Teenager

Antara Dakwah dan Layangan Putus

Muslim yang sudah memiliki kepribadian yang Islami dan sadar akan tugasnya di muka bumi. Insyaallah akan tegar jika menghadapi layangan putus manapun karena ada tujuan yang jauh lebih mulia dan berharga, yaitu akhirat.


Oleh Ade Damayanti
( Anggota Komunitas Muslimah Menulis Depok)

JURNALVIBES.COM – Ini sangat menyedihkan, mengkhawatirkan bahkan lebih seram dari film bergenre horor. Fiks, dakwah urgently needed! Itulah yang terlintas dalam pikiran setelah melihat tayangan film Layangan Putus.

Beberapa kali menemukan tema-tema kajian belakangan ini tengah mengangkat topik tentang Layangan Putus. Awalnya sempat menduga kalau itu merupakan fenomena demam sinetron yang melanda pada ibu.

Lantas tidak adakah yang lebih urgen selain membahas film? Apa kabarnya Palestina, Rohingya? Lalu yang baru-baru ini tentang Kazakhstan? Belum lagi kondisi karut marut di negeri sendiri. Harga sembako kian meroket. Pandemi tak kunjung berakhir, bencana alam, ditambah lagi korupsi dan diskriminalisasi ulama. Serta masih banyak permasalahan umat lainnya.

Namun semakin hari tenyata semakin santer terdengar di jagat maya. Sampai membuat beberapa dai kondang turut mengomentari fenomena Layangan Putus ini. Akhirnya naluri kepoku pun tergelitik. Dan mulailah bertanya pada teman-teman yang tahu tentang kayangan putus yang viral itu.

Info pun terkumpul, aku mulai ada gambaran mengenai Layangan Putus tersebut. Sebenarnya aku sudah lama insaf menyimak dunia persinetronan dan yang semisal. Namun karena beberapa teman menyemangatiku untuk memberi opini akan fenomena Layangan Putus ini, mau tidak mau aku mulai mengikuti perkembangan film seri Layangan Putus tersebut.

Oke, pertama kali lihat cukup mengejutkan. Film itu sukses membuatku bergidik sambil banyak-banyak mengucap istighfar dan berdoa agar dijauhkan dari apa-apa yang tampil di layar gawaiku saat tengah menontonnya. “Cukup sudah,” pikirku. Ini sangat menyedihkan, mengkhawatirkan bahkan lebih seram dari film bergenre horor.

Ini bukan tentang alur cerita dalam film Layangan Putus, aku tidak akan banyak mengomentarinya. Namun yang menyedihkan, mengkhawatirkan bahkan boleh dibilang menakutkan yang ku bahas di sini adalah keadaan umat saat ini terkait film Layangan Putus.

Cerita dalam film tersebut notabene terinspirasi dari kisah nyata, maka kurang lebih seperti itulah gambaran realita keadaan umat saat ini. Tak terbayang pula bagaimana para aktor, sineas, dan pihak yang terlibat pada saat pembuatan film seperti itu. Film layangan putus telah membuka mataku akan realita sekarang dan sadar saat ini umat butuh dakwah, urgently!

Umat yang sudah terlalu lama dijauhkan dari norma-norma susila, dijauhkan dari budaya Timur yang terkenal akan sopan santun dan bersahaja, yang semua itu sudah ada lengkap dalam ajaran Islam. Ya, saat ini muslim sudah terlampau jauh dari Syaksiyyah Islamiyyah-nya (kepribadian Islam).

Saat ini kepribadian Islam seorang muslim sudah memudar. Aurat diumbar di mana-mana, tidak adanya aturan dalam pergaulan, interaksi lawan jenis tanpa batas. Meminum khamr lazimnya meminum minuman ringan bagaikan tidak ada keharaman di dalamnya. Perzinaan dipertontonkan bahkan difasilitasi, perselingkuhan yang berujung perceraian, pelakor, dan masih banyak lagi kemaksiatan lainnya. Astagfirullah, waliyadzu billah.

Mungkin selama ini aku dan keluargaku hidup di tengah zona aman. Membuatku jauh dari realita kehidupan saat ini sebagaimana yang terefleksikan dalam film Layangan Putus. Aku merasa sangat bersyukur berada di zona ini. Namun di luar sana sungguh kita sedang tidak baik-baik saja, keluarga muslim tengah terancam. Kita sebagai seorang muslim tidak bisa menutup mata dan diam begitu saja.

