Buah Sistem Kapitalis, Tarif Listrik Naik Kehidupan Rakyat Semakin Sulit

Potret keburukan sistem kapitalisme sungguh nyata terlihat dalam semua bidang. Namun pada kenyataannya masih banyak rakyat yang tidak sadar akan rusaknya sistem yang saat ini di terapkan, kesulitan ekonomi yang ada saat ini pun akan terus tumbuh subur jika sistem kapitalis terus terapkan.
Oleh Uty Maryanti
JURNALVIBES.COM – Sejak beberapa pekan terakhir para ibu rumah tangga mengeluhkan harga bahan pokok naik terutama beras, belum selesai masalah naiknya bahan pokok ini masyarakat dikejutkan dengan tarif listrik yang dikabarkan akan mengalami kenaikan.
Dilansir dari Fajar ( 24/02/2024), di tengah mahalnya harga beras hingga membuat warga harus antre panjang ketika ada pasar murah sembako. PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) telah menetapkan tarif listrik untuk Maret 2024, terif listrik Maret ditetapkan bersamaan dengan pengumuman tarif listrik triwulan I pada Januari-Maret 2024. Pemerintah mempunyai pertimbangan dalam penetapan tarif listrik Januari-Maret 2024, ungkap Direktur Jendral Ketenagalistrikan Jisman P Hutajulu.
Kebijakan untuk tidak mengubah tarif listrik pada Januari-Maret 2024 berlaku bagi 13 pelanggan nonsubsidi dan 25 golongan pelanggan bersubsidi. Penetapan tarif listrik Januari-Maret 2024 sesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 8.
Listrik merupakan sumber energi yang dibutuhkan setiap kalangan, seharusnya negara mampu memenuhi kebutuhan rakyatnya dengan biaya yang terjangkau bahkan gratisn tapi nyatanya terus mengalami kenaikan harga, menilik betapa kaya sumber daya alam Indonesia, dimana Indonesia menduduki peringkat ketiga dunia negara penghasil baru bara setelah Cina dan India dengan volume produksi 725 juta ton atau 8,3% dari total produksi global.
Realita yang terjadi di tengah masyarakat akan timpangnya pengelolaan sumber energi listrik tidak lain adalah buah dari sistem kapitalisme yang diemban saat ini. Karena dalam sistem ekonomi kapitalisme kebebasan kepemilikan sangat diutamakan, yang menjadikan para pemodal atau kapital (swasta) legal untuk memiliki sumber daya alam. Akibatnya negara tidak berdaulat atas kekayaan di negerinya sendiri.
Potret keburukan sistem kapitalisme sungguh nyata terlihat dalam semua bidang. Namun pada kenyataannya masih banyak rakyat yang tidak sadar akan rusaknya sistem yang saat ini di terapkan, kesulitan ekonomi yang ada saat ini pun akan terus tumbuh subur jika sistem kapitalis terus diterapakan. Negara yang seharusnya berperan sebagai raa’in telah gagal dalam mewujudkan kesejahteraan umat. Rakyat dibiarkan berjuang sendiri jika ada subsidi pun tidak akan menyelesaikan masalah hingga akarnya, dan tidak akan menjamin terpenuhinya kebutuhan rakyat.
Sangat jauh berbeda jika pengelolaan dilandaskan pada sistem islam, dalam Islam ketentuan sumber daya alam jelas dimana jika jumlah SDA tidak terbatas maka kekayaan tersebut adalah milik umat yang haram untuk dimonopoli, negara berkewajiban menjamin terpenuhinya kebutuhan pokok masyarakatnya, termasuk listrik.
Maka dari itu SDA batu bara yang dikonversi menjadi energi listrik yang ada dibumi diposisikan sebagai kepemilikan umat atau rakyat, tidak boleh dieksploitasi oleh pihak tertentu apalagi dikuasai asing. Negaralah yang mengelolanya untuk kemudian dikembalikan lagi untuk kesejahteraan rakyatnya.
Dalam Islam tidak ada kebebasan kepemilikan seperti kapitalis. Sebagaimana yang disampaikan Nabi dalam sabdanya: “Kaum Muslim berserikat dalam tiga hal yaitu air, padang rumput , dan api dan harganya adalah haram”. (HR. Ibnu Majah).
Inilah pengelolaan SDA milik rakyat berdasarkan syariat Islam. Sistem Islam akan memberikan berbagai kemudahan untuk rakyat karena fungsi negara sebagai raa’in (pengurus dan pelayan rakyat) pelayanan yang diberikan tidak akan dilandaskan pada untung dan rugi karena itu adalah sebuah kewajiban yang harus dipenuhi bagi seorang khalifah, beda halnya seperti pada sistem kapitalisme yang hanya berfokus pada untung rugi. Menyediakan sumber energi listrik yang terjangkau bahkan gratis adalah kewajiban bagi negara dan hak bagi rakyat.
Maka sudah saatnya kita tinggalkan sistem yang banyak mendatangkan mudharat, sudah saatnya kita beralih pada sistem Islam sebuah sistem yang “rahmatan lil ‘alamin (rahmat bagi seluruh alam, kasih sayang bagi semesta alam)” yang mampu menjadi solusi atas semua masalah dalam kehidupan dan dapat pula membawa keberkahan dalam kehidupan rakyatnya. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






