Pengangguran Merajalela, di Mana Peran Negara?

Dalam Islam negara akan memenuhi segala hal yang dibutuhkan untuk mempermudah rakyat mendapatkan pekerjaan, baik pendidikan, pelatihan kerja, maupun menyediakan segala fasilitas penunjang yang terbaik.
Oleh Imroatus Sholeha
(Freelance Writer)
JURNALVIBES.COM – Pengangguran masih menjadi problem kompleks di negeri ini. Padahal dilihat dari banyaknya sumber daya alam di Indonesia harusnya mampu menciptakan banyak lapangan kerja, namun faktanya jauh panggang dari api.
Menurut data Badan Pusat statistik (BPS), jumlah pengangguran di Indonesia mencapai 8,4 juta orang pada Agustus 2022, porsinya 5,86% dari total angkatan kerja nasional. Pengangguran paling banyak berasal dari kelompok usia 20-24 tahun, yakni 2,54 juta orang. Angka ini setara 30,12% dari total pengangguran nasional. (katadata.com, 12/01/2023).
Tingginya angka pengangguran ini juga berbanding lurus dengan kurangnya jumlah lowongan kerja dibandingkan jumlah para pencari kerja. Pada tahun 2020 Badan Pusat Statistik (BPS) DKI Jakarta mencatat, jumlah pencari kerja terdaftar sebanyak 15,6 ribu orang. Sedangkan, jumlah lowongan kerja terdaftar hanya 14,6 ribu.
Tingginya angka pengangguran tentu berpengaruh pada kelangsungan hidup masyarakat khususnya sektor ekonomi. Di saat biaya hidup kian mahal sedangkan pekerjaan tak kunjung ada tentu menjadi dilema besar.
Adapun faktor yang mempengaruhi tingginya angka pengangguran diantaranya ketimpangan antara pencari kerja dan ketersediaan lapangan pekerjaan, di mana lebih banyak para pencari kerja dibandingkan lowongan pekerjaan yang ada, alhasil dari tahun ke tahun angka pengangguran terus meningkat.
Upaya yang dilakukan pemerintah melalui pelatihan kerja juga tidak berdampak besar, sebab tak sedikit pula lulusan SMK yang menjadi pengangguran. Faktor berikutnya ialah kurangnya skill atau kemampuan yang mumpuni dalam bidang pekerjaan.
Kemudian persaingan bisnis di mana yang lebih kuat mencaplok yang lemah sebut saja fakta di lapangan keberadaan perusahaan yang memiliki modal yang lebih besar mempengaruhi pedagang yang memiliki modal lebih kecil sebab orang lebih memilih berbelanja di tempat yang lebih lengkap akibatnya tak lama gulung tikar dan menjadi pencari kerja yang menambah angka pengangguran.
Faktor yang tak kalah penting adalah pengelolaan sumber daya milik umum yang bebas di kelola oleh swasta, sehingga lapangan pekerjaan tergantung pada para pengusaha bukan penguasa. Sementara watak pengusaha pada sistem Kapitalis adalah mencetak keuntungan sebesar-besarnya dan mengeluarkan modal seminim mungkin hal ini tentu berdampak pada minimnya penyerapan tenaga kerja.
Inilah watak asli sistem kapitalisme yang membawa kerusakan di setiap sisi kehidupan, landasan kehidupan berpusat pada keuntungan materi belaka. Menciptakan manusia individualis yang hanya mementingkan kepentingan pribadi atau kelompoknya. Segala cara dilakukan tanpa memandang nilai agama sebab agama telah dipisahkan dari kehidupan.
Berbeda dengan Islam yang mengatur kepemilikan umum tidak boleh di kuasai oleh swasta maupun negara. Berdasarkan hadis Rasullulah saw. :
“Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api”. (HR. Abu Dawud dan Ahmad)
Dengan pengelolaan sumber daya alam yang secara penuh di kelola oleh negara sebagai bentuk ri’ayah terhadap umat maka berpeluang banyak menciptakan lapangan pekerjaan. Terlebih jika ditunjang dengan teknologi dan sumber daya manusia yang mumpuni mampu mengolah Sumber-sumber daya alam mulai dari yang mentah hingga siap pakai hal ini tentu mampu menyerap tenaga kerja melimpah.
Oleh karena itu negara akan memenuhi segala hal yang dibutuhkan untuk mempermudah rakyat mendapatkan pekerjaan, baik pendidikan, pelatihan kerja, maupun menyediakan segala fasilitas penunjang yang terbaik. Semua kebutuhan itu harus di permudah bahkan disediakan secara gratis sebab sudah menjadi tanggung jawab penguasa memastikan segala kebutuhan rakyat terpenuhi. Sumber keuangan negara dalam Islam memiliki banyak pemasukan tidak seperti saat ini yang hanya mengandalkan pajak dan utang luar negeri sehingga sulit menjamin kesejahteraan rakyat, ditambah para penguasa yang doyan korupsi semakin menambah penderitaan.
Selain itu penguasa dalam Islam wajib menyediakan lapangan pekerjaan sebagai wasilah menjalankan kewajiban kepada Allah Swt. terutama bagi para suami. Sebab penguasa akan dimintai pertanggung jawaban di sisi Allah Swt. dan penguasa yang benar-benar meri’ayah rakyat dengan baik lahir dari sistem yang sempurna dan paripurna yakni Islam.
Sistem yang jika diterapkan dalam kehidupan akan mendatangkan rahmat bagi seluruh alam. Terbukti selama 13 abad Islam pernah menjadi pusat peradaban dunia yang melahirkan banyak ulama dan ilmuwan di berbagai bidang ilmu pengetahuan dan teknologi yang menjadi rujukan sampai saat ini. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by unsplash.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






