Opini
Trending

Ibu Mulia dengan Islam

Sistem Islam yang telah tercatat dalam sejarah selama berabad-abad mampu mendudukan ibu pada peran mulianya sebagai pendidik pertama dan utama generasi calon pewaris peradaban. Hanya dengan Islam keutuhan keluarga Muslim akan terjaga. Generasi emas akan terlahir sehingga bisa meneruskan tongkat estafet perjuangan.


Oleh Siti Uswatun Khasanah
(Aktivis Remaja Muslimah Kalsel)

JURNALVIBES.COM – Peran seorang ibu tentu sangat dibutuhkan dalam membangun sebuah peradaban. Ibu yang melahirkan dan mendidik generasi pewaris peradaban. Inilah yang menjadikan posisi ibu memiliki peran utama dalam sebuah peradaban. Lalu, bagaimana kondisi ibu hari ini? Bagaimana peradaban hari ini memperlakukan sosok ibu? Bagaimana sistem menjaga kemuliaan, fitrah dan tugas ibu?

Dikutip dari detiksulsel (20/12/2022), tanggal 22 Desember telah ditetapkan sebagai hari ibu, hal ini tertuang dalam Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 316 tahun 1959. PHI (Peringatan Hari Ibu) ditetapkan di Bandung tahun 1938 pada Kongres Perempuan III.
Menurut Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA), sejarah mencatat dicetuskannya Hari Ibu di Indonesia merupakan tonggak perjuangan perempuan untuk terlibat dalam upaya kemerdekaan bangsa dan pergerakan perempuan Indonesia dari masa ke masa dalam menyuarakan hak-haknya guna mendapatkan perlindungan dan mencapai kesetaraan.

Dikutip dari Tirto (13/12/2022), untuk menyesuaikan hal ini, maka KemenPPPA menetapkan tema PHI 2022 yaitu Perempuan Berdaya Indonesia Maju yang memiliki empat sub tema. Pertama, kewirausahaan perempuan mempercepat kesetaraan, mempercepat pemulihan. Kedua, Perempuan dan Digital Economy. Ketiga, Perempuan dan Kepemimpinan. Keempat, Perempuan Terlindungi, Perempuan Berdaya. Sub tema ini dilengkapi dengan latar belakang dan tujuannya masing-masing.

Dari tahun ke tahun Peringatan Hari Ibu diselenggarakan dengan membawa solusi dari permasalahan perempuan agar mendapatkan haknya, namun masalah tidak pernah tuntas. Hal ini disebabkan oleh cara pandang pragmatisme yang memandang sesuatu secara sempit, hanya berdasarkan fakta tanpa analisa, menjadikan fakta sebagai sumber hukum.

Mereka menganggap bahwa ruang gerak perempuan dihambat oleh ketidaksetaraan gender dan aturan agama yang menurut mereka harus dihapuskan. Permasalahan perempuan seperti diskriminasi perempuan, rendahnya akses perempuan terhadap ekonomi persoalan kemiskinan keluarga, akan dianggap selesai jika melibatkan perempuan dalam aktivitas ekonomi sebab melihat potensi perempuan yang dianggap mampu memajukan ekonomi bangsa, mampu menghapuskan persoalan seperti kemiskinan dan pengangguran. Namun, tidak ada pandangan lebih luas mengenai apa yang sejatinya menyebabkan kasus kemiskinan dan pengangguran meningkat? Apa yang menyebabkan perekonomian bangsa menurun?

Sudut pandang pragmatisme ini berkembang di tengah sistem kapitalis sekuler. Dalam sistem ini perempuan difokuskan pada aktivitas publik dan hanya dianggap penting ketika aktivitas publik utamanya menonjol dalam sektor ekonomi. Justru aktivitas rumah tangganya seperti mengurus suami, mengurus anak dan menata rumah dianggap sebagai masalah yang menghambat kesuksesan. Dianggap sebagai penyia-nyiaan waktu dan tenaga perempuan, bukan aktivitas yang produktif karena tidak menghasilkan uang.

Menurut kacamata kapitalis, aktivitas produktif adalah aktivitas yang menghasilkan uang, sedangkan perempuan yang beraktivitas di dalam rumah fokus mendidik anak, mengurus suami dan menjalankan kewajibannya sebagai ibu dan istri bukan dianggap sebagai aktivitas produktif. Maka dari itu kapitalis hanya membuat perempuan fokus pada pengembangan karier di luar rumah dan tak jarang p meninggalkan kewajibannya sebagai seorang ibu dan istri.