Bisa jadi isu ini lebih berbahaya dari permasalahan umat saat ini. Bisa menjadi cikal bakal permasalahan umat selanjutnya. Sudah seyogyanya keluarga muslim yang harmonis dan Islami akan menghasilkan generasi-generasi yang cemerlang.

Namun, sadarkah saat ini keluarga yang menjadi benteng terakhir kaum muslim dari serangan-serangan virus pemikiran Barat sekuler-kapitalisme, pluralisme, liberalisme, sosialisme, juga si serigala berbulu domba, moderasi, tengah terancam?

Tidak terlepas dari kisah nyata yang menginspirasi film Layangan Putus. Semua yang terjadi dalam cerita dan proses pembuatan film tersebut merupakan gambaran nyata ketika Islam dijauhkan dari kehidupan sehari-hari kaum muslim.

Itu semua terjadi karena sebagian besar muslim saat ini telah kehilangan jati dirinya sebagai seorang muslim. Berpikir dan bertindak-tanduk bukan berlandaskan syariat. Bahkan jauh dari nilai-nilai keislaman. Jika ini tidak segera dihentikan maka mau dibawa ke mana masa depan keluarga muslim nantinya?

Muslim harus mendapatkan kembali jati dirinya layaknya seorang muslim. Gambaran hal-hal buruk yang terjadi terkait film Layangan Putus dapat kita hindari jika saja seorang muslim sadar bahwa dirinya memiliki tugas yang mulia di muka bumi ini yaitu sebagai pengemban dakwah.

Sebagaimana firman Allah Swt. berikut,
وَلْتَكُنْ مِنْكُمْ أُمَّةٌ يَدْعُونَ إِلَى الْخَيْرِ وَيَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَيَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ ۚ وَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang maruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung” (Q.S. Ali-Imran 3: 104).

Al-Hafizh Ibnu Katsir rahimahullah menjelaskan bahwa hendaknya ada di antara kalian segolongan umat yang menegakkan perintah Allâh ini, untuk berdakwah menyerukan kebaikan dan amar makruf nahi mungkar. Dan yang dikehendaki dari ayat tersebut adalah agar hendaknya ada sekelompok dari umat ini yang mengemban tugas ini; meskipun hal itu wajib atas setiap individu sesuai dengan kapasitasnya masing-masing (Tafsir Ibnu Katsir: 2/91)

Dari dalil di atas, kita tahu pada dasarnya setiap muslim itu adalah pengemban dakwah yang sejatinya senantiasa membawa dakwah Islam itu sendiri dalam kesehariannya lalu menyebarkannya. Beramar makruf nahi mungkar. Ketika Muslim menyadari hal itu, otomatis haruslah memiliki syaksiyyah islamiyyah (kepribadian Islam).

Pada saat yang sama ia akan berpikir panjang sebelum bermaksiat, karena seorang muslim haruslah dapat berpikir cemerlang dengan mengedepankan akal ketimbang nafsunya. Itulah muslim yang ber-syaksiyyah islamiyyah, berlandaskan hukum kepada Al-Quran dan sunah. Dengan Nabi Muhammad Saw. sebagai suri teladannya.

Maka dari itu, dakwah diperlukan untuk mengembalikan jati diri Muslim yang sepatutnya. Bekali diri, pasangan, anak-anak, dan keluarga tercinta kita dengan akidah yang kokoh juga tsaqafah-tsaqafah Islam. Rumah tangga muslim haruslah dibekali dengan iman dan ilmu, bukan hanya kasih sayang. Dengan visi dan misi yang berorientasikan akhirat.

Muslim yang sudah memiliki kepribadian yang Islami dan sadar akan tugasnya di muka bumi. Insyaallah akan tegar jika menghadapi ‘layangan putus’ manapun, karena ada tujuan yang jauh lebih mulia dan berharga, yaitu akhirat.

Melalui dakwah, seorang muslim akan saling menguatkan. Dengan dakwah peradaban Islam akan kembali terwujud dan berjaya. Sebagaimana Rasulullah Saw. dan para sahabat telah membuktikannya 14 abad silam. Biidznillah. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button