
Dimensi