Opini

Riset Anak Bangsa Dibawa ke Mana ?

Islam membuat peneliti fokus menjalankan penelitiannya sehingga menjadi produk yang berfungsi sebagai solusi masalah masyarakat. Lalu negara yang akan mengeksekusi hasil risetnya. Jika suatu hasil riset perlu diperbanyak agar masyarakat dapat menggunakannya sebagai teknologi tepat guna, negara yang melakukan produksi massalnya. Bukan pihak swasta apalagi asing.


Oleh Daneen Mafaza
(Pemerhati Generasi)

JURNALVIBES.COM – Jauh panggang dari api. Itulah kiranya peribahasa yang menggambarkan penghargaan terhadap ilmu dalam kehidupan sekuler kapitalisme hari ini. Bagaimana tidak, penemuan anak bangsa dalam bidang riset dan teknologi lagi-lagi tidak mendapat tempat layak di dalam negeri. Hal ini sontak kembali menjadi sorotan publik .

Nikuba merupakan sebuah alat yang ditemukan oleh anak bangsa bernama Aryanto Misel (68). Penemu alat pengubah air menjadi bahan bakar kendaraan bernama Nikuba ini mengumumkan ia tak butuh bantuan pemerintah terkait pengembangan atas inovasinya tersebut. Pernyataan itu ia sampaikan dalam wawancara televisi yang kemudian diunggah ke media sosia. Ia menyampaikan kekecewaannya kepada pemerintah yang ia anggap telah mengucilkannya. (cnnindonesia.com, 9/7/2023)

Kondisi ini sungguh disayangkan. Penemuan yang inovatif dan berpotensi mempermudah mobilitas banyak orang itu justru tidak mendapat kesempatan dalam negeri sendiri. Akhirnya Aryanto memilih kerjasama dengan pihak asing. Namun lagi gelagat kepentingan pengusaha dalam sistem kapitalisme sudah tercium. Aryanto Misel di inta membeberkan formula Nikuba tanpa kompensasi dalam presentasinya di Italia. Meskipun hanya sekitar 40 % yang dibeberkan oleh Aryanto Misel namun akhirnya kesepakatan kerjasama tercapai.

Jika menilik kepada beberapa berita serupa bukan hanya penemuan Aryanto Misel. Banyak riset-riset sebelumnya yang juga di buat oleh anak bangsa namun justru berkembang di perusahaan negara asing. Dr. Eng Khoirul Anwar misalnya penemu cikal bakal generasi 4GLTE yang mengembangkan karyanya di Jepang dan dipakai oleh beberapa negara. Ia mengaku pemerintah dalam negeri tidak peka terhadap karya anak bangsa. Mobil Sport Selo bertenaga listrik karya Ricky Elson yang akhirnya “dipinang” oleh Malaysia sebab menunggu dua tahun tidak ada perkembangan di Indonesia. Artinya banyak SDM berkualitas dalam negeri yang tidak mendapat fasilitas oleh negara.

Jika bicara riset, ilmu pengetahuan dan teknologi maka tidaklah jauh dalam kehidupan kita. Karena terlihat betapa banyak riset mahasiswa yang hanya menjadi tumpukan buku. Berjajar di perpustakan kampus sampai berdebu. Tidak terjamah oleh pengembangan lanjutan namun hanya menjadi pajangan. Sungguh penampakan yang membuat miris.

Pengembangan yang terkesan lamban bahkan abai terhadap riset anak bangsa memang fenomena wajar di negeri ini. Pemerintah seakan kurang peduli jika tidak ada kepentingan kapital di sana. Nyatanya jika berkaitan dengan kerja sama pihak pengusaha jangankan perjanjian kerjasama, UU yang tidak adapun harus di goalkan demi tercapai kepentingan kapitalisme. Misal UUD Minerba dan Omnibus Law.

Demikianlah potret sistem hari ini. Sistem kapitalisme telah merampas tingginya harga ilmu. Kalah dengan cuan dan kesenangan turunannya. Ini akan sangat berbeda dalam sistem Islam yang sangat menghargai ilmu dan riset.

Riset dalam Islam juga tidak lepas dengan sistem politik Islam yaitu mewujudkan riset mandiri dan berdaulat. Setidaknya ada tiga poin penting dalam riset ilmu dan teknologi. Pertama, visi dan misi riset berlandaskan akidah Islam.

Kedua, negara memberi dukungan penuh pengelolaan riset.
Pendanaan infrastruktur, peningkatan kualitas SDM, sampai penentuan topik riset yang penting dilakukan untuk penyelesaian masalah di tengah masyarakat. Tentu dengan optimalnya peran negara dalam riset tersebut.
Upaya seperti ini akan menjadikan riset sehat, jauh dari kepentingan pemilik modal yang hanya mengharapkan cuan. Islam membuat peneliti fokus menjalankan penelitiannya sehingga menjadi produk yang berfungsi sebagai solusi masalah masyarakat.

Lalu negara yang akan mengeksekusi hasil risetnya. Jika suatu hasil riset perlu diperbanyak agar masyarakat dapat menggunakannya sebagai teknologi tepat guna, negara yang melakukan produksi massalnya. Bukan pihak swasta apalagi asing.

Ketiga, penerapan sistem politik dan ekonomi Islam yang bersifat kafah.

Penerapan sistem kehidupan Islam, terkhusus sistem pendidikan Islam yang didukung sistem ekonomi Islam dan sistem politik Islam meniscayakan negara mampu menjamin ketersediaan riset yang profesional.

Kaum Muslim menjadi mercusuar dalam bidang pengetahuan sebut saja Al-Khawarizmi, Mariyam al-Asturlabi ,dan Al-Ghazali. Mereka adalah ilmuwan luar biasa yang mendedikasikan ilmu dan hasil risetnya agar bermanfaat untuk umat.

Untuk itu para periset melakukan riset murni karena ingin memberikan karya intelektualitasnya untuk mendukung pemerintahan Islam yang menjamin hasil riset bermanfaat untuk umat. Semuanya hanya dan jika hanya terjadi dalam sistem Islam yang mulia. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by bing.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button