Gaza Kiblat Perjuangan dan Ketangguhan Kaum Muslimin

Tragedi di Gaza tidak mungkin selesai hanya dengan kecaman dan diplomasi. Inilah saatnya kaum Muslim merangkul ketangguhan generasi di Gaza dengan Islam kafah yang dapat menyatukan kaum Muslim, menggerakkan kekuatan militer untuk membebaskan Palestina, sekaligus membina generasi dengan pendidikan qur’ani yang menanamkan ketangguhan sejak dini.
Oleh Juliana Najma
JURNALVIBES.COM – Selama 76 tahun, Palestina dijadikan medan kezaliman. Rakyat Palestina dipaksa hidup dalam pengusiran, kelaparan, penyiksaan, dan pembunuhan.
Sejak 7 Oktober 2023-15 September 2025 tercatat sebanyak 64.871 orang telah syahid di Gaza, 422 di antaranya syahid karena pelaparan sistematis yang dilakukan oleh zionis laknatullah (Al-Jazeera Media, 15-09-2025). Sampai saat ini, Muslim Gaza sedang terus bertarung nyawa baik dari serangan bom udara yang terus menghujani langit Gaza setiap waktu hingga pelaparan sistematis yang tak kalah mematikan.
Sejak 2 Maret 2025, Gaza diblokade total. Pintu Rafah dan Kerem Shalom ditutup tanpa celah. Truk-truk bantuan dari dunia internasional pun tertahan di perbatasan. Sebagian bantuan lainnya tertumpuk di gudang-gudang WFP (Program Pangan Dunia) di perbatasan Mesir dan Yordania.
Dengan berbagai alasan, militer zionis menarget warga Gaza yang mencoba mengakses bantuan. Pada Kamis (10/7/2025), ada 66 warga yang tewas, 8 di antaranya anak-anak. Mereka datang ke sebuah klinik di Deir el-Balah untuk mengantre suplemen gizi dan bantuan lainnya. Namun tiba-tiba sebuah drone datang dan menembaki mereka hingga banyak yang meregang nyawa bahkan tewas seketika.
Serangan udara lainnya dilaporkan juga terjadi di kamp Al-Bureij, Gaza Tengah. Beberapa orang tewas, dan sejumlah lainnya luka-luka. Di kota Rafah, tiga warga sipil, termasuk seorang perempuan, juga tewas akibat tembakan militer Zionis di dekat pusat distribusi bantuan. Mereka tahu bahwa mendekati pusat bantuan bisa jadi harus dibayar nyawa. Namun itulah satu-satunya cara yang memungkinkan mereka dan keluarga bisa punya makanan untuk bertahan di tengah keganasan genosida yang dilakukan zionis laknatullah.
Juru bicara Kantor Hak Asasi Manusia PBB menyebutkan, hingga 21 Juli, tercatat ada 1.054 orang tewas di Gaza saat berusaha mendapatkan makanan; 766 di antara mereka tewas di sekitar lokasi GHF dan 288 lainnya tewas di dekat konvoi bantuan PBB dan organisasi kemanusiaan lainnya. (BBC World Service, 23-7).
Situasi mengerikan ini terjadi sejak Zionis dan Amerika membatasi akses bantuan dengan dalih keamanan. Bahkan sampai detik ini, peristiwa genosida masih disiarkan live di depan mata kita secara terang-terangan. Bom, tembakan, kelaparan, kehancuran, pembakaran, pembunuhan, dan pengusiran terus berlangsung.
