Opini

Anak Muda Wajib Melek Politik Islam

Hasil survey menunjukkan bahwa anak muda menganggap tingkat keterwakilan aspirasi masyarakat oleh partai politik masih rendah. Dengan kata lain, anak muda menganggap partai politik atau politisi di Indonesia tidak mampu mengatasi persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat.


Oleh: Fathimah A.S.

JURNALVIBES.COM – Indikator Politik Indonesia mengadakan Survei Nasional Suara Anak Muda tentang Isu-Isu Sosial Politik Bangsa. Survei ini dilakukan kepada 1.200 responden usia 17—21 tahun yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia.

Survei ini memuat antara lain tentang keadaan ekonomi negeri, kinerja demokrasi, tingkat kepercayaan kepada lembaga dan politisi, permasalahan publik yang paling penting untuk diselesaikan, dan penanganan Covid-19. Salah satu hasil survei tersebut yaitu sebanyak 64,7 persen anak muda menilai partai politik atau politisi di Indonesia tidak terlalu baik dalam mewakili aspirasi masyarakat. Dengan rincian, sebesar 12 persen anak muda menilai bahwa partai politik atau politikus tidak terlalu baik sama sekali dalam mewakili aspirasi rakyat. Kemudian, 52,7 persen menilai tidak terlalu baik (cnnindonesia.com).

Hasil survey tersebut menunjukkan bahwa anak muda menganggap tingkat keterwakilan aspirasi masyarakat oleh partai politik masih rendah. Dengan kata lain, anak muda menganggap partai politik atau politisi di Indonesia tidak mampu mengatasi persoalan yang ada di tengah-tengah masyarakat. Justru partai politik menyandang citra buruk yang berulang di hadapan masyarakat, seperti kerusuhan dalam badan partai, kisruh pemilu, kasus korupsi, dan lain sebagainya.

Di sisi lain, hasil survei yang beragam juga semakin memperlihatkan adanya kegalauan para pemuda akan permasalahan-permasalahan publik yang terjadi. Pemuda masih belum tergambar pemecahan solutif atas permasalahan negeri ini. Bahkan, dari simulasi pemilihan umum yang dilakukan dalam survey tersebut juga menunjukkan bahwa para pemuda masih berharap adanya penyempurnaan demokrasi sebagai solusi negeri ini.

Berharap pada sistem kapitalisme untuk memperbaiki kondisi perpolitikan negeri ini merupakan harapan semu. Karena, kapitalisme telah mempertahankan problem demi problem berulang tanpa adanya pemecahan solutif. Sudah sepantasnya, umat hanya berharap pada Islam yaitu satu-satunya yang mampu memberikan perubahan secara hakiki.

Politik Islam berbeda dengan politik kapitalisme. Islam memandang politik sebagai pengurusan urusan rakyat. Sehingga, penguasa tidak akan berfokus untuk mencari kekuasaan semata, akan tetapi akan mengatur urusan umat dengan menegakkan hukum-hukum syariat. Penguasa dibaiat hanya untuk menegakkan hukum-hukum syariat, sehingga kebijakan penguasa selalu mengutamakan kepentingan umat.

Penguasa dalam Islam memimpin atas dasar keimanan kepada Allah, sehingga ia tidak haus kekuasaan, karena menjadi pemimpin berarti bertanggung jawab atas siapa pun yang ada di bawah kepemimpinannya. Dengan konsekuensi yang berat tersebut, maka pemimpin tidak akan bermain-main hanya untuk kesenangan pribadi.

Penguasa dalam Islam tidak bersifat anti-kritik, siapapun baik muslim maupun non-muslim berhak untuk mengoreksi kebijakan penguasa apabila menyimpang dari hukum syariat.

Dalam Islam juga diperbolehkan untuk membuat partai politik. Akan tetapi, partai politik Islam berbeda jauh dengan partai politik Demokrasi. Partai politik islam memiliki peran penting yaitu sebagai penjaga penerapan hukum-hukum syariat yang dilakukan negara sehingga tetap dalam koridor yang benar. Partai politik islam senantiasa menjadikan dakwah sebagai aktivitas utamanya untuk menjaga keberlangsungan sistem islam. Bersama dengan umat, Partai Politik Islam akan senantiasa melakukan koreksi atas penguasa agar hukum-hukum syariat tetap ditegakkan.

Hanya dengan Sistem Islam inilah satu-satunya sistem yang mampu menyelesaikan problematika umat, bahkan mampu mewujudkan kehidupan yang aman, sejahtera, dan tercipta rahmatan lil ‘alamin. Sehingga, sebagai generasi muda, sudah seharusnya turut mengkaji dan memahami Politik Islam dan Sistem Islam yang bersumber dari Ilahi Rabbi. Dan meninggalkan sistem buatan manusia yang telah terbukti tidak mampu menyelesaikan problematika kehidupan. Atas dasar ketakwaan, sudah seharusnya generasi penerus peradaban turut memperjuangkan Islam sebagai sistem hidup kolektif.

Wallahu A’lam bi Shawwab []


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button