Kecanggihan AI, Antara Harapan dan Kekhawatiran

Umat Islam membutuhkan kesadaran bahwa kemajuan hakiki bukanlah sekadar kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih. Kemajuan harus diukur pula dari sejauh mana kehidupan manusia berjalan sesuai ketentuan Allah Swt.
Oleh Nasywa Adzkiya
(Aktivis Muslimah Kal-Sel)
JURNALVIBES.COM – Kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) semakin berkembang dengan kemampuan yang mengagumkan. Berbagai pekerjaan manusia dapat dibantu oleh teknologi ini hingga mempercepat pekerjaan manusia. Namun, di balik kecanggihan teknologi saat ini tersimpan sebuah kekhawatiran apakah suatu saat nanti manusia kehilangan kendali atas teknologi yang diciptakannya sendiri. Hingga justru menjadi ancaman bagi kehidupan manusia.
Kekhawatiran terhadap perkembangan AI semakin menguat. Dilansir dari CNNIndonesia, peringatan para peneliti AI, termasuk Geoffrey Hinton, mengenai potensi ledakan kecerdasan. Perkembangan AI yang mampu mempercepat penelitian dan pengembangan secara otomatis dikhawatirkan dapat berlangsung sangat cepat sehingga kemampuan manusia untuk mengawasinya tertinggal (29/9/2026).
Risikonya tidak sederhana. AI berpotensi dimanfaatkan untuk mengembangkan ancaman biologis dan serangan siber, mengurangi kendali manusia atas sistem yang diciptakannya, hingga memperbesar ancaman konflik antarnegara. Dengan kemampuan yang semakin kompleks, persoalan pengawasan dan pengendalian AI pun menjadi semakin penting.
Di sisi lain, AI menawarkan berbagai manfaat. AI dapat dimanfaatkan untuk mengolah data, membantu membuat analisis data, membuat design dan masih banyak lagi. Akan tetapi, potensi manfaat tersebut tidak menghapus kemungkinan penyalahgunaan. Kecanggihan teknologi dapat menjadi ancaman apabila tidak diawasi dengan baik. Ketika kemampuan mesin terus meningkat, manusia justru dihadapkan pada pertanyaan mendasar, apakah seluruh kecanggihan yang diciptakan benar-benar diarahkan untuk kebaikan manusia, ataukah kepentingan lain justru lebih dominan?
Kapitalisme-Sekularisme Menjadi Akar Persoalan
Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan bagian dari kemampuan akal manusia. Namun perkembangan tersebut berada di sebuah zaman dan dipengaruhi oleh cara pandang terhadap kehidupan.
Dalam sistem kapitalisme-sekularisme, kehidupan dipisahkan dari pengaturan agama. Karena agama dianggap berada pada ranah pribadi sementara pengaturan pemerintahan termasuk ekonomi, sosial dan politik diserahkan pada manusia. Dengan demikian perkembangan AI dapat berpotensi untuk membawa keuntungan besar termasuk memperkuat dominasi ekonomi dan politik.
Akhirnya banyak perusahaan berlomba menghasilkan AI yang lebih canggih agar mampu memenangkan pasar. Negara berlomba-lomba menciptakan teknologi agar tidak tertinggal dengan pesaingnya tanpa memperhatikan lagi dampaknya terhadap umat manusia.
Memang betul bahwa perkembangan teknologi tidak selalu berkaitan dengan keuntungan ekonomi. Bisa saja perkembangan teknologi adalah hasil dari kemajuan berpikir manusia. Namun karena sistem yang menaungi kehidupan saat ini adalah kapitalisme sekuler maka potensi tersebut justru sangatlah besar.
Ketika keuntungan dan keunggulan strategis menjadi pertimbangan dominan, muncul potensi benturan antara kepentingan bisnis, persaingan negara, dan keselamatan manusia. Peringatan mengenai ledakan kecerdasan AI menjadi pengingat bahwa kemampuan menciptakan teknologi tidak otomatis menjamin kemampuan mengendalikan seluruh dampaknya.
Islam Memiliki Pandangan yang Jelas Terhadap Teknologi
Islam memandang manusia sebagai makhluk yang dimuliakan dengan akal. Dengan akal yang dikaruniakan oleh Allah Swt. memungkinkan manusia memahami tanda-tanda keberadaan Allah dan mengembangkan IPTEK.
Syaikh Taqiyuddin An Nabhani dalam kitab Nizhamul Islam memberi pandangan bahwa terdapat perbedaan antara hadharah dan madaniyah.
