Penjajahan Adalah Musuh Kita Semua

Negara dalam Islam akan memberlakukan kurikulum pendidikan Islam yang membentuk individu yang tak hanya cerdas secara intelektual tapi juga individu yang peka, berempati dan cakap serta bijak dalam menilai dan menyikapi sesuatu, apalagi menyikapi isu tentang penjajahan Israel terhadap Palestina.
Oleh Irohima
JURNALVIBES.COM – Mata dunia saat ini tertuju pada Gaza, Palestina. Genosida yang dilakukan Israel terhadap rakyat Palestina telah membuat banyak masyarakat dunia mengutuk, mengecam, dan menuntut para pihak terkait untuk menghentikan segala bentuk kejahatan kemanusiaan yang terjadi di sana. Aksi pembelaan terhadap Palestina kini mewabah hampir di setiap penjuru dunia.
Berbagai aksi dilakukan sebagai bentuk keberpihakan, mulai dari aksi jutaan manusia yang rela turun ke jalan demi menyuarakan kebebasan untuk Palestina, adu narasi di sosial media, hingga melakukan pemboikotan terhadap produk yang diyakini terafiliasi mendukung Israel.
Indonesia menjadi salah satu negara yang paling vokal menyuarakan kebebasan Palestina. Sejak perang pecah, sejumlah demo dengan skala kecil sampai skala besar telah dilakukan, namun yang menjadi sorotan adalah aksi yang dilakukan di Jakarta pada tanggal 5 November lalu. Media asing bahkan menuliskan bahwa aksi di Jakarta kemarin merupakan aksi yang terbesar sejak Israel melancarkan agresi ke Gaza pada 7 Oktober 2023.
Di tengah fenomena maraknya aksi mendukung Palestina, dan niat yang tulus untuk membela, terdengar kabar yang tidak sedap terdengar di telinga. Telah beredar sebuah video pengeroyokan oleh Ormas Manguni terhadap peserta aksi bela Palestina di Bitung hingga menyebabkan peserta tersebut tewas. Video viral tersebut telah diunggah oleh akun @MprAldo yang mengatakan bahwa aksi bela Palestina telah mendapatkan ijin resmi dari pihak kepolisian namun sayang kemudian di hadang oleh pasukan Manguni yang beranggapan bahwa aksi bela Palestina merupakan bentuk terorisme. Aksi sebenarnya telah berakhir dengan tenang, namun seseorang diduga membuat kekacauan dengan membakar bendera tauhid dan bendera Palestina, inilah kemudian yang memicu terjadinya bentrokan dan pengeroyokan (Gelora, 26/11/2023).
Ketidaktahuan akan fakta yang sebenarnya, dan minimnya literasi terkadang membuat orang salah memahami apa yang sedang terjadi. Saat ini, tak hanya peluru yang ramai menyasar warga Palestina tapi juga narasi bantahan Israel akan genosida tersebar luas menyasar warga dunia melalui media.
Berbagai informasi yang valid bahkan hoax bisa masuk dan berubah dalam hitungan jam bahkan detik. Sejatinya perang narasi tengah berlangsung saat ini dan sebagai pengguna media sosial yang baik, tentu bersikap bijak merupakan cara yang tepat dalam menyikapi setiap informasi. Namun sayang masih banyak masyarakat yang termakan isu murahan seperti adanya masyarakat yang menganggap perlawanan akan penjajahan di Palestina sebagai bentuk terorisme atau kejahatan kemanusiaan.
Mereka bahkan membela Israel secara membabi buta tanpa data dan pengetahuan sejarah. Sebagian besar orang hanya tahu tentang serangan Hamas di tanggal 7 Oktober 2023 sebagai pemicu perang Palestina-Israel, tanpa tahu Israel lah yang telah memulai semuanya. Sejak tahun 1948 Israel telah memulai penjajahannya di Palestina, mereka adalah imigran Yahudi tapi sangat tidak tahu diri, mengemis pertolongan di awalnya lalu kemudian mencuri, mencaplok dan merampas tanah penduduk Palestina untuk dikuasai hingga saat ini.
Kaum Yahudi semakin jumawa tatkala negara-negara Barat seperti Amerika, Inggris dan Perancis ikut menyokong mereka dan mendorong berdirinya negara Israel di tanah rampasan. Sungguh memalukan, negara-negara yang konon katanya menjunjung tinggi demokrasi dan HAM tapi nyatanya justru mereka sendiri yang mengkhianati demokrasi.
Akar masalah di Palestina yang sebenarnya adalah penjajahan, semua orang yang masih memiliki akal yang sehat akan sangat menentang penjajahan. Dalam kasus Palestina, sudah seharusnya semua orang apalagi muslim sepakat tanpa debat bahwa penjajahan di atas dunia harus dihapuskan karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan. Tidak pahamnya masyarakat akan akar masalah di Palestina inilah yang rentan menimbulkan konflik, ditambah dengan adanya berbagai propaganda barat yang ingin memecah belah persatuan.
Kerancuan dalam memahami situasi, dan menyikapi suatu masalah secara emosional merupakan cerminan dari kurangnya pengetahuan dan minimnya pendidikan.
Pada kasus Bitung, seharusnya negara mampu mencegah segala bentuk kekerasan yang berujung pada hilangnya nyawa seseorang melalui berbagai kebijakan yang diterapkan. Kebijakan yang diberlakukan saat ini terbukti tidak mampu mencegah apalagi mengatasi berbagai konflik yang terjadi di tengah masyarakat. Negara sebagai pengontrol setiap isu terkini di masyarakat juga tak berfungsi dengan baik.
Asas kebebasan beropini dan berekspresi tanpa batas yang jelas membuat banyak orang terkadang bertindak sesuka hati tanpa berpikir bahwa perbuatannya bisa jadi merugikan orang.
Dibutuhkan sebuah sistem yang mampu mengatasi dan mencegah kejadian semacam ini. Satu-satunya sistem yang seharusnya menjadi pilihan adalah sistem Islam. Sebuah sistem yang memiliki sistem pendidikan berkualitas yang mampu membangun kekuatan mental individu, baik pada level keluarga, masyarakat dan negara.
Negara dalam Islam akan memberlakukan kurikulum pendidikan Islam yang membentuk individu yang tak hanya cerdas secara intelektual tapi juga individu yang peka, berempati dan cakap serta bijak dalam menilai dan menyikapi sesuatu, apalagi menyikapi isu tentang penjajahan Israel terhadap Palestina. Dengan begitu, tak perlu ada perbedaan dalam mengartikan perlawanan rakyat Palestina terhadap Israel, dengan akal sehat dan kacamata yang benar semua akan bermuara pada satu kesimpulan bahwa yang dilakukan Israel adalah upaya penjajahan, genosida, pembersihan etnis, dan kejahatan kemanusiaan. Tak diragukan lagi Israel adalah teroris yang sebenarnya.
Negara dalam Islam juga akan menciptakan lingkungan yang aman dan kondusif, dan terjaga dari hal-hal negatif. Kebebasan beropini dan berekspresi akan dibatasi oleh syara. Informasi dan propaganda yang salah atau berpotensi menyesatkan dan menimbulkan perpecahan tentu sumbernya akan dicari dan ditangani. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by bing.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






