Konflik Palestina Tak Selesai Umat Butuh Pemimpin Sebagai Perisai

Tidak adanya satu kepemimpinan membuat kaum Muslim di seluruh negeri tak memiliki perasaan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit, semua akan merasakan. Semakin terasa bahwa butuh adanya pemimpin yang bisa menjadi pengayom, pelindung, dan mengurusi rakyat.
Oleh Meitya Rahma
JURNALVIBES.COM – Seperti sudah langganan ketika Ramadan tiba, ulah Israel terhadap kaum Muslim selalu saja ada. Bak sebuah ritual, atau kebiasaan bagi mereka, jika tidak melakukan sabotase penyerangan mereka tidak puas.
Seperti baru-baru ini terjadi tentara Israel menembak seorang perempuan Palestina di dekat Betlehem, Tepi Barat, hingga akhirnya tewas pada Minggu (CNN.Indonesia.com,10/4/22).
Kementerian Kesehatan Palestina menyatakan, perempuan berusia 40-an tahun itu meninggal dunia di salah satu rumah sakit di Kota Beit Jala. Nyawa janda enam anak ini tak tertolong karena kehilangan banyak darah terkena timah panas tentara Israel (cnn.indonesia.com,11/04/2022)
Seperti dilansir AFP, tentara Israel kemudian mengonfirmasi insiden tersebut. Mereka menjelaskan, petugas melepaskan tembakan peringatan ketika melihat perempuan itu mendekati tentara di dekat Kota Husan. Insiden tersebut terjadi di tengah kewaspadaan tinggi di perbatasan Israel-Palestina menjelang sejumlah perayaan keagamaan yang jatuh bersamaan, seperti Paskah dan bulan Ramadan. Belakangan, kekerasan di perbatasan itu meningkat dan menelan korban jiwa dari kedua belah pihak. Dari Palestina, korban kebanyakan merupakan warga yang dituding hendak menyerang aparat Israel (cnn.indonesia.com,11/04/2022).
Tak hanya Israel-Palestina saja, Rusia dan Ukraina saat ini juga yang dilanda konflik. Militer Rusia menyerang militer Ukraina bertubi-tubi. Saat ini mata dunia baru fokus pada konflik Rusia yang mencuat pada awal Ramadan ini. Seperti apa yang diberitakan di media bahwa saat dunia tengah melihat serangan militer Rusia yang bertubi-tubi di Ukraina. Sementara, saat ini Palestina juga mati-matian berusaha mengatasi serangan militer yang dilakukan Israel.
Perdana Menteri Palestina Mohammed Ishtay berharap dunia bisa meminta Israel untuk menghentikan serangan militer mereka terhadap warga sipil Palestina. Eskalasi Palestina menimbulkan ancaman yang luar biasa terhadap keamanan dan stabilitas di kawasan. Negara di dunia diharapkan bisa mendorong Israel untuk segera mengakhiri pelanggaran ekstremis Israel terhadap kesucian Masjid Al-Aqsa. Terlebih, mereka juga menyerang masjid selama Ramadhan (WE Online, 11/04/2022)
Keadilan memang tidak selalu berfihak pada kaum Muslim. Palestina yang sejak dulu tertindas oleh Israel tidak nampak bahwa saat ini membutuhkan bantuan. Sedangkan Ukraina, negara yang baru saja terkena konflik dunia sibuk membantunya. Saking seringnya Israel menyerang Palestina, mungkin sudah dianggap hal biasa. Hingga dunia kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ukraina. Mereka memberi dukungan dan perhatian lebih pada Ukraina.
Indonesia pun tak ketinggalan ikut-ikutan latah mendukung. Indonesia, negeri yang mayoritas Muslim di dunia meminta agar invasi Rusia ke Ukraina diberhentikan. Bukannya memberi dukungan pada Palestina, malah memberi dukungan pada Ukraina. Padahal presiden Ukraina adalah pendukung zionis Israel. Maka otomatis Ukraina memberi andil hilangnya nyawa kaum Muslim di bumi Palestina.
Tak hanya Indonesia, negeri-negeri Muslim lainnya juga memberi kecaman pada Rusia atas serangan terhadap Ukraina. Negara Eropa memberikan bantuan dana, perlengkapan tempur dan logistik bagi Ukraina. Negara-negara terdekat wellcome kepada para pengungsi ukraina. Lalu apa yang dilakukan dunia pada Palestina? Dunia sibuk terhadap Ukraina, hingga abai kepada nasib Palestina ?
Palestina mempertahankan sendiri wilayah mereka. Mereka hanya bergantung kepada Allah dalam mempertahankan wilayah dan kehormatannya. Sikap yang berbeda ditunjukkan oleh dunia jika berhubungan dengan Palestina ataupun negeri-negeri Muslim lainnya.