Hadharah berkaitan dengan pandangan hidup dan pemikiran khas suatu peradaban, sedangkan madaniyah berkaitan dengan produk material yang dihasilkan melalui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
AI sebagai produk teknologi dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Namun, tujuan dan cara penggunaannya harus berdasarkan pandangan hidup Islam serta syariat.
Teknologi tidak boleh dijadikan alasan untuk membenarkan segala sesuatu hanya karena dianggap modern, menguntungkan, atau efisien.
Pemanfaatan AI untuk membantu diagnosis penyakit, meningkatkan kualitas pendidikan, mempercepat penelitian, dan menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat dapat mendatangkan kemaslahatan selama dilakukan dengan cara yang dibenarkan syariat. Sebaliknya, penggunaan AI untuk penipuan, fitnah, pencurian data, serangan siber, dan tindakan yang membahayakan manusia harus dicegah sesuai ketentuan Islam.
Allah Swt. Berfirman dalam QS. Al-A’raf ayat 56 yang artinya:
“Dan janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah (diciptakan) dengan baik.”
Ayat ini menegaskan larangan berbuat kerusakan di bumi. Karena itu, kecanggihan teknologi tidak dapat dijadikan pembenaran untuk mengabaikan keselamatan manusia atau membiarkan dampak buruknya demi keuntungan tertentu.
Akidah Islam harus menjadi landasan bagi manusia dalam mengembangkan dan memanfaatkan teknologi. Kesadaran bahwa setiap perbuatan akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah Swt. Seharusnya mendorong manusia untuk menggunakan ilmu sesuai ketentuan-Nya.
Namun, ketakwaan individu saja tidak cukup. Diperlukan sistem yang menjamin bahwa pemanfaatan teknologi berada dalam koridor syariat dan bahwa kepentingan masyarakat tidak dikorbankan demi kepentingan segelintir pihak.
Islam Mengatur Teknologi Berdasarkan Syariat
Dalam Islam, negara memiliki tanggung jawab mengurus urusan rakyat dan melindungi mereka dari berbagai bahaya. Oleh karena itu, pengembangan AI tidak cukup diserahkan kepada kepentingan perusahaan atau persaingan antarnegara, tetapi harus berada dalam pengaturan yang menjamin kemaslahatan masyarakat.
Dalam Islam, syariat Islam menjadi landasan pengaturan kehidupan, termasuk kebijakan yang berkaitan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Negara berkewajiban mengarahkan pemanfaatan teknologi untuk memenuhi kebutuhan rakyat, sekaligus mencegah penggunaannya dalam perkara yang diharamkan.
Pengembangan AI dapat diarahkan untuk meningkatkan pelayanan kesehatan, memperluas akses pendidikan, membantu penelitian ilmiah, serta menyelesaikan berbagai persoalan masyarakat. Pada saat yang sama, negara harus menerapkan pengawasan terhadap sistem berisiko tinggi, melindungi data masyarakat, mencegah kejahatan siber, dan memastikan adanya pertanggungjawaban atas kerugian yang ditimbulkan.
Seluruh upaya tersebut harus berlandaskan syariat, bukan semata-mata mengikuti tuntutan pasar atau mengejar dominasi kekuasaan. Dengan demikian, kemajuan teknologi tidak dibiarkan berjalan tanpa arah, tetapi ditempatkan sebagai sarana untuk mewujudkan kemaslahatan dan mencegah kerusakan.
Penerapan Islam secara menyeluruh melalui institusi negara menjadi penting karena aturan Islam tidak hanya membimbing perilaku individu, tetapi juga mengatur hubungan antarmanusia dan tanggung jawab penguasa dalam menjaga kehidupan masyarakat.
Persoalan mendasar AI bukan hanya seberapa cerdas mesin dapat berkembang, melainkan juga pandangan hidup apa yang mengarahkan pengembangannya, kepentingan siapa yang dilayani, dan aturan apa yang membatasi penggunaannya.
Karena itu, umat Islam membutuhkan kesadaran bahwa kemajuan hakiki bukanlah sekadar kemampuan menciptakan teknologi yang semakin canggih. Kemajuan harus diukur pula dari sejauh mana kehidupan manusia berjalan sesuai ketentuan Allah Swt. Dan terlindungi dari berbagai bentuk kerusakan.
Sudah saatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi ditempatkan dalam kerangka penghambaan kepada Allah Swt. Dengan penerapan Islam secara menyeluruh, termasuk melalui peran khilafah, teknologi diharapkan menjadi sarana untuk mewujudkan kemaslahatan umat, bukan justru menjadi ancaman bagi kehidupan manusia. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