Kondisi Gaza hari ini begitu mengerikan dan mencekam. Kekejaman zionis dan pendukungnya telah membuat rakyat Palestina berjuang dengan darah, air mata, dan kehormatan selama 76 tahun. Zionis laknatullah menjadikan tumpahan darah dan air mata warga gaza terlihat seperti pertunjukan dan hiburan. Tidak pernah terbayangkan bahwa ada entitas sebrutal dan sebengis Israel di Gaza. Mereka berjenis manusia tapi karakternya melebihi binatang buas. Namun di sisi lainnya, rakyat gaza menolak tunduk, meski puluhan tahun dibombardir dan dipaksa hidup di penjara terbesar di dunia. Di tengah pelaparan sistemik yang terjadi di Gaza, para muslimah di Gaza telah terjun ke pusat-pusat bantuan yang berbahaya, mereka memosisikan diri di garda terdepan perjuangan demi mempertahankan diri dan kehidupan keluarganya. Mereka rela bertaruh nyawa setelah para suami, anak laki-laki, dan saudara mereka lebih dulu syahid dalam serangan genosida (musmilahnews, 03-09-2025).
Tak hanya itu, ketangguhan juga tercermin jelas dari para pemuda Gaza. Di tanah Gaza, dunia kembali menyaksikan lahirnya generasi yang ditempa dalam suasana perang yang tidak berimbang. Di tengah dentuman bom yang menghancurkan rumah, sekolah, hingga fasilitas kesehatan, di balik penderitaan akibat blokade yang melumpuhkan, bahkan ditengah kepedihan kehilangan keluarga, pemuda Gaza tetap teguh dengan cita-cita dan mimpinya. Mereka terus berpegang pada Al-Quran, tetap belajar, tetap berprestasi, dan tidak berhenti bercita-cita mempertahankan tanah suci mereka, Al-Quds.
Sementara itu, di negeri-negeri kaum Muslim yang lainnya terlihat fenomena yang jauh berbeda. Generasi Muslim yang hidup di bawah rasa aman dan nyaman ini, justru menjadi generasi dengan kondisi psikologi yang rapuh. Demi menanggung tekanan ekspektasi yang menjerat. Banyak pemuda masa kini yang tampak baik-baik saja, namun sebenarnya sedang berjuang keras menghadapi stress, tekanan sosial, dan tuntutan hidup. Tidak sedikit yang akhirnya jatuh pada depresi.
Realita ini menunjukkan, sistem kapitalisme gagal membentuk generasi yang tangguh. Sebaliknya justru melahirkan jiwa-jiwa rapuh yang mudah runtuh.
Allah Swt. berfirman, di dalam Al-Quran, Surat An-Nisa ayat 175, yang artinya “Adapun orang-orang yang beriman kepada Allah dan berpegang teguh kepada (agama)-Nya, maka Allah akan memasukkan mereka ke dalam rahmat dan karunia dari-Nya (surga), dan menunjukkan mereka jalan yang lurus kepada-Nya.”
Rasulullah juga bersabda dalam hadis riwayat Muslim dan lainnya “Aku telah meninggalkan kepada kamu dua perkara. Kamu tidak akan sesat selama berpegang teguh kepada keduanya, (yaitu) Kitabullah dan Sunnah Rasul-Nya.” Hadist ini diriwayatkan oleh Imam Malik, Al-Hakim, dan Muslim, dengan jelas menyatakan bahwa berpegang pada Al-Qur’an dan sunah adalah jaminan dan kunci untuk menjalani kehidupan yang lurus menuju rahmat dan karunia Allah Swt.
Rahasia keteguhan generasi Muslim di Gaza terletak pada pendidikan yang mereka terima. Meski berada dalam situasi perang yang mencekam, keluarga dan masyarakat tetap mempersiapkan anak-anak sebagai generasi penjaga Al-Aqsa. Orang tua hingga kakek-nenek mengajarkan Al-Qur’an, menyampaikan sejarah perjuangan Islam, dan menanamkan kesadaran politik akan pentingnya membebaskan tanah suci.
Para orang tua di Gaza begitu yakin dan menyadari bahwa generasi muda adalah aset berharga untuk melanjutkan jihad hingga meraih kemenangan. Karena itu, belajar dan terus mencari ilmu adalah bagian dari perjuangan, bukan sekadar rutinitas. Mereka menjadikan setiap rumah di Gaza sebagai benteng jihad, setiap jiwa adalah pejuang, dan setiap anak adalah calon mujahid. Inilah hasil dari pendidikan qur’ani yang melahirkan pribadi islam dengan kesadaran hidup adalah mengabdi kepada Allah dan menjaga kehormatan umat.
