Islam Menjaga Remaja dari Demoralisasi Akibat Kapitalisme

Bekal ilmu dan pembentukan mental remaja yang diberikan harus ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang terarah. Sehingga tidak heran jika kehidupan pemuda di era Islam jauh dari istilah hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya. Oleh karena itu, agar generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan.
Oleh Siti Aisah, S.Pd.
(Praktisi Pendidikan Kabupaten Subang)
JURNALVIBES.COM – Kondisi remaja saat ini sedang tidak baik-baik saja. Mereka terlibat kriminalitas hingga terjun drastis akhlaknya. demoralisasi yang minim akhlak ini terlihat dari seringnya berita di dunia maya dan kasat mata yang pelakunya adalah para remaja. Tidak hanya itu, demoralisasi yang dimaknai sebagai merosotnya atau menurunnya moral/akhlak seseorang ini tercermin pada perilaku yang bertentangan dengan norma dan nilai di dalam masyarakat.
Demoralisasi adalah fenomena yang dapat terjadi karena pengaruh berbagai faktor, salah satunya globalisasi. Jika pengaruh negatif globalisasi tidak diatasi dengan baik, hal ini dapat memengaruhi pola perilaku manusia yang tidak sesuai dengan norma atau budaya asli mereka.
.
Dilansir dari laman JawaPos (08/02/2024), remaja berusia kurang dari 17 tahun menjadi tersangka pembunuhan satu keluarga di Kecamatan Babulu Penajam Paser Utara. Pelaku yang beraksi di bawah pengaruh minuman keras itu tak hanya membunuh saja, tapi juga bersetubuh dengan dua korban, ibu dan anak yang sudah tidak bernyawa. Berikut ini adalah aturan hukum yang akan menjeratnya adalah pasal 340 KUHP subs pasal 338 KUHP subs Pasal 365 KUHP Jo Pasal 80 Ayat (3) Jo Pasal 76 c UU Perlindungan Anak dengan ancaman hukuman mati atau seumur hidup.
Pelaku yang merupakan pelajar SMK kelas 3 ini merupakan salah satu potret buram pendidikan Indonesia yang gagal mewujudkan siswa didik yang berkepribadian terpuji, namun tega melakukan perbuatan sadis dan keji. Aksinya yang dilatarbelakangi karena asmara dan percekcokan masalah sepela, tapi berujung kehilangan nyawa. Kasus ini adalah kasus yang menjadi sekian kalinya remaja berbuat kriminalitas.
Tak bisa dimungkiri madrasah pertama seorang anak adalah keluarga. Sehingga untuk membuat remaja yang taat harus diawali dari penanaman kebiasaan dan contoh baik dari lingkungannya khususnya orang tua. Seperti membiasakan anak yang masih kecil untuk berkepribadian Islam, mampu mengendalikan emosi. Lalu ditambah dengan akidah yang kuat. Harapannya tidak lain agar mereka bisa menjadi generasi khairu ummah.
Sebagai sebuah agama dan ideologi, Islam mempunyai cara untuk mempersiapkan generasi berkualitas serta cara menjaga negara agar sabilulungan dan dengan baik antara masyarakat serta negara demi terciptanya generasi berkualitas. Menariknya yang harus dikritisi dari sistem kapitalisme yang diterapkan di negeri ini adalah karena sistem keseluruhan saat ini tidak mampu menjaga mereka. Bahkan para remaja yang lahir dari sistem ini cenderung bersifat amoral dan merusak.
Faktanya mereka tak ubahnya seperti “Anak ayam kehilangan induknya”. Mereka dicekoki budaya hedonisme, sekolah hanya dicapai sampai sebatas kertas yang bersegel. Namun, pada nyatanya mereka hanya dijadikan bak budak kapitalis, meraih pekerja dengan berpenghasilan rendah. Hingga tak ayal kurikulum pendidikan saat ini dirasa hanya untuk memuluskan kalangan elite politik oligarki dan para kapital.
