Kecanggihan AI, Dilema Antara Harapan dan Kekhawatiran

Sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar selamat, yaitu dengan diterapkannya Islam secara kafah dan keseluruhan, yang tidak hanya mengatur ibadah ritual akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, politik, hukum dan pemerintahan.
Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)
JURNALVIBES.COM – AI atau kecerdasan buatan merupakan sistem yang bisa memahami, belajar dan berpikir seperti manusia sehingga bisa mengenali pola, memprediksi dan menyelesaikan permasalahan yang kompleks. AI bisa digunakan dalam berbagai bidang, seperti bisnis, kesehatan dan hiburan. Para peneliti kecerdasan buatan (AI), termasuk “Bapak AI” dunia menerbitkan riset yang mewanti-wanti pemerintah agar bersiap-siap menghadapi “ledakan kecerdasan” AI.
Para peneliti menulis bahwa dengan adanya ledakan kecerdasan buatan tersebut merupakan perkembangan teknologi yang paling penting dalam sejarah manusia. Kecerdasan yang memadatkan kemajuan bertahun-tahun menjadi hanya beberapa bulan bahkan bisa kurang, dimana bisa mengancam kendali manusia atas sistem AI dan mengikis pengawasan kekuasaan didalam atau antar negara serta cabang pemerintahan. (Cnnindonesia, 30/9/2026).
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa dengan adanya ledakan AI dapat menyebabkan perkembangan teknologi yang sangat cepat dari sistem superhuman AI sistem. AI bisa membawa dampak positif, misalnya dalam bidang medis dan teknologi da juga bisa mendatangkan risiko seperti ancaman biologis dan siber, hilangnya kendali dan keterlibatan manusia, serta adanya ancaman perang antarnegara.
Perkembangan teknologi ini juga bisa berpotensi mempercepat proses mitigasi resiko dan menjaga arah kemajuan teknologi. Para peneliti mendesak agar pemerintah segera bertindak melalui transparansi progres, dengan pembatasan kecepatan pengembangan, dan kerja sama penghentian proyek dengan pusat data, isolasi sistem otomatis serta membuat rencana tanggap darurat adanya ledakan kecerdasan buatan. Karena dengan adanya perkembangan AI atau kecerdasan buatan tersebut, ibarat pisau bermata dua. Di satu sisi AI memberikan efisiensi luar biasa yang mempermudah aktivitas manusia, tetapi disisi lain ada risiko dan bahaya baru apabila tidak dikelola dengan bijak.
Penggunaan AI bisa untuk kebaikan akan tetapi juga sangat dimungkinkan digunakan untuk kejahatan. Pada dasarnya teknologi merupakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan yang sifatnya universal dan siapapun boleh memfaatkannya. Akan tetapi tergantung dari cara pandang penggunanya untuk memanfaatkan, bisa untuk membangun dan sekaligus bisa untuk menghancurkan. Apalagi dalam sistem sekuler kapitalis yang memisahkan agama dari kehidupan, kejahatan didunia digital semakin marak dan dengan modus yang beraneka ragam.
Sistem sekuler kapitalis liberal peluang untuk memanfaatkan teknologi hanya didasarkan pada hawa nafsu. Dalam sistem kapitalis sekuler ini manusia bebas melakukan apa saja tanpa mengenal baik atau buruk, apalagi halal dan haram. Asal dianggap bermanfaat, dan hanya berstandar hawa nafsu saja mereka sah-sah saja melakukan apapun. Meskipun penyalahgunaan teknologi, itu menjadi hal yang biasa. Begitu juga dengan adanya teknologi AI, yang rawan sekali dipakai untuk melakukan tindak kejahatan, seperti menipu, menyebar hoaks, manipulasi data dan bahkan bisa menjadikan manusia tidak mau berpikir. Semua itu dilakukan dengan motivasi hanya untuk mendapatkan materi dan kepuasan diri semata.
Dalam sistem yang diterapkan hari ini dengan adanya ledakan kecerdasan buatan (AI) tanpa dikendalikan akidah dan syariat Islam, akan bisa berisiko pada kehancuran kehidupan manusia. Karena dalam Islam AI merupakan perkembangan teknologi yang dipandang sebagai wasilah atau sarana hasil dari perkembangan IPTEK yang sifatnya netral, dan secara hukum asal adalah mubah. Akan tetapi AI punya potensi kebaikan dan kejahatan yang sangat besar apabila benar atau salah dalam memanfaatkannya. Bagi umat muslim teknologi adalah merupakan sarana untuk menjadikan semakin taat kepada Allah Swt. Karena semua apa yang dilakukan akan dimintai pertanggung jawaban di akhirat nanti.
