Motivasi

Pentingnya Figur Ayah Bagi Anak Perempuannya

Dari perempuan-perempuan yang haus akan pujian dan perhatian itu, akan banyak muncul ibu yang jiwanya kosong, ia akan mudah rapuh, labil dan dari sini banyak kerusakan yang mungkin terjadi.


Oleh Khairul Nisa Afdilah
(Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

JURNALVIBES.COM – Tampak beberapa remaja perempuan dengan outfit yang fashionable tengah asyik berpose di spot yang estetik. Setelah itu mereka sibuk memilah foto estetik hasil jepretannya tadi. Satu persatu foto diseleksi dengan ketat, mana foto yang layak diunggah ke media sosial. Tak lupa foto diberi filter agar makin menarik. Pakaian yang modis, make-up yang cetar, serta tempat-tempat menarik, semua itu sudah menjadi gaya hidup remaja zaman sekarang.

Bahkan tak jarang kita mendengar kabar pilu dari tingkah beberapa remaja yang sampai mengorbankan keselamatan mereka. Semua mereka lakukan demi konten juga postingan mereka di media sosial. Betapa berbunga-bunganya hati mereka ketika postingan mereka mendapat banyak like serta komen berupa pujian, apalagi kalau yang mengomen adalah gebetan, dijamin jantung seketika berdebar kencang.

Andai semua ayah terbiasa memuji anak perempuannya, mungkin tidak akan banyak perempuan yang berusaha dengan keras memperbaiki fisik demi sebuah kata cantik juga pujian. Mereka yang kau lihat begitu menawan di layar gadgetmu, mungkin glowing secara fisik, namun belum tentu juga glowing akhlaknya. Mereka perempuan-perempuan yang sekali kau lihat bisa langsung membuat laki-laki terpikat, bisa jadi di balik hal itu ia berusaha keras untuk bisa mendapat pengakuan dari orang-orang kalau dirinya cantik. Bisa jadi ia tidak mendapat pengakuan itu dari orang-orang terdekatnya terutama ayahnya.

Oleh sebab itu ia berusaha mencari serpihan jiwanya yang hilang. Yaitu pengakuan dari orang-orang juga pujian kalau dirinya menawan. Ia tidak fokus memperbaiki akhlak, karena mereka pikir yang baik akhlaknya akan kalah dengan yang baik fisiknya.

Perempuan-perempuan itu sebenarnya haus akan perhatian, haus pujian juga pengakuan. Ayah yang seharusnya menjadi laki-laki pertama yang memuji dan mengakui kecantikannya tidak pernah melakukan hal tersebut untuknya. Kau tahu bagaimana rasanya bila rasa dahaga itu terpuaskan oleh laki-laki lain? Yang tidak ada hubungannya denganmu yang memberikan hal itu, tanpa diminta.

Perempuan yang tidak pernah mendapatkan pujian, pengakuan juga perhatian dari ayahnya, akan mudah luluh seketika juga hatinya akan mudah takluk. Perlu diketahui, di saat kamu sudah terbiasa untuk tidak merasa berharga bagi ayahmu atau orang-orang di sekelilingmu maka ketika bertemu dengan orang lain yang bisa membuatmu merasa lebih berharga, kamu seperti menemukan serpihan jiwamu yang hilang. Kamu akan dengan dengan mudahnya dibuat takluk serta luluh. Mungkin pula akalmu yang semula berfungsi normal, seakan tak berfungsi sejenak, karena jiwamu terbius seketika oleh suatu hal yang bisa memuaskan rasa haus itu.

Apa kalian pernah berpikir apa jadinya nanti kalau perempuan generasi sekarang hanya sibuk memperbaiki tampilan luarnya saja? Tanpa dibarengi akhlak. Pastinya akan lahir generasi yang lebih bobrok dari generasi yang sekarang. Dari perempuan-perempuan yang haus akan pujian dan perhatian itu, akan banyak muncul ibu yang jiwanya kosong, ia akan mudah rapuh, labil dan dari sini banyak kerusakan yang mungkin terjadi.

Seperti yang sudah kita semua ketahui, tugas seorang ibu itu cukup berat. Selain diharuskan melakukan pekerjaan rumah, tugas utamanya mendidik anak-anaknya untuk bertakwa. Dalam proses mendidik juga dibutuhkan ilmu, kesabaran, keteladanan dan kasih sayang juga mental yang kuat. Belum lagi menghadapi ujian dalam pernikahan, seperti ujian ekonomi, adanya orang ketiga, ujian dari pihak keluarga atau orang luar, suami yang tidak menghargai, ujian belum dikaruniai anak, ujian sakit dan sebagainya.

