Kontes Miss Queen Diusung, L687 Diberi Panggung?

Pemimpin di dalam Islam harus dapat menjamin bahwa umat tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt.
Oleh Nurul Adha
JURNALVIBES.COM – Miss Queen Indonesia adalah ajang yang sempat menghebohkan publik baru-baru ini, lantaran kontes kecantikan ini hanya diperuntukkan bagi mereka kaum transgender yang menjadi pesertanya. Menariknya, kontes kecantikan bagi transgender yang diselenggarakan di Bali ini telah ada sejak beberapa tahun belakangan di Indonesia, bahkan dilansir dari kabarbanten.pikiran-rakyat.com (27-09-2021) dari Indonesia sendiri sudah terpilih tiga pemenang di setiap tahunnya sejak 2019 hingga 2021. Sangat menggemparkan publik, sebab finalis yang kini menjadi juara merupakan sosok yang telah menjadi sorotan publik lebih dulu lantaran merupakan seorang Selebgram dan keluarga selebritas.
Adapun kontes Miss Queen Indonesia ini sendiri adalah bagian dari ajang internasional yang digelar oleh negeri gajah putih, Thailand, yaitu Miss International Queen. Dilansir dari situs resmi Miss Queen International, kontes kecantikan ini turut digelar di berbagai negara lainnya seperti Malaysia, China, Jepang, Meksiko, dan lain sebagainya. Di mana pada akhirnya para pemenang di masing-masing negara yang menggelar kontes ini akan bertanding kembali di Pattaya, Thailand. Untuk memperebutkan posisi sebagai Miss International Queen di setiap tahunnya. (okezone.com 01/10/2021)
Kontes Miss International Queen sendiri merupakan kontes kecantikan prestisius bagi para transgender dunia, yang sudah digelar sejak tahun 2004 di Kota Pattaya, Thailand. Dilansir dari situs resmi Miss Queen International, tujuan diselenggarakannya kontes ini selain dalam rangka mempromosikan organisasi kegiatan pariwisata yang terdapat di Thailand, juga terselipkan beberapa poin lainnya yang menunjukkan bahwa kontes ini adalah bagian dari upaya barat meneguhkan hegemoninya dengan mengampanyekan ide busuk L687. Yaitu mewujudkan kesetaraan dan penerimaan dalam masyarakat dan meningkatkan standar kontes gadis Transgender supaya dapat diterima oleh masyarakat umum, baik Thailand maupun asing.
Barat dengan terbuka memperlihatkan rencana rusaknya menggelar kontes seperti ini dengan harapan agar diterima dan dianggap biasa. Adapun kontes yang diadakan di berbagai negara di dunia ini adalah pasar untuk mempromosikan agenda besar mereka, yaitu L687.
Tidak hanya itu, bukti hegemoni barat dalam mempromosikan L687 yang semakin terpantau ramai dan lancar, bahkan ditandai dengan pangsa pasar mereka yang juga mulai melebar hingga menyasar anak-anak melalui ads yang pernah diselipkan dalam tayangan YouTube kids yang disebut-sebut “didesain khusus untuk anak-anak” itu. (cnnindonesia.com, 14/09/2021)
Barat memang tidak pernah setengah-setengah merancang rencana busuk merusak generasi kaum Muslim. Bagaimana tidak, hal ini terlihat seperti saat ini dalam kontes kecantikan bagi para transgender 2021 ini mereka bahkan memenangkan peserta yang merupakan Selebgram sekaligus keluarga selebritas yang telah menjadi sorotan banyak pasang mata. Dalam hal ini akan semakin memperluas jangkauan dalam rangka mengiklankan kontes internasional tersebut berikut dengan ide L687nya. Sehingga akan semakin banyak yang menerima bahkan turut membela agar transgender dan L687 diterima sebagai bentuk hak mereka dan sebuah gender di masyarakat.
Padahal memilih untuk melakukan transgender menunjukan bahwa sesorang tersebut mengalami kelainan yang seharusnya diobati dengan dipertontonkan di hadapan publik seolah sebuah prestasi, lalu diberi penghargaan. Sebab jelas saja transgender adalah aib bukan prestasi. Seperti kritik yang dilontarkan oleh MUI, di antara banyaknya netizen yang mendukung dan mengapresiasi kemenangan Selebgram transgender di kontes Miss Queen tersebut (Republika.com, 03/10/2021).
Lingkungan yang hari ini jauh dari pemahaman Islam menjadi salah satu penyebab suburnya pemikiran rusak sehingga memilih untuk melakukan transgender. Diawali dengan bermain-main hingga akhirnya merasa nyaman dengan pakaian dan perilaku yang berkebalikan dengan gendernya.
Belum lagi ditambah dengan adanya kontes-kontes yang seperti ini, akan semakin membuat mereka merasa tidak sendirian. Justru sebaliknya mereka akan semakin termotivasi untuk mempercantik fisik dan intelektualnya agar dapat memenangkan penghargaan dalam kontes Miss Queen ini. Sebab selain materi, kontes ini menjanjikan kepopuleran bagi pemenangnya. Sangat ideal bagi manusia dalam sistem kapitalisme. Sehingga cita-cita duniawi yang diinginkan dalam hidup dapat tercapai.
Sementara negara bak gayung bersambut, kontes seperti ini memang tidak didukung secara langsung. Namun lewat sikap membiarkan, diam, dan seolah tidak peduli akan pergelaran kontes semacam ini justru memperlihatkan bahwa penguasa menganggap kontes ini tidak berbahaya sehingga dibiarkan begitu saja.
Padahal jelas Islam sangat melarang tindakan laki-laki yang menyerupai perempuan maupun sebaliknya. Hal ini telah tertuang dalam hadis berikut yang artinya, “Dari Ibnu Abbas Radhiyallahu anhuma, dia berkata: ‘Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki’ ” (HR. Al-Bukhâri, no. 5885; Abu Dawud, no. 4097; Tirmidzi, no. 2991)
Sementara hal-hal yang dilarang dalam Islam tidak hanya dibebankan kepada individu, namun Islam juga menghendaki negara akan turut andil dalam melakukan berbagai upaya dalam pencegahannya.
Peran negara dalam menentukan kebijakan sangatlah penting bagi kehidupan umat, sebab dalam Islam pemimpin adalah penjaga yang paling agung. Seperti yang terdapat dalam redaksi hadis berikut yang artinya, “Imam (Khalifah) adalah raa’in (pengurus rakyat) dan ia bertanggung jawab atas pengurusan rakyatnya” (HR al-Bukhari).
Pemimpin di dalam Islam harus dapat menjamin bahwa umat tidak terjerumus pada hal-hal yang dilarang oleh Allah Swt. Sebab ia sadar bahwa kelak akan ada hisab mengenai kekuasan yang dipegangnya, dan hal yang dilarang Allah Swt.justru akan membawa umat pada kerusakan dan berujung pada ke-mudharat-an.
Oleh karena itu pula, Islam sama sekali tidak terpisah dari kekuasaan. Seperti perkataan Imam al-Ghazali dalam kitabnya, Al-Iqtishad fi al- I’tiqad, menyatakan, “Agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar… Agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah.”
Jelaslah sudah bahwa Islam justru akan menjadikan kekuasaan sebagai sarana untuk menjamin diterapkannya seluruh syariat-Nya yang mulia, agar tercapainya kesejahteraan yang mendatangkan keberkahan dari langit dan bumi. Sehingga menjadi sebuah negeri yang baldatun thayyibatun warabbun ghafur. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






