Opini

BBM Resmi Dinaikan, Rakyat Makin Memprihatinkan

Dalam Islam kebutuhan pokok menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Mereka tidak akan menganggap rakyat sebagai beban dari negara. Pemerintah memiliki kewajiban melayani rakyat dengan sepenuh hati, tanpa memandang Muslim atau nonmuslim.


Oleh Siti Aminah, S.Pd.
(Pegiat Opini Konsel)

JURNALVIBES.COM – Sudah jatuh tertimpa tangga. Inilah pepatah yang tepat untuk menggambarkan kondisi masyarakat hari ini. Bagaimana tidak, baru lepas dari Covid-19 yang memporak-porandakan tatanan ekonomi masyarakat, kini pemerintah kembali menaikkan harga BBM. Tentu dengan kenaikan ini sangat mempengaruhi perekonomian masyarakat kecil.

Sebagaimana yang dilansir oleh telisik.id, Harga BBM subsidi hingga nonsubsidi dipastikan naik. Pemerintah mengumumkan harga baru BBM ini berlaku mulai pukul 14.30 WIB. Harga Pertalite naik dari Rp 7.650 menjadi Rp 10.000/liter. Kemudian harga solar subsidi naik dari Rp 5.150 jadi Rp 6.800/liter. Pertamax juga ikut naik hari ini dari Rp 12.500 jadi Rp 14.500/liter (3/9/2022).

Dengan resminya kenaikan harga BBM sontak membuat panik. Karena dengan kenaikan tersebut akan mempengaruhi harga-harga kebutuhan hidup masyarakat. Biaya transportasi maupun biaya produksi pasti akan ikut naik. Sehingga akan berpengaruh terhadap harga sembako dan harga kebutuhan pokok lainnya.

Solusi yang ditawarkan pemerintah terkait kenaikan harga BBM adalah subsidi dialihkan ke bantuan langsung tunai. Namun apakah bantuan tersebut mampu mengurangi beban masyarakat?

Jika ditelisik lebih jauh maka, sebenarnya bantuan yang diberikan tidak akan menyelesaikan masalah, bahkan malah semakin membebani rakyat. Karena jika sebelumnya harga BBM bersubsidi senilai Rp7.650/liter pertalite, setelah dinaikan menjadi Rp 10.000/liter pertalite, ini artinya akan menambah beban sekitar Rp2.350. Sedangkan rata-rata pemakaian petani, nelayan, tukang ojek dan lainnya antara 4-5 liter/hari dalam menggunakan BBM. Sehingga jika diakumulasikan kenaikan beban BBM bagi mereka mencapai Rp2.350 kali 5 liter/hari sama dengan Rp11.750, kemudian dikalikan dengan 30 hari kerja, sehingga beban biaya mencapai Rp352.500/bulan.

Sementara bantuan langsung tunai BBM pengganti subsidi yang direncanakan pemerintah sebesar Rp150.000/bulan dan akan diterima selama empat bulan.

Sebagaimana yang dilansir dari tribunnews.com (5/9/2022), BLT BBM disalurkan oleh pemerintah mulai Kamis, 1 September 2022. Total BLT BBM yang akan diterima Keluarga Penerima Manfaat (KPM) sebesar Rp600 ribu.

Ini dari hitungan BBM saja, belum lagi kebutuhan pokok lainnya yang ikut merangkak naik. Dengan demikian rakyat yang ekonominya di bawah rata-rata semakin menjerit. Jika masyarakat terus-menerus hidup dalam sistem seperti ini, bisa dipastikan ketimpangan ekonomi dan sosial akan semakin meningkat. Yang kaya semakin kaya, yang miskin semakin melarat.

Maka, kuat dugaan bahwa pemerintah hari ini belum ada kesungguhan melayani masyarakat secara utuh. Karena sistem hari ini lebih mementingkan para pemilik modal dibandingkan kepentingan masyarakat. Sehingga wajar masyarakat berspekulasi bahwa pemerintah melepaskan tanggungjawabnya sebagai pelayan rakyat. Rakyat malah melayani diri mereka sendiri, bahkan rakyat jugalah yang melayani pemerintah. Inilah fakta pemerintahan yang mengadopsi sistem kapitalisme sekular.

Beda halnya dengan sistem Islam. Dalam Islam kebutuhan pokok menjadi prioritas utama bagi pemerintah. Mereka tidak akan menganggap rakyat sebagai beban dari negara. Pemerintah memiliki kewajiban melayani rakyat dengan sepenuh hati, tanpa memandang Muslim atau nonmuslim. Sehingga rakyat memiliki hak untuk dilayani oleh pemerintah. Memenuhi kebutuhan hidup mereka serta menjamin kesejahteraannya.

Maka, pemerintah di dalam sistem Islam tidak akan menyusahkan atau menzalimi rakyat dengan menaikkan harga BBM yang berimbas pada meroketnya semua kebutuhan pokok. Karena sejatinya BBM adalah kebutuhan vital masyarakat. Dengan demikian tidak akan ditemukan rakyat sengsara, yang ada kesejahteraan rakyat terpenuhi dengan baik.

Oleh karena itu, hanya dengan sistem Islam kesejahteraan akan terwujud. Sistem ini sudah terbukti mampu mensejahterakan rakyat selama 14 abad lamanya. Harga tetap stabil dan tidak pernah mengalami inflasi. Jika kita menelusuri sejarah, maka semakin membuka cakrawala berpikir kita bahwa tidak ada solusi yang mampu menyelesaikan masalah rakyat hari ini kecuali dengan sistem Islam.

Namun jika masih menggantungkan diri pada sistem hari ini yakni sistem kapitalisme sekular, maka yang didapatkan hanyalah kesengsaraan. Karena semua pengaturan urusan rakyat didasarkan pada kapital. Fungsi pemegang kebijakan hanya sebagai regulator, pemilik modal lah yang memegang kendali sebenarnya.

Pilihan ada di tangan kita, akan tetap dengan kondisi yang ada, atau bergerak untuk melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button