Tahu dan Tempe “Menghilang” di Pasaran, Apa Kata Dunia

Ketergantungan akan bahan pangan impor harus dihentikan. Hal ini berbahaya sebab pangan adalah hal yang krusial yang dapat mengakibatkan negara mudah dikuasai oleh asing.
Oleh : Novida Sari (Ketua Forum Muslimah Peduli Generasi Mandailing Natal
JurnalVibes.Com — Kebutuhan kedelai sebagai bahan baku tahu dan tempe memang masih mengandalkan impor. Karena mekanisme pasar bebas, harga kedelai impor bisa naik kapan saja. Naiknya harga kedelai ini membuat pengrajin tahu di Bogor hingga se-Jabodetabek melakukan aksi libur produksi massal mulai dari 31 Desember 2020 hingga 2 Januari 2021. Tindakan itu sebagai aksi protes kepada pemerintah karena kurangnya perhatian pada pengrajin tahu dan tempe. (republika.com, 2/01/21).
Presiden Joko Widodo (Jokowi) sempat menyinggung masalah hilangnya tahu dan tempe di pasaran. Jokowi mengatakan saat ini mobilitas dibatasi karena adanya pandemi. Jokowi juga memperingatkan bahwa kedelai sebagai salah satu komoditas yang masih impor yang harus menjadi fokus perhatian dalam membangun pertanian. Jokowi menyebutkan bahwa kedelai masih impor jutaan ton. (okezone.com, 11/01/2021).
Impor Pangan Biang Kerok Kenaikan Harga
Jokowi menyebutkan keengganan petani yang tidak mau menanam kedelai, karena kalah saing harga dengan kedelai impor. Sehingga, menurutnya perlu dibangun lahan pertanian kedelai yang besar untuk melawan arus impor tersebut. Tak tanggung-tanggung Jokowi meminta untuk mencari lahan kedelai yang cocok yang luasnya sampai 1 hektare.
Namun, kenyataannya permintaan tahu dan tempe yang tinggi di negeri pecinta tahu tempe ini justru memilih solusi instan dengan memasok pangan melalui impor. Padahal, Indonesia dikenal sebagai negara agraria dengan kesuburan tanahnya yang luar biasa luas terbentang. Seandainya saja pejabat pemerintah di negeri ini serius dalam mengelolanya.
Ketergantungan kepada impor pangan dapat mengancam stabilitas sosial, ekonomi, dan politik. Tahu dan tempe yang menjadi sumber protein murah pun dapat menjadi persoalan yang serius. Karena kenyataannya, bahwa kebanyakan rakyat Indonesia masih berada di kelas ekonomi menengah ke bawah, sehingga tahu dan tempe dapat menjadi alternatif sumber protein yang memiliki harga jauh lebih murah dari hasil olahan tempe sebagai sumber protein nabati.
Pandemi Memperparah Keadaan
PBB melalui Organisasi Pangan dan Pertanian Dunia atau Food and Agriculture Organization (FAO), telah memperingatkan potensi krisis pangan dunia akibat rentetan pandemi covid-19 secara global. Resiko krisis pangan akan semakin meningkat di masa pandemi.
Namun peringatan dari FAO ini tampaknya tidak menjadi alarm bagi Indonesia untuk berbenah diri di sektor pangan. Jika pertanian diurus dengan baik maka ketahanan pangan bukanlah sesuatu yang mustahil.
Politik Pangan di Dalam Islam
Ketergantungan akan bahan pangan impor harus dihentikan. Hal ini berbahaya sebab pangan adalah hal yang krusial yang dapat mengakibatkan negara mudah dikuasai oleh asing. Islam sangat jelas dalam pengklasifikasian harta dan tanah mati untuk dimanfaatkan dan dikelola yang hasilnya akan dinikmati masyarakat.
Ada beberapa langkah yang dapat ditempuh negara untuk memperkuat politik pangan. Diantaranya adalah sebagai berikut ;
Pertama, menghentikan impor khususnya pada komoditas pangan dan komoditas krusial. Berdayakan sektor pertanian. Ketika sektor industri dan perumahan maupun sektor lain dicanangkan maka perkara sektor pertanian harus diperhatikan.
Kedua, manajemen logistik. Negara wajib mengendalikan dan menyediakan keperluan logistik seperti pupuk, anti hama, kemajuan teknologi, hal yang berkaitan dengan distribusi dan pengendalian kecukupan bahan di segala situasi harus dipersiapkan secara matang.
Ketiga, menerapkan gaya hidup Islam. Tidak berlebihan dalam mengonsumsi pangan. Islam mengenal adab makan, yaitu makan ketika lapar dan berhenti sebelum kenyang. Negara juga akan meminta para pemilik tanah untuk mengelola tanahnya dengan disokong oleh modal yang dikeluarkan dari baitul mal sesuai kebijakan yang berlaku. Sehingga, setiap orang akan mengelola tanah secara optimal. Jika akhirnya dalam jangka waktu 3 tahun suatu lahan tidak dikelola maka posisinya berubah menjadi tanah mati. Dan akan berubah status kepemilikan. Sehingga tidak ada sesuatu yang mubazir di dalamnya. Dan semua potensi alam yang Allah SWT berikan dapat dioptimalkan untuk kepentingan manusia.
Keempat, analisa kondisi alam. Kondisi alam tersebut seperti kelembaban, sinar matahari, curah hujan, iklim termasuk perubahan iklim ekstrim akan dipelajari dan diantisipasi oleh negara. Sehingga, analisa ini akan semakin memperbanyak hasil pertanian dan mencegah kegagalan di masa panen.
Hanya dengan Islam, kebijakan pangan akan memakmurkan warga negaranya. Hanya dengan Islam, kemandirian pangan akan terwujud. Bukan dengan kapitalisme yang hanya menguntungkan para kapitalis. Kapitalisme juga telah mempermalukan negeri penikmat tahu tempe ini dengan langkanya bahan baku utamanya di pasar. Jika sudah begini, apa kata dunia? Wallahu’alam bishawab []