Sesungguhnya pemuda atau remaja adalah generasi penerus. Oleh Karena itu, Islam memberikan perhatian besar kepada mereka, bahkan mulai dari usia dini. Ironisnya, Sistem saat ini kapitalisme-demokrasi hanya mengedepankan kebebasan. Walhasil remaja dalam sistem ini bak bebas melakukan tindakan mendekati zina (baca: pacaran). Mereka saat berbuat apapun sesuka hati tanpa adanya filter agama. Mereka pun memisahkan aturan kehidupan dan agama. Saat emosinya memuncak tak terkendali dengan akal yang sehat.
Di sisi lain, peredaran minuman keras dikalangan remaja menunjukkan efek buruknya yang membahayakan manusia, namun luput dari pengawasan negara.
Berbeda halnya dengan sistem Islam yang melahirkan remaja yang berkualitas. Tinta emas peradaban Islam mencatat banyak remaja yang berkilau namanya karena memuliakan Islam. Sejak generasi sahabat sampai Sultan Muhammad Al-Fatih Penakluk Konstantinopel yang menjadi pintu gerbang mulainya penyebaran Islam ke Eropa. Serta kejayaan Islam lainnya banyak dibangkitkan oleh kalangan muda. Hal ini pun tak lepas dari peran para ulama Salafush salih yang mampu mendidik generasi. Mereka paham, bahwa menyia-nyiakan pembinaan kaum muda sama artinya dengan merencanakan kehancuran suatu bangsa di masa depan.
Dengan demikian bekal ilmu dan pembentukan mental remaja yang diberikan harus ditopang dengan pembentukan sikap dan nafsiyah yang terarah. Sehingga tidak heran jika kehidupan pemuda di era Islam jauh dari istilah hura-hura, dugem dan kehidupan hedonistik lainnya. Oleh karenanya, agar generasi muda tidak terperosok dalam kesia-siaan, maka mereka harus disibukkan dengan ketaatan. Baik membaca, mendengar atau menghafal Al-Quran, hadis, kitab-kitab tsaqafah para ulama, atau berdakwah di tengah-tengah umat dengan mengajar di masjid, kantor, tempat keramaian, dan sebagainya. Mereka juga bisa menyibukkan diri dengan melakukan perjalanan mencari ilmu, berjihad, atau yang lain.
Berikut ini adalah beberapa hal praktis yang bisa ditiru dilakukan remaja.
Pertama, tanamkan keimanan, hujamkan dalam hati bahwa Islam adalah agama sempurna. Artinya Islam bukan hanya ibadah yang menyangkut salat, puasa, zakat dan haji saja, tapi mengatur setiap sendi-sendi kehidupan, baik itu urusan ekonomi, pendidikan, politik ataupun cinta-cintaan ala remaja yang perlu dibina dengan Islam.
Kedua, mengkaji Islam sebagai ideologi, bukan hanya sekadar memuaskan dahaga ilmu pengetahuan belakang. Setelah itu mereka akan memahami dan terikat terhadap hukum syara tanpa syarat.
Ketiga, tidak bersifat oportunis. Artinya tidak terpesona dengan gemerlap dunia dan lebih mementingkan duniawi saja. Tapi bukan pula bersikap netral yang seperti acuh tak acuh akan kondisi lingkungannya, tetapi pikiran dan perasaannya terkait pada Islam sehingga mereka tidak salah arah.
Keempat, ikut melibatkan diri dalam peran dakwah Islam demi tegaknya syariah. Sayangnya hal ini tidak mampu dilakukan sendiri, membentuk kelompok dakwah yang mempunyai misi sama dalam melanjutkan kehidupan Islam.
Langkah-langkah ini tidak serta-merta mampu dilakukan perorangan baik itu dilakukan oleh kelompok kecil bernama keluarga atau beberapa keluarga dalam wujud masyarakat. Tapi harus berupa sistem atau aturan yang mengatur segala urusan rakyat. Hal ini membutuhkan peran negara sebagai sebuah sistem yang akan memberikan suasana kondusif untuk terciptanya generasi penerus yang berkualitas.
Dengannya generasi awal akan dibina pertama kali oleh keluarga, lalu masyarakat akan mampu menjaga dan memantau perkembangannya dengan memisahkan segala akses yang bisa menyebabkan hal buruk. Negara dalam hal ini mendukungnya dengan mengeluarkan berbagai jenis aturan dan kebijakan. Sehingga remaja yang berdaya dan berkualitas akan bisa lahir dari peradaban yang berkualitas. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






