Opini

Krisis Peran Ayah di Ujung Tanduk

Tuntutan ekonomi yang sulit dan tidak hadirnya negara meriayah keluarga Muslim menimbulkan banyak problem di berbagai lini kehidupan. Pemikiran materialistik bahwa kebahagiaan hanya berupa materi dan ekonomi, mengakibatkan banyak generasi yang meninggalkan tugas esensinya sebagai seorang muslim khususnya peran dalam keluarga.


Oleh Rhany
(Pemerhati Remaja Andoolo Sulawesi Tenggara)

JURNALVIBES.COM – Pernahkah kita membayangkan cinta pertama yang harusnya menjadi pelindung bagi buah hati, namun malah menjadi siluman yang menakutkan bahkan menjadi pembunuh berantai di dalam rumah sendiri?

Siapakah sosok tersebut? Yah betul sekali, ayah. Seorang ayah adalah penopang dan pelindung bagi keluarga sekaligus pemimpin di dalam keluarga. Namun nyatanya yang terjadi hari ini malah sebaliknya, peran itu tak dijalankan sama sekali, yang ada hanya tinggal identitasdan nama panggilan saja.

Dilansir dari kompas (8/12/2023), Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan AKBP Bintoro mengatakan, Panca Darmansyah (41) mengaku membunuh keempat anak kandungnya di dalam rumah kontrakan wilayah Jagakarsa, Jakarta Selatan.

Kasus di atas salah satu potret yang diekpos dan diviralkan, tidak terbayangkan kasus yang lain tidak disentuh media. Sangat mengiris hati manakala membaca berita di atas, seorang pelindung di dalam rumah tangga malah tega membunuh anaknya sendiri yang seharusnya tempat aman dan nyaman di dalam rumah tersebut.

Sangat ironis, di tengah banyaknya lembaga yang berusaha melindungi hak anak dari ancaman luar justru sebaliknya ancaman terbesar harus muncul dari tengah keluarga, tempat anak tumbuh dan berkembang, tempat berekspresi, bercerita, bermain, curhat, mengadu. Sebaliknya harus menjadi korban tindak kriminal kejahatan bahkan pembunuhan oleh cinta pertamanya sendiri.

Dalam sebuah artikel yang dikutip oleh narasiTV, Indonesia disebut juga menjadi negara fatherless ketiga di dunia. Hal ini berarti banyak anak Indonesia yang kekurangan sosok ayah dalam hidupnya. Hal tersebut disebutkan dalam program sosialisasi yang dilakukan mahasiswa Universitas Sebelas Maret (UNS) yang bertajuk “Peran Ayah dalam Proses Menurunkan Tingkat Fatherless Country Nomor 3 Terbanyak Di Dunia.”

Penelitian di atas harusnya menjadi patokan betapa di negeri ini sangat krisis peran ayah, dan peran ayah tak begitu dijalankan. Mindset atau pemikiran selama ini sosok ayah hanya berperan mencari nafkah untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, sedangkan pengasuhan anak hanya dibebankan kepada seorang istri saja. Padahal seharusnya saling berkolaborasi. Akibatnya ayah tidak punya kesempatan mengurus dan memberikan waktunya kepada anak dan istrinya. Selain itu, faktor perceraian juga mendukung. Istri dan suami tidak hidup rukun dan harmonis hingga berimbas kepada anak-anak yang setiap hari menyaksikan pertengkaran ayah dan ibunya.

Gelar ayah adalah karunia dari buah hati. Jika ingin mendapatkan gelar tentu harus sekolah dengan beberapa tahun yang melelahkan, namun ayah? Tiba-tiba dapat gelar tanpa melalui proses belajar. Sungguh miris jika ayah bukan lagi sosok yang dirindukan hingga wajar jika rentang menemukan anak yang tantrum, pembangkang kepada kedua orang tuanya. Sebab dia saja diperlakukan secara kasar.

Sudah menjadi lumrah hidup di lingkungan sekuler hari ini. Peran agama tak begitu dijalankan. Sosok ayah hilang begitu saja, padahal Islam sangat mendorong hadirnya pemimpin di dalam keluarga yang bisa menjalankan aturan Islam bagi individu.

Tuntutan ekonomi yang sulit dan tidak hadirnya negara meriayah keluarga Muslim menimbulkan banyak problem di berbagai lini kehidupan. Pemikiran materialistik bahwa kebahagiaan hanya berupa materi dan ekonomi, mengakibatkan banyak generasi yang meninggalkan tugas esensinya sebagai seorang muslim khususnya peran dalam keluarga.

Berlomba-lomba menghidupi anak dan istri tapi lupa tugas yang paling pokok. Padahal anak adalah amanah dan karunia dari Allah yang bisa menjadi Investasi jangka panjang dan bisa melanjutkan perjuangan, apalagi jika dididik dengan pendidikan islami. Sayangnya kurikulum pendidikan hari ini sangat jauh dari kata islami.

Tugas ini tidak akan berjalan dengan baik tanpa adanya dukungan yang baik. Ada tiga pihak yang bertanggung jawab mendidik generasi. Pertama, keluarga yang ditopang oleh ayah dan ibu. Kedua, masyarakat tempat di mana generasi tumbuh. Ketiga, negara yang bertugas mengontrol lingkungan yang baik. Jika ketiga elemen ini mampu berkolaborasi atas izin Allah akan tercipta masyarakat yang baik dan beradab. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button