Kedelai dan Solusi Ketahanan Pangan

Peradaban Islam telah berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian yang dikenal sebagai Revolusi Hijau Abad Pertengahan atau Revolusi Pertanian Muslim.
Oleh Nasywa Adzkiya
(Aktifis Muslimah Kalsel)
JURNALVIBES.COM – Baru saja masyarakat Indonesia dibuat risau karena mahalnya harga minyak goreng. Kini giliran harga kedelai yang mahal. Hal ini tentu membuat resah masyarakat Indonesia yang begitu suka makan tempe. Kedelai merupakan bahan pokok untuk membuat tempe. Jika sebelumnya minyak goreng yang mahal untuk menggoreng tempe, sekarang giliran minyaknya tersedia, malah tempenya yang mahal. Sungguh ironis sekali kondisi di negeri ini.
Harga kedelai terus merangkak naik memicu reaksi protes dan aksi mogok perajin tahu dan tempe. Akar masalah ada di harga kedelai internasional yang meroket sehingga berdampak pada harga impor yang juga mengikuti. Pasalnya, Indonesia mengandalkan hingga 90% kebutuhan kedelai dari pasokan impor.
Tingginya Konsumsi Kedelai di Indonesia
Indonesia adalah negara dengan konsumsi kedelai terbesar di dunia setelah Cina. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan impor kedelai Indonesia sepanjang semester I/2020 mencapai 1,27 juta ton atau senilai US$510,2 juta (sekitar Rp7,52 triliun). Sebanyak 1,14 juta ton di antaranya berasal dari Amerika Serikat. (ekonomi.bisnis.com)
Tingginya konsumsi kedelai sebagai bahan baku membuat tempe bukan karena gaya hidup vegetarian masyarakat Indonesia. Namun tingginya konsumsi kedelai ini karena alasan ekonomi. Bila dibandingkan dengan protein hewani, harga tahu dan tempe lebih mampu dijangkau oleh masyarakat Indonesia. Alhasil kenaikan harga kedelai berimbas pada pemenuhan hajat hidup masyarakat.
Mengandalkan Impor
Sungguh Ironis, di negeri agraris ini ternyata pemenuhan kedelai di Indonesia tergantung impor kedelai dari luar. Sebagaimana dilansir dalam cnbcindonesa.com, “Masalah kedelai ini masalah internasional. Pada 2021, kita mengimpor 2,5 juta ton kedelai, sementara produksi dalam negeri tidak lebih dari 300 ribu ton. Jadi kita bergantung pada masalah internasional,” kata Menteri Perdagangan Muhamad Lutfi saat bersama Menteri BUMN Erick Thohir dan Bupati Purworejo meresmikan Pasar Purworejo, Selasa (22/2).
Pertumbuhan nilai impor yang lebih tinggi dibanding volumenya karena lonjakan harga kedelai global sepanjang tahun lalu. Pada tahun 2021, harga kedelai global sempat melonjak 26,3% pada bulan Mei, sebelum akhirnya ditutup menguat 2% di akhir tahun. Reformasi peternakan babi di Cina juga ditengarai jadi pemicu harga impor kedelai Indonesia meroket. (cnbcindonesia.com, 23/02/2022)
Kapitalisme Biang Masalah
Harga kedelai yang melambung tinggi ini sebenarnya telah terjadi berulang kali. Bahkan sejak tahun 2021 lalu pun masalah naiknya harga kedelai sudah menjadi polemik di tengah masyarakat. Alih-alih memperbaiki masalah mendasar pertanian Indonesia, pemerintah malah memberikan solusi pragmatis dengan membuka keran impor yang justru memberikan keuntungan kepada negara luar.
Terbukanya keran impor kedelai tersebut dikarenakan produksi kedelai Indonesia yang rendah. Mengutip pernyataan Prima Gandhi, peneliti dari Institut Pertanian Bogor dalam theconversation.com (13/01/2021), produktivitas petani kedelai lokal rendah karena berbagai macam faktor yang membuatnya cukup rumit untuk dibenahi.
Luas lahan tanam kedelai terus berkurang akibat alih fungsi lahan. Menurut data terbaru tahun 2018, hanya ada sekitar 680.000 hektare yang menanam kedelai, sedangkan yang dibutuhkan untuk memenuhi permintaan dalam negeri dibutuhkan setidaknya 2,5 juta hektare.
Selain itu petani pun menghadapi harga kedelai lokal yang mereka anggap rendah saat panen. Ini karena biaya untuk menanam kedelai yang tinggi pun membuat keuntungan petani semakin tipis. Pemerintah telah mematok harga jual kedelai Rp8.500 per kilogram di tingkat petani, namun dengan biaya produksi Rp6.500 per kilogram membuat keuntungan untuk petani cukup tipis.
Islam sebagai Solusi Ketahanan Pangan
Pada masa kekhalifahan, negara menjamin ketahanan pangan di tengah masyarakat, termasuk selama dan setelah wabah. Dalam Islam, negara adalah penanggung jawab utama yang mengatur kebutuhan pangan rakyatnya.
Rasulullah Saw. menegaskan fungsi utama pemerintahan ini dalam sabdanya, “Imam (khalifah) raa’in (pengurus hajat hidup rakyat) dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya.” (HR Muslim dan Ahmad).
Dengan menyadari kewajiban utama ini, negara tidak akan mudah membuka keran impor bahan pangan dari luar negeri. Kemandirian sektor pangan akan dilakukan dengan memajukan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian.
Sejak awal abad ke-9 M, peradaban kota-kota besar muslim yang tersebar di timur dekat Afrika Utara dan Spanyol telah ditopang dengan sistem pertanian yang sangat maju, irigasi yang luas, serta pengetahuan pertanian yang tinggi.
Peradaban Islam telah berhasil melakukan transformasi fundamental di sektor pertanian yang dikenal sebagai Revolusi Hijau Abad Pertengahan atau Revolusi Pertanian Muslim. Produk yang dihasilkan dari teknologi ini akan dipastikan aspek halal dan keamanannya.
Selain itu, sistem ekonomi Islam yang terbukti menyejahterakan akan memastikan terwujudnya segala kebutuhan perkembangan teknologi dan kebutuhan lahan pertanian. (Muslimahnews.com, 14/02/2022)
Melihat fakta di atas jika kita berharap mendapatkan solusi tuntas dengan sistem yang saat ini diterapkan baj panggang jauh dari api. Maka satu-satunya solusi adalah mencari sistem alternatif yang telah terbukti mampu menyelesaikan permasalahan yang ada dengan tuntas. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






