Kemiskinan Ekstrem Keniscayaan dalam Sistem Kapitalisme

Seluruh pengaturan Islam di bawah institusi yang menerapkan sistem Islam kafah ini akan mampu mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejehteraan seluruh rakyatnya.
Oleh Dian Safitri
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – Sungguh ironis melihat kondisi umat hari ini yang berada pada angka kemiskinan tertinggi. Alih-alih untuk memperbaiki kondisi kemiskinan, pemerintah malah berilusi menghapuskan kemiskinan pada angka nol pada tahun mendatang. Maka tidak ayal jika banyak pihak menilai target pemerintah ini akan sulit terwujud, lebih-lebih adanya masa transisi politik.
Melansir cnnindonesia (23/02/2023), Ekonom center of Reform on Ecomics Indonesia,Yusuf Rendi menilai upaya mengejar angka 0 persen kemiskinan ekstrem di tahun depan tidak mudah karena ada pergantian pemerintahan.
Perlu dipahami kemiskinan ekstrem atau kemiskinan absolut adalah sejenis kemiskinan yang didefinisikan oleh PBB sebagai suatu kondisi yang tidak mampu atau tidak dapat memenuhi kebutuhan primer manusia di antaranya makanan, air minum bersih, fasilitas sanitasi, kesehatan, tempat tinggal dan pendidikan. Kemiskinan ekstrem di Indonesia saat ini berada di level 3,2% .(CNN Indonesia, 06/04/2023)
Rasa pesimis itu bukan tidak berdasar karena pada faktanya pemerintah dalam sistem ekonomi kapitalisme memang tidak mampu menghasilkan anggaran besar sebagai modal untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya. Sektor pajak sebagai sumber pendapatan terbesar negara dalam sistem hari ini tidak akan pernah mampu dan cukup mewujudkan upaya mengentaskan kemiskinan ekstrem.
Tidak bisa dimungkiri masih tingginya angka kemiskinan hingga detik ini adalah bukti gagalnya pemegang kebijakan dalam menuntaskan problem ini hingga ke akarnya. Ini menjadi rumit manakala pemerintah tidak membarengi dengan kebijakan yang memudahkan rakyat dalam memenuhi kebutuhan pokok hingga kesehatan dan juga pendidikan. Di tengah harga bahan pangan yang terus melonjak, fenomena PHK yang tidak terbendung justru makin banyak terjadi.
Kemiskinan yang terjadi di negeri ini adalah kemiskinan struktural yang penyebab utamanya penerapan sistem ekonomi kapitalisme. Sistem ini sungguh zalim di mana distribusi kekayaan tidak adil dan tidak bisa dinikmati oleh seluruh rakyat. Otomatis kesenjangan semakin lebar, akses kekayaan hanya bisa dinikmati oleh orang kaya atau pemilik modal dan sebaliknya rakyat miskin tidak memiliki akses untuk menikmatinya.
Kesenjangan itu terjadi akibat liberalisasi ekonomi yang melegalkan setiap individu atau pun kelompok mengelola kekayaan alam yang hakikatnya milik rakyat. Adalah keniscayaan pemilik modal lah yang memiliki akses terhadap kekayaan tersebut ditambah lagi negara yang hanya bertindak sebagai regulator yang justru semakin memudahkan jalan bagi korporat menguasai aset-aset negara.
Sistem ini mencetak penguasa dan pejabat yang tidak amanah bahkan sangat mudah melakukan penghianatan terhadap rakyat dengan melakukan korupsi jamaah demi kepentingan pribadi. Uang negara yang berasal dari pajak rakyat seharusnya dikembalikan untuk kemaslahatan rakyat justru masuk di kantong pribadi. Jadi wacana menghapuskan kemiskinan itu hanya ilusi semata jika sistemnya masih sama karena penerapan sistem ekonomi kapitalisme juga sistem politik demokrasi yang hanya menyebabkan negeri terus berada dalam lingkaran kemiskinan.
Tidak ada pilihan lain kecuali mengambil Islam sebagai satu-satunya solusi untuk mengakhiri kemiskinan ekstrem nol tanpa gagal. Solusi Islam itu akan terealisasi melalui politik ekonomi Islam yang diterapkan oleh pemimpinnya karena politik ekonomi Islam berjalan berlandaskan syariat Islam, di mana khalifah atau kepala negara dalam sistem Islam akan mengelola harta untuk memenuhi seluruh kebutuhan rakyatnya baik harga bergerak maupun harta tidak bergerak yang diambil dari baitul maal. Selain itu khalifah akan memenuhi kebutuhan mendesak dan jangka panjang bagi penerima subsidi.
Departemen sosial bertugas membantu khalifah mendata orang per orang secara detail terkait penghasilan rakyatnya, siapa saja yang terkategori miskin dan tidak miskin. Bagi yang miskin dan memiliki kemampuan bekerja seperti bertani, maka khalifah memberi modal pada apa-apa yang diperlukan bertani termasuk lahan.
Adapun jika rakyatnya miskin dan memiliki kemampuan lain akan didukung dengan modal untuk membangun usahanya. Ditambah sistem keuangan negara menggunakan Baitul Mall dengan pos pendapatan tanpa pajak dan utang. Tidak hanya itu negara juga akan membuka lapangan pekerjaan yang luas bagi warga negaranya lebih khusus laki-laki untuk memudahkan mereka menjalankan kewajibannya memberi nafkah kepada keluarganya. Daulah juga akan melarang privatisasi SDA oleh pihak swasta sebab sumber daya alam dalam Islam haram dikuasai oleh sebagian orang. Untuk itu Islam mengatur pengelolaan kekayaan itu ada di tangan negara dan seluruh hasilnya akan dikembalikan pada rakyat dalam bentuk jaminan kebutuhan dasar seperti kesehatan, pendidikan sampai keamanan sehingga rakyat dapat menikmatinya secara gratis. Tidak hanya itu transportasi, listrik, gas dan BBM akan mudah didapatkan rakyat dengan harga murah sebab pemerintah tidak boleh mengambil sepeser pun keuntungan dari kepemilikan rakyat.
Seluruh pengaturan Islam di bawah institusi yang menerapkan sistem Islam kafah ini akan mampu mengentaskan kemiskinan dan menjamin kesejehteraan seluruh rakyatnya. Sungguh tidak ada pilihan lain bagi umat hari ini untuk keluar dari jeratan kemiskinan melainkan kembali pada sistem Islam yang diterapkan secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by google.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






