewajiban untuk memenuhi nafkahnya. Saat sudah menikah, maka suaminya lah yang berkewajiban mencari nafkah.

Jika perempuan sudah tidak memiliki ayah, suami, maupun saudara kandung laki-laki, maka pemenuhan nafkahnya dibebankan pada kerabat dekatnya yang memiliki kelebihan harta. Jika tidak ada juga, maka beban pemenuhan nafkahnya menjadi kewajiban negara, yakni melalui baitul maal.

Di lain pihak, dalam Islam negara akan menerapkan ekonomi syariah dengan pemasukan yang melimpah ruah. Apalagi Allah telah anugerahkan SDA yang luar biasa banyak di negeri-negeri Muslim. Dengan penerapan ekonomi syariah, negara berkewajiban memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya baik sandang, pangan, papan, pendidikan, dan kesehatan juga keamanan per individu, termasuk perempuan.

Allah pun berjanji akan menurunkan berkah dari langit dan bumi jika kita beriman dan bertakwa pada-Nya. Bentuk keimanan dan ketakwaan kita adalah dengan menerapkan semua aturan yang datang dari Allah Swt. menjalankan semua perintah-Nya, menjauhi semua larangan-Nya.

“Dan sekiranya penduduk negeri beriman dan bertakwa, pasti Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi.” (TQS. Al A’raf: 96)

Jangan mau jadi tumbal kapitalisme. Jangan mau dibohongi dengan slogan pahlawan ekonomi. Mari kembali pada solusi hakiki yang memuliakan perempuan, yakni penerapan Islam secara paripurna. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button