Opini

Maling Data Berkeliaran, Mengapa Bisa Berkepanjangan?

Kemajuan teknologi dapat diraih saat negara berani mengambil Islam sebagai mabda. Keimanan kepada Allah Swt. mendorong kaum Muslim terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama teknologi itu tidak melanggar syara’, maka akan terus dikembangkan.


Oleh Henyk Widaryanti

JURNALVIBES.COM – Teknologi digital kini menjadi andalan. Segala keperluan yang memerlukan informasi sekarang memanfaatkan digitalisasi data. Hal ini dilakukan agar mudah mencari, mencocokkan, mengolah, dan menyimpan bukti. Sayangnya, tidak semua data yang tersimpan akan aman. Banyak pihak yang berusaha mencuri untuk berbagai tujuan.

Pada saat ini keamanan data sangat diperlukan, karena banyak maling berkeliaran. Mereka berselancar di dunia maya, kemudian menembus pertahanan untuk mencuri informasi. Dalam kurun waktu setahun, setidaknya enam kali negara ini mengalami pembobolan data. Seharusnya hal seperti itu tidak terjadi. Melihat hal ini, bagaimana seharusnya negara menyikapi?

Kebobolan Terus Berulang

Beberapa kasus kebobolan data sebagai berikut, pada bulan April data 130.000 pengguna facebook diduga bocor. Kemudian pada bulan Mei 279 juta data peserta Badan Penyelenggara Jaminan Sosial (BPJS) dijual di Raid Forum seharga 0,15 Bitcoin. Berlanjut pada bulan Juli, 463 ribu nasabah BRI Life diduga dijual dengan harga USD7.000 atau sekitar Rp101,6 juta.

Kasus kebocoran data tak sampai di situ. Pada bulan Agustus, ada 1,3 juta data pengguna e-HAC Kementerian Kesehatan yang bocor. Selanjutnya, di bulan September, NIK capres dan cawapres 2019 juga beredar luas di internet. Belum lama ini, pada bulan November ganti data base personel Polri juga bocor (Techbiz,19/11/21).

Lebih menakutkan lagi, perusahaan keamanan siber swasta Amerika Serikat, Insikt Group melaporkan, bahwa peretas Cina sedang berusaha mencuri data dari negara di kawasan Asia. Salah satu negara yang menjadi sasaran adalah Indonesia. Mereka mengungkapkan para peretas itu menerima dana dari negara (Cnnindonesia, 11/12/21).

Bahaya Kebocoran Data

Kebocoran data adalah hal yang berbahaya. Jika yang bocor data personal, bisa saja dimanfaatkan untuk kepentingan perorangan atau lembaga tertentu. Contohnya, membobol uang, meminjam uang mengatasnamakan orang lain, menipu, bahkan sampai melakukan tajasus atau memata-matai.

Lebih bahaya lagi jika data negara yang bocor. Segala rahasia pemerintahan terbuka. Negara pembobol akan memakai data itu untuk menghancurkan negara yang dibobol. Apalagi yang melakukan peretasan seperti Cina. Data yang dicuri bisa dimanfaatkan apa saja. Seperti kasus beberapa waktu yang lalu, NIK seorang WNI ternyata dipakai oleh WNA asal Cina.

Lemahnya Perlindungan

Kasus kebobolan berkali-kali ini membuktikan bahwa jaringan pengamanan data negeri ini belum kuat. Di samping itu, kondisi ini menguak betapa lemahnya negeri kita di bidang teknologi informatika. Bisa jadi kita memiliki ahli-ahli yang mumpuni. Namun karena tidak adanya pemberdayaan dan pembiayaan yang cukup, membuat teknologinya tertinggal dengan negara lain.

Selain itu, tidak diterapkannya mabda membuat negara kalah dalam bidang apapun. Mabda sebagai pandangan hidup akan mendorong negara untuk mengembangkan pengetahuan dan teknologi. Saat ini mabda yang memimpin adalah kapitalisme. Kapitalisme menjadikan sekularisme sebagai landasannya. Prinsip materialistis dari kapitalisme mendorong pengembannya untuk mewujudkan segala keinginannya, termasuk penguasaan teknologi. Inilah yang menyebabkan mereka memiliki slogan gold, glory, dan gospel.

Keinginan yang kuat untuk menguasai dunia membuat negara kapitalis melakukan segala cara. Salah satunya mengembangkan teknologi informasi. Mereka akan membuat negara tak ber-mabda mengikuti aturannya. Serta melarang negara lain melebihi kemampuannya.

Dari sini kita mengetahui dimana letak negeri khatulistiwa dan siapa negara yang mengemban mabda itu. Demokrasi yang dibanggakan hanya sebatas hiasan sistem pemerintahan bukan sebuah mabda. Jadi wajar saja kalau kalah dengan Cina dan Amerika Serikat.

Islam Mengembangkan Teknologi

Bagi Islam, kemajuan teknologi informasi tidak mustahil. Allah memerintahkan manusia agar mengembangkan ilmu pengetahuan. “Hai jama´ah jin dan manusia, jika kamu sanggup menembus (melintasi) penjuru langit dan bumi, maka lintasilah, kamu tidak dapat menembusnya kecuali dengan kekuatan.” (TQS. ar-Rahman: 33).

Dengan dasar ayat di atas, Islam menjadi pelopor kemajuan teknologi, di kala bangsa Eropa dalam kondisi gelap gulita. Saat itu Ilmuwan Muslim bernama Al Khawarizmi menemukan angka 0 dan 1, yang sekarang digunakan sebagai dasar ilmu pemrograman informatika.

Kemajuan teknologi dapat diraih saat negara berani mengambil Islam sebagai mabda. Keimanan kepada Allah Swt. mendorong kaum Muslim terus belajar dan mengembangkan ilmu pengetahuan. Selama teknologi itu tidak melanggar syara’, maka akan terus dikembangkan. Sistem keuangan Islam akan membiayai seluruh pengeluaran riset. Negara Islam akan mendapatkan dana dari pengelolaan sektor tambang, jizyah, fai, kharaj, ganimah, dll.

Penerapan kebijakan ini mendorong rakyat berlomba-lomba menjadi orang yang bermanfaat bagi orang lain. Dengan demikian negara akan menjadi maju, kuat dan tidak akan diremehkan. Meskipun ada negara yang berusaha membobol sistem keamanan digital negara Islam, mereka tidak akan sanggup. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button