Ini salah satu faktor yang menyebabkan beberapa permasalahan terjadi seperti tidak harmonisnya hubungan istri dengan suami, renggangnya hubungan ibu dan anak, maupun kenakalan remaja karena anak tidak mendapat pendidikan dan kasih sayang secara utuh dari orang tuanya.

Kapitalisme memandang perempuan sebagai kekuatan sumber daya manusia dari segi ekonomi. Tanpa disadari, kapitalis meletakkan posisi perempuan sebagai faktor produksi, perlahan namun pasti telah mengeksploitasi potensi perempuan untuk kepentingan kaum kapitalis.

Perempuan terpaksa melakukan peran ganda sebagai tulang punggung, padahal bekerja dan mencari nafkah adalah tugas dan kewajiban seorang suami bukan istri. Maka dimunculkan pemikiran yang merusak, menganggap bahwa wanita yang berkarir di luar rumah tidak melakukan aktivitas domestik dianggap sebagai perempuan berkembang dan modern.

Akhirnya perempuan banyak terpengaruh dengan pemikiran Barat yang merusak seperti sekularisme, kapitalisme, hedonisme, feminisme dan lain sebagainya. Pemikiran yang menjauhkan ibu dari Islam, dan meletakkan standar kebahagiaan pada kekayaan. Menjadikan kesenangan dunia sebagai tujuan dan membuat perempuan berpikir seolah-olah dirinya tak butuh laki-laki karena mampu setara dengan laki-laki.

Pemikiran-pemikiran seperti ini justru merusak fitrah keibuan pada perempuan, pemikiran seperti ini mampu menghancurkan keluarga kaum Muslim.

Pemberdayaan seorang Ibu seharusnya dikembalikan pada fitrahnya. Wanita peran utamanya sangat mulia sebagai pendidik generasi calon pemimpin masa depan. Sebagaimana ketika Kartini meminta pendidikan untuk anak perempuan, bukan dengan tujuan mencapai kesetaraan seperti yang digaungkan kaum feminis melainkan sebagai modal mendidik generasi mendatang sesuai dengan apa yang Allah perintahkan. Perjuangan untuk kaum perempuan dilakukan Kartini sebab kesadaran akan pentingnya peran jaum perempuan dalam mendidik generasi.

Hal yang sama dilakukan oleh Fatimah Al-Fihri, seorang wanita pendiri universitas pertama di dunia yang memandang pendidikan adalah suatu hal yang sangat penting. Begitu pun dengan ibu para pemimpin, ibu seorang penakluk Muhammad Al-Fatih, ibu seorang pembebas Shalahuddin Al-Ayyubi. Ibu yang menyiapkan generasi dengan pendidikan yang sebaik-baiknya.

Menjadi ibu yang berhasil mendidik generasi bukan merupakan hal yang mudah, mereka membutuhkan sosok ayah sebagai partner dalam mendidik anak-anaknya. Selain itu seorang ibu membutuhkan sistem yang mampu mendukung perannya.

Dalam Islam, posisi seorang ibu tentu sangat mulia. Islam mengatur hubungan ibu dengan Allah, dengan anak, dengan ayahnya, juga mengatur hubungan ibu dengan masyarakat. Aturan Islam yang sempurna menjadikan ibu sebagai sosok yang mulia. Aturan Islam yang diterapkan secara kafah akan mengembalikan fitrah dan kemuliaan seorang Ibu.

Dalam Islam, ibu tidak perlu dan tidak wajib mencari nafkah, ibu akan difokuskan pada tugas utamanya yaitu mendidik generasi. Tidak seperti kapitalis yang justru membuat para wanita diharuskan bekerja. Dalam Islam tugas mencari nafkah diserahkan pada suami atau wali, lapangan pekerjaan pun akan diutamakan kepada yang memiliki kewajiban mencari nafkah itu. Apabila tidak memiliki suami atau wali, maka negara bertanggung jawab penuh untuk memenuhi kebutuhan perempuan. Maka perempuan hanya fokus pada tugas utamanya.

Untuk mengembalikan kemuliaan seorang ibu kita perlu menerapkan sistem yang telah terbukti mampu menjaga kemuliaan ibu dan melindungi keutuhan keluarga Muslim. Tidak ada alternatif lain selain kembali kepada sistem Islam yang telah tercatat dalam sejarah selama berabad-abad mampu mendudukan ibu pada peran mulianya sebagai pendidik pertama dan utama generasi calon pewaris peradaban.

Hanya dengan Islam keutuhan keluarga Muslim akan terjaga. Generasi emas akan terlahir sehingga bisa meneruskan tongkat estafet perjuangan. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by unsplash.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button