Islam Mampu Atasi Kaum L967

Tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa L967 ini adalah menyimpang dari akidah Islam, dan pelakunya mendapat laknat dari Allah, seperti kaum nabi Luth.
Oleh Sarah
(Mahasiswi)
JURNALVIBES.COM – Seorang dosen menanyakan kepada mahasiswa tentang jenis kelamin dan jawaban mahasiswa tersebut adalah identitas jender (non-biner). Uniknya, netizen yang membela mahasiswa tersebut mendeskripsikan hal itu adalah orientasi seksual atau preferred sexuality.
Kita dapat melihat tidak satupun mereka memahami teori-teori yang mereka kemukakan sendiri. Terlepas dari sikap dosen yang menuai kritik, mempertanyakan kepercayaan identitas jender justru menunjukkan beliau memiliki kemampuan berpikir kritis yang baik. Tidak menerima begitu saja sebuah ideologi populer yang tidak masuk (www.msn.com)
Ada alasan rasional terhadap identitas gender yang dianggap sebagai ‘belief’. Titik kritis yang seharusnya dibahas adalah sesat logika yang ada pada ideologi gender. Mengapa masyarakat diharuskan menerima ideologi yang tidak masuk akal? Hal ini diperparah lagi dengan argumen-argumen yang mengarah seks berbeda dengan gender. Namun sebenarnya argumen mereka tidak cukup kuat untuk menopang bangunan ideologi gender (springer.com).
Ideologi transgender, salah satu bentuk ekstrem perkembangan ideologi gender memiliki klaim-klaim yang kontradiktif. Inti dari ideologi transgender adalah klaim radikal bahwa perasaan menentukan realita. Berangkat dari sini, muncul tuntutan agar masyarakat mengikuti klaim ini.
Kaum pengikut transgender tidak peduli dengan bukti yang kontradiktif maupun kepentingan yang di luar kepentingan kelompoknya. Maka sering kita jumpai sensor dan algoritma (contohnya, Instagram digunakan menjadi taktik pembungkaman kritik terhadap politik ideologi transgender. Transgenderisme sebagai bentuk ekstrem dari Ideologi gender lebih mirip sebuah aliran kepercayaan (belief). (www.heritage.org)
Para ideolog transgenderisme acapkali memaksakan pendapat mereka diterima publik sebagai suatu kebenaran tanpa mau melewati pengecekan validitasnya. Misalnya, “gender itu fluid (cairan)” sampai “laki-laki yang merasa dirinya perempuan adalah perempuan” dan sejenisnya.
Truth-claim semacam ini perlu dibuktikan kesahihannya sebelum bisa diterima nalar. Tidak bisa memaksa untuk diterima hanya berlandaskan “political correctness.” Setiap kali truth-claim mereka dipertanyakan validitasnya, respon para ideolog transgenderisme selalu mencari pembenaran dan patronizing bahkan tone-deaf. Misalnya, “kalian transfobia” atau “kalian tidak bisa membedakan sex dan gender.” Lucunya kadang pakai upaya yang illiberal, contohnya: sensor dan online bullying.
Penolakan terhadap transgenderisme dapat dilakukan secara rasional dan tidak selalu rasis. Namun kaum ideolog transgenderisme yang tidak mampu menerima penolakan dari para ideolog lain. Belum lagi mereka yang suka membuat lompatan interpretasi yang rasis, contohnya: “minoritas L967Q tidak diterima di Indonesia karena kaum agamisnya intoleran.” Padahal logika penolakannya tidak semua bisa disederhanakan sebagai ‘politik homofobia’ yang artinya perlu adanya riset lebih jauh. Jenis politik para ideolog transgenderisme semacam ini justru membuat transgenderisme lebih seperti aliran kepercayaan berbasis politik.
Dalam dakwah aliran kepercayaan transgenderisme, basic truth-claim tidak boleh dipertanyakan apalagi dikritisi. Kebiasaan apologetiknya juga tidak berkembang. Ideologi jender termasuk di dalamnya ada L967Q ialah sebuah political movement. Ini adalah mengapa kita membicarakan ideologi jender di level ideologis maupun politik (oxfordbibliographies.com)
Seorang Muslim memiliki worldview (akidah) yang tidak menerima akidah lain apalagi memvalidasi perspektif ideologi gender yang bahkan tidak lulus uji penalaran. Sebagai Muslim, bahasan ini disesuaikan dengan pendirian seorang Muslim yaitu masalah cacat logika ideologi gender. Sungguh idiologi gender ini sangat bertentangan dengan akidah Islam. Allah pun telah menampakkan kemurkaannya pada kaum nabi Luth, a.s.
Tidaklah cukup untuk membuktikan bahwa L967 ini adalah menyimpang dari akidah Islam, dan pelakunya mendapat laknat dari Allah, seperti kaum nabi Luth. Sekularisme membuat eksis kaum L967 ini. Dengan menjunjung tinggi kebebasan mereka mendapat perlindungan.
Tinggal menunggu waktu saja jika kaum L967 ini dibiarkan eksis, maka nasib negeri ini akan hancur. Maka hanya dengan aturan Allah Swt sajalah para kaum nabi Luth jaman now ini tidak bisa eksis. Karena syariat Islam tidak akan membiarkan para kaum L967 dan pendukungnya eksis. Mereka akan diganjar sesuai dengan hukum syariat. Sehingga bisa menimbulkan efek jera. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