Manusia diberikan kemuliaan akal untuk memahami tanda-tanda kekuasaan Allah dan menjadi khalifah fiil ardhi. Dengan akal itulah yang membedakan manusia dengan makhluk yang lainnya dalam memahami ciptaan Allah. Melalui ilmu pengetahuan, manusia bisa membaca keteraturan alam dan perputaran planet sebagai bukti keberadaan dan keagungan Allah Swt. sebagai pencipta. Dan dengan akalnya digunakan untuk mentadaburi ayat-ayat Allah yang ada didalam Alqur’an untuk diterapkan di dalam kehidupan.
Sebagai khalifah fil ardh manusia diberi amanah untuk mengelola, memakmurkan dan menjaga keseimbangan di bumi. Dalam menjalankan tugasnya manusia tidak boleh sombong, merusak dan melakukan apapun harus dilandaskan pada syariatnya Allah. Juga dalam mengembangkan teknologi, harus berlandaskan pada aturannya Allah yang digunakan untuk kemaslahatan bersama. Saat manusia menggunakan akalnya yang dipandu dengan iman, maka peran kekhalifahan akan dilakukan dengan benar, sehingga alam semesta akan lestari dan kehidupan menjadi berkah.
Islam menetapkan hukum yang tegas, segala bentuk hasil pemikiran manusia menjadi hadarah yang dipengaruhi ideologi dan madaniyah yang sifatnya netral. Hadharah adalah kumpulan pemahaman tentang kehidupan yang sifatnya khusus dan sangat dipengaruhi oleh akidah atau pandangan hidup tertentu. Haram hukumnya umat Islam mengadopsi, melaksanakan dan menyebarkan selain hadharah Islam.
Sedangkan madaniyah adalah bentuk fisik dari benda yang terindra yang digunakan dalam aktivitas kehidupan. Madaniyah dibagi dua, yaitu madaniyah khusus yang bentuk fisik yang lahir atau dipengaruhi hadarah tertentu, misal salib, pakaian keagamaan atau patung peribadatan. Haram hukumnya umat Islam mengambil atau menggunakannya.
Madaniyah umum yang sifatnya netral, bentuk fisiknya hasil dari kemajuan sains, teknologi dan industri yang sifatnya universal dan tidak dipengaruhi oleh pandangan hidup tertentu. Misalnya kendaraan, perangkat teknologi seperti smartphone, AI, komputer, meja, kursi, alat-alat laboratorium. Hukumnya mubah atau boleh memanfaatkan atau diambil demi untuk kemaslahatan.
Sedangkan AI adalah buah perkembangan teknologi buatan manusia. Namun AI dipengaruhi oleh berbagai informasi, pemikiran dan ideologi yang diproses menjadi satu keputusan. AI digunakan untuk memudahkan banyak aspek dalam kehidupan seperti untuk meningkatkan presisi diagnosis medis, mengoptimalkan strategi pertahanan dan efisiensi sektor keuangan dan pertanian. AI di tangan manusia yang memiliki akidah yang kokoh dan ketundukan pada syariat akan memberikan kemaslahatan bagi manusia. Seperti untuk membantu manusia menegakkan keadilan dan menyebarkan kebaikan sesuai dengan syariat Islam. Sebaliknya, AI di tangan manusia kafir akan bahaya dan mendatangkan kerusakan, misalnya seperti pengembangan senjata otonom masal, manipulasi informasi hingga sistem ekonomi algoritmik yang melanggengkan kesenjangan sosial atau eksploitasi.
Oleh karena itu sistem kehidupan manusia harus diatur dengan syariat Islam agar selamat, yaitu dengan diterapkannya Islam secara kafah dan keseluruhan, yang tidak hanya mengatur ibadah ritual akan tetapi mencakup seluruh aspek kehidupan, seperti sosial, ekonomi, politik, hukum dan pemerintahan.
Hanya dengan diterapkan Islam secara kafah dan keseluruhan akan terwujud iklim yang sehat dan beradab dalam memanfaatkan teknologi digital seperti AI. Wallahu a’lam bish-shawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