Di sisi lain, di negeri-negeri kaum Muslim yang berada dalam naungan sistem sekuler, istana para raja justru menjadi benteng kompromi, tempat menyusun perjanjian dengan penjajah yang terang-terang menyerang Gaza. Rakyatnya pun banyak yang kehilangan arah. Di bawah arus liberalisme dengan gaya hidup materialistik, dan standar kesuksesan kapitalistik, generasi muslim telah terjerumus pada kecemasan yang tak berkesudahan. Batinnya rapuh dan gamang.
Fenomena ini sejatinya lahir dari standar semu yang telah ditanamkan di benak kaum Muslim. Bahwa sukses diukur dengan harta, jabatan, dan gelar. Generasi muda tidak pernah diarahkan untuk memahami hakikat hidup. Mereka jauh dari keimanan, minim kesadaran politik, dan kehilangan visi hidup sebagai muslim. Tak heran, jika stress dan depresi makin marak melanda generasi.
Gaza seharusnya menjadi cermin bagi kaum Muslim di seluruh dunia. Dari Gaza kita belajar bagaimana dentuman dan bombardir itu telah melahirkan jiwa-jiwa setegar karang. Lalu kita juga harus bertanya, mengapa generasi muda yang hidup dalam suasana aman justru sangat rapuh dan mudah terbawa arus kehidupan yang jauh dari Islam? jawabannya terletak pada iman dan identitas. Generasi gaza paham siapa mereka, yakni hamba Allah dan penjaga Al-Aqsa, sekaligus bagian dari umat Islam yang dipanggil untuk berjihad.
Sementara itu, kaum Muslim saat ini banyak yang kehilangan jati diri. Mereka terjebak dalam standar hidup ala kapitalisme, mengejar tuntutan karier, dan status sosial, tanpa mengaitkannya dengan tujuan ibadah. Akibatnya hidup terasa hampa, penuh tekanan, dan kehilangan makna. Akar masalahnya terletak pada sistem sekuler kapitalis yang menjauhkan generasi dari iman. Islam kafah menawarkan jalan keluar dengan mengajarkan bahwa hidup adalah ibadah kepada Allah dan kesuksesan seorang muslim diukur atas ketaatan serta amal saleh.
Gaza bukan sekadar objek simpati, tetapi juga teladan perjuangan. Genarasi Gaza menunjukan bahwa keteguhan lahir dari kekuatan iman, bukan dari keadaan yang serba mudah. Di balik puing-puing Gaza, ada sosok-sosok mulia yang begitu teguh, menghadapi senjata penjajah yang serba canggih.
Para pejuang yang tetap berdiri, melawan dengan berani. Ketangguhan ini adalah pesan bagi seluruh kaum Muslim, meskipun Gaza dikepung dari segala arah, sedikitpun tak pernah mereka berpikir untuk menyerah. Mereka sadar mempertahankan Al-Quds bukan hanya pilihan, tapi amanah Allah dan konsekuensi dari keimanan. Semangat perjuangan dan kesadaran inilah yang harus dipahami oleh seluruh kaum muslimin.
Tragedi di Gaza tidak mungkin selesai hanya dengan kecaman dan diplomasi. Inilah saatnya kaum Muslim merangkul ketangguhan generasi di Gaza dengan Islam kafah yang dapat menyatukan kaum Muslim, menggerakkan kekuatan militer untuk membebaskan Palestina, sekaligus membina generasi dengan pendidikan qur’ani yang menanamkan ketangguhan sejak dini.
Dengan penerapan syariah Islam di bawah payung khilafah, generasi muda akan lahir sebagai generasi yang tangguh, umat pun akan kembali merasakan kemuliaan Islam yang menjadi rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by telegram.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