Siap atau tidak siap ketika seorang perempuan menyatakan berkomitmen untuk menikah, ia harus siap. Semua itu tidak mudah, karena seorang perempuan yang tercipta sebagai makhluk yang perasa, dituntut untuk selalu siap menghadapi berbagai tekanan juga guncangan. Butuh jiwa yang tetap stabil juga sehat, ilmu yang cukup, pemahaman yang baik, kecerdasan mengelola emosi, kecerdasan sosial, keuangan yang stabil dan yang paling utama adalah keimanan yang kuat kepada Allah.

Karena tanpa hal itu mungkin kita akan dengan mudah terguncang hanya karena ujian yang kecil, yang mana imbasnya akan berdampak kepada anak-anaknya kelak. Kalau anak-anak ikut terdampak dari sikap atau perilaku orang tua, hal tersebut juga akan menjadi masalah baru, yang kemungkinan akan lebih sulit untuk diatasi kalau tidak cepat terdeteksi. Karena sifat anak-anak adalah meniru apa yang ia lihat dari apa yang orang tua mereka contohkan.

Sebenarnya akar masalah semua ini adalah fatherless generation atau generasi tanpa ayah. Negara kita Indonesia masuk dalam daftar negara dengan tingkat fatherless terbesar ke-3 di dunia setelah Amerika dan Australia. Maksud dari fatherless adalah seorang ayah bukan tidak ada secara fisik, tetapi figur seorang ayah yang tidak hadir. Dampak dari fatherless di antaranya:

Pertama, lebih agresif. Maksudnya anak akan lebih cepat marah, marah yang tenang dan tidak terdeteksi. Kemarahan yang tenang justru merupakan kemarahan yang berbahaya dan bergejolak. Kemarahan yang terpendam justru akan lebih sulit untuk diatasi dan akan berdampak pada diri orang tersebut secara berkepanjangan. Karena marah yang terpendam biasanya akan menimbulkan dendam dan sakit hati. Lebih parahnya kalau tidak segera diatasi akan terbawa ketika si anak berkeluarga. Maka kemarahan ini sangat perlu untuk segera diobati.

Kedua, depresi. Hal ini disebabkan oleh adanya amarah yang terpendam, anak yang tumbuh tanpa ayah akan rentan terhadap tekanan emosional. Ia merasa tidak ada yang mencintai juga dia merasa berbeda dari anak-anak yang lain. Ia merasa diperlakukan tidak adil dan tidak dimengerti. Oleh karena itu anak yang tumbuh tanpa figur ayah mudah terkena depresi.

Ketiga, rasa percaya diri yang rendah. Hal ini disebabkan karena adanya perasaan tidak diinginkan dalam diri anak. Ia sulit untuk membuka diri pada orang lain. Keempat, gangguan emosi. Kelima, prestasi akademik yang rendah. Keenam, untuk perempuan mudah jatuh ke pelukan laki-laki yang salah. Ketujuh, keberanian mengambil risiko, dan masih banyak lagi dampak yang ditimbulkan.

Semua hal itu terjadi bukan karena secara materi anak-anak ini tidak terpenuhi, tetapi jiwa-jiwa mereka ibarat gelas yang belum terisi. Kadang di antara mereka membuat onar di lingkungan tempat tinggal atau pun sekolah agar mereka mendapat perhatian dari ayahnya.

Oleh karenanya, solusi dari semua hal ini adalah memfungsikan kembali figur ayah yang hilang. Semua ini sudah terdapat contoh suri teladan dalam jiwa Rasulullah saw. Lakukan apa yang Rasulullah lakukan. Penanganan pendidikan anak perempuan dengan laki-laki tentunya berbeda. Tahapan perkembangannya pun juga berbeda.

Semoga tulisan ini bisa meningkatkan kesadaran kita akan pentingnya figur ayah dalam kehidupan kita. Perlu ditekankan bahwa “Yang perlu dan butuh belajar bukan hanya perempuan, justru laki-lakilah yang harus lebih banyak belajar, karena tugas mendidik istri adalah tugas suami. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Check Also
Close
Back to top button