Petani Menjerit, Harga Cabai Anjlok

Dalam Islam, kepemimpinan adalah alat penegak hukum-hukum Allah, yang amanahnya akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Melalui pelaksanaan hukum-hukum Allah inilah kesejahteraan dan keadilan di tengah umat akan bisa diwujudkan.
Oleh Opa Anggraena
JURNALVIBES.COM – Petani mengamuk, Anggota Komisi IV DPR RI, Slamet pun menanggapi video viral yang memperlihatkan seorang petani cabai mengamuk dan merusak kebun cabai miliknya. Kemarahan petani diduga akibat harga cabai di pasaran turun.
Slamet mengatakan, harga cabai yang anjlok di pasaran menandakan adanya masalah yang seharusnya menjadi perhatian serius dari pemerintah. “Pemerintah harus hadir melindungi petani Indonesia. Jangan hanya berpikir impor terus, sementara nasib petani kita semakin sengsara”, ujarnya. (M.rctiplus.com, 27/8/21)
Jelas, kebijakan impor yang pemerintah ambil akan menimbulkan kemarahan bagi para petani. Pusat Studi Ekonomi Kerakyatan Yogyakarta, Hempri Suyatna juga menyayangkan kebijakan adanya impor cabai yang dilakukan pemerintah Indonesia. Apalagi saat pandemi seperti ini, seharusnya pemerintah mengurangi impor cabai dari luar negeri. “Tetap impor saat pandemi, berimbas panenan produk lokal rentan terganggu seperti saat ini,” jelas Hempri saat dihubungi. (Ayoyogya.com, 29/8/2021)
Impor Kebijakan Semrawut
Selain impor komoditas yang dilegalkan pemerintah, anjloknya harga cabai juga disebabkan sepinya pasar akibat kebijakan PPKM, dengan alasan untuk menstabilkan harga namun terlihat sepeti berlepas dari tanggung jawab mengurusi petani. Cabai memang bukan komoditas strategis. Tapi tingkat konsumsi masyarakat terhadap cabai cukup tinggi. Wajar saja menanam cabai menjadi salah satu pilihan bagi sebagian petani.
Apalagi pada momen-momen tertentu, harga pasaran cabai cukup menggiurkan. Petani sangat semangat menanam saat musim tanam tiba, karena harapannya bisa menikmati keuntungan ketika panen tiba. Namun menjelang panen, tiba-tiba harga pasar malah anjlok. Tentu kecewa dan sakit hati dirasa.
Bukan sekali dua kali, sering kali petani dibuat kecewa. Kementrian Pertanian pun berdalih anjloknya harga adalah akibat faktor kelebihan produksi atau surplus yang membuat ketersediaan barang di pasar terlalu melimpah, sementara permintaan atas barang tersebut tetap atau malah berkurang. Selalu begini dan berulang. Mengapa ?
Semua harusnya bisa diantisipasi, terlebih ada peran pemerintah yang menyebabkan pasokan barang melimpah di pasaran. Seperti manajemen informasi dan data yang amburadul, ditambah kebijakan impor dengan dalih menjaga stabilitas harga dan memenuhi kebutuhan industri. Haruskah impor di saat terjadinya wabah seperti ini ?
Berulang kali kebijakan yang dikeluarkan selalu semrawut, bahkan yang menyangkut hajat hidup orang banyak yang sudah menjadi tanggung jawab pemerintah. Namun mengapa seolah pemerintah tidak menjadikan kepentingan rakyat sebagai hal yang utama?
Beginilah sistem sekuler kapitalis, membuat fungsi penyelenggaraan pemerintahan yang mempunyai tugas utama mengurusi rakyat beralih mengurusi kepentingan kelompoknya. Miris!
Islamlah yang Mampu Me-riayah Umat
Berbeda dengan sistem Islam. Pemerintah berperan sebagai pelayan sekaligus pelindung umat, bukan pebisnis atau pedagang. Mereka wajib memastikan kebutuhan umat dan keamanan terpenuhi dengan sebaik-baiknya. Sebagaimana wajib pula bagi mereka memastikan kedaulatan dan kemandirian negara tetap terjaga.
Tak ada kepentingan yang menempel dalam kekuasaan Islam selain harapan beroleh rida Allah Swt. Pemimpin yang lahir dari Islam memiliki sifat amanah, taat syariat sehingga takut dan tunduk pada hukum syara. Tidak akan terbuai dengan nafsu semata memperkaya untuk memperkaya diri dan abai akan tanggung jawabnya dalam me-riayah umat.
Dalam Islam, kepemimpinan adalah alat penegak hukum-hukum Allah, yang amanahnya akan dipertanggung jawabkan di akhirat. Melalui pelaksanaan hukum-hukum Allah inilah kesejahteraan dan keadilan di tengah umat akan bisa diwujudkan. Hukum-hukum Allah ini memberi solusi komprehensif atas seluruh problem manusia, termasuk urusan jaminan pangan dan jaminan berusaha bagi rakyatnya, orang per orang.
Dalam sistem Islamlah penguasa akan berperan sebagaimana mestinya dalam me-riayah umat. Mari kembali pada sistem Islam, kembali memperjuangkan penegakannya di bumi Allah. Wallhu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