Barat dibawah NATO fokus perhatiannya terhadap Ukraina. Seperti dunia hanya berduka atas berbagai serangan Rusia kepada Ukraina. Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) secara resmi melakukan penangguhan Rusia dari Dewan HAM setelah Rusia dianggap melakukan pelanggaran berat HAM di Ukraina (United Nations,07/04/2022).
Lalu bagaimana dengan Israel, yang sudah berpuluh tahun menginvansi Palestina? Adakah suara dari PBB yang menyuarakan bahwa Israel telah melakukan pelanggaran berat HAM? Jika ada pun Israel tidak akan pernah takut dengan kecaman PBB. Menganggap PBB ibarat pepatah “anjing menggonggong kafilah berlari”. Tak ada efek kecaman dari PBB. Begitulah watak Israel, tidak mau kalah, walaupun salah.
Sifat arogan, tak mau kalah memang telah mendarah daging sampai saat ini. Seperti eyang buyut mereka Theodor Herzl yang merupakan pmimpin gerakan zionis ketika daulah Islam masih eksis di dunia. Theodore Herzl meminta wilayah Palestina pada Sultan Abdul Hamid II, saat memimpin khilafah Ustmaniyah. Pada waktu itu Palestina menjadi wilayah daulah Islam. Tawaran demi tawaran kepada Sultan, agar Palestina menjadi wilayah Yahudi pun tak pernah diterima oleh Sultan. Namun rencana yang terorganisir oleh zionis kekuasaan Turki Utsmani runtuh pada 3 Maret 1924. Dengan berakhirnya kekuasaan Turki usmani maka posisi Palestinapun menjadi lemah. Akhirnya Yahudi mampu menguasai wilayah Palestina.
Maka sejatinya tanah yang didiami bangsa Israel adalah milik kaum Muslim. Israel tak memiliki hak atas tanah Palestina. Bangsa-bangsa di dunia melihat bahwa masalah Palestina dan Israel hanya sebatas batas wilayah. Namun sejatinya yang menjadi masalah adalah keberadaan Israel sebagai sebagai penjajah.
Maka ketika ada seruan agar tanah Palestina dikembalikan sesuai batas-batas yang di tetapkan sepihak tahun 1948 ini merupakan kesalahan besar. Sangat keliru jika sebagian Muslim menyerukan agar tanah Palestina dikembalikan dalam batas-batas yang ditetapkan secara sepihak tahun 1948.
Seharusnya mengembalikan Palestina adalah mengembalikan semua wilayah Palestina. Karena wilayah yang ditempati Israel saat ini sejatinya adalah milik Palestina. Hal ini harus nya menjadi pemahaman semua para pemimpin negara-negara di dunia, kususnya negri-negri Muslim.
Namun negeri-negeri Muslim tak berdaya until mengambil sikap. Ketergantungan terhadap negara adidaya (AS,dkk) membuat para pemimpin negri-negri Muslim hanya menjadi pengekor. Pengaruh negara Barat sebagai negara adidaya telah membuat para pemimpin di negeri-negeri Muslim tidak berani mengambil sikap.
Seharusnya para pemimpin Muslim tidak membantu negara kafir yang jelas-jelas memusuhi Islam. Kungkungan kapitalisme telah membuat negeri-negeri Muslim tidak lagi independen dalam menentukan sikap dan juga kebijakan.
Dalam Islam, tidak dibenarkan ikut membantu dan mendukung negara kafir harbi fi’lan. Namun karena frame yang dipakai para penguasa saat ini adalah ideologi kapitalis sekuler, maka yang terjadi adalah seperti saat ini. Negeri Muslim namun mengikuti arahan opini Barat.
Seperti inilah nasib negeri Muslim dalam cengkeraman kapitalis. Hilangnya pelindung (junnah) kaum Muslim membuat negeri-negeri Muslim tertindas seperti yang terjadi di Palestine. Negeri-negeri Muslim lain tidak memiliki keberanian untuk melawan, hanya bisa mengecam, mengirimkan obat-obatan, logistik, dll. Dari sinilah sekat nasionalisme semakin nyata. Tak adanya satu kepemimpinan membuat kaum Muslim di seluruh negeri tak memiliki perasaan satu tubuh. Jika ada bagian tubuh yang sakit, semua akan merasakan. Semakin terasa bahwa butuh adanya pemimpin yang bisa menjadi pengayom, pelindung, dan mengurusi rakyat.
Pemimpin yang seperti ini hanya ada dalam sistem Islam. Sistem yang akan membawa kesejahteraan bagi semua umat Muslim dan juga umat seluruh dunia. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






