Opini

Harga Kebutuhan Naik, Rakyat Tercekik

Dalam sistem Islam semua pengelolaan sumber daya alam itu berorientasi untuk rakyat, demi menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Semuanya dikelola secara mandiri yang hasilnya diberikan kepada rakyat keseluruhan. Baik dalam bentuk akses pendidikan, kesehatan, tunjangan langsung, atau harga kebutuhan pokok yang murah dan terjangkau.


Oleh Ariefdhianty V. H.

JURNALVIBES.COM – Menjelang Ramadhan, beberapa harga bahan pokok merangkak naik. Seperti minyak goreng, cabai, kedelai, dan gula pasir. Tidak ketinggalan, pemerintah juga tengah menaikkan harga LPG, serta BBM non subsidi. Semua kenaikan harga ini tentu sangat mempengaruhi daya beli masyarakat yang kian menurun di tengah kondisi ketidakpastian ekonomi.

Kenaikan ini dipicu oleh beberapa faktor, seperti antisipasi tingginya permintaan, dan konflik Rusia-Ukraina yang menyebabkan harga komoditas global meningkat. Kenaikan harga terjadi mulai dari gas minyak cair (LPG) non subsidi ke Rp15.500 per Kg hingga daging sapi yang diperkirakan menembus Rp150 ribu pada Lebaran 2022 (cnnindonesia.com, 01/03).

Semua kenaikan harga kebutuhan ini tentunya semakin memberatkan masyarakat. Belum keluar dari ketidakpastian ekonomi saat pandemi, beban hidup semakin bertambah dengan naiknya harga kebutuhan.

Padahal pendapatan saat pandemi tidak naik. Hal ini jelas tidak sebanding dengan harga kebutuhan yang meroket. Para pelaku usaha kecil juga mengalami banyak kesulitan. Bagaimana mungkin menaikkan omset dan keuntungan, jika untuk melakukan produksi saja bahan-bahannya mengalami kenaikan harga. Belum lagi, naiknya harga BBM non subsidi akan turut serta menyeret pada kenaikan tarif tol. Ini akan menyulitkan para pelaku UKM dalam melakukan distribusi barang yang cepat dan efisien.

Padahal Indonesia adalah negara yang kaya raya dengan sumber daya alam, baik di sektor pertambangan, perhutanan, maupun pertanian. Namun karena tata kelola serta sistem, hal itu tidak menjadikan masyarakat Indonesia makmur dan sejahtera. Kekayaan alam negara ini dilarikan oleh perusahaan asing dan swasta atas nama ladang investasi dan bisnis. Indonesia justru menjadi negara pengimpor dari bahan yang justru tersedia. Menjadikan negara ini sangat bergantung pada permainan bisnis dunia.

Pengusaha asing dan swasta mendapat untung, sedangkan masyarakat yang menanggung derita. Begitulah jerat lingkaran setan yang tiada berakhir mengikuti sistem kapitalisme. Sistem kapitalisme bukan untuk rakyat, melainkan untuk korporasi dan para pemilik modal. Demokrasi hanyalah kedok agar kapitalisme yang menghisap darah rakyat berlindung dibaliknya.

Padahal jika negeri ini mau menerapkan Islam, maka pengelolaan sumber daya alam seharusnya diserahkan kepada negara, bukan kepada swasta apalagi asing aseng. “Kaum Muslim berserikat dalam tiga perkara yaitu padang rumput, air, dan api.” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Hadis ini menyebutkan bahwa segala sesuatu yang berhubungan dengan hajat hidup orang banyak (hutan, laut, danau, perairan serta tambang dan migas) dikuasai oleh negara. Oleh karenanya, haram dimiliki atau dikelola perorangan apalagi asing. Islam mewajibkan negara mengelolanya, kemudian hasilnya diberikan pada rakyat, baik Muslim maupun nonmuslim.

Jelas, semua pengelolaan sumber daya alam itu berorientasi untuk rakyat, demi menciptakan kemakmuran dan kesejahteraan. Semuanya dikelola secara mandiri yang hasilnya diberikan kepada rakyat keseluruhan. Baik dalam bentuk akses pendidikan, kesehatan, tunjangan langsung, atau harga kebutuhan pokok yang murah dan terjangkau. Rakyat tidak akan terbebani lagi. Hanya saja semua itu terjadi dalam sistem Islam. Wallahu a’lam bisshawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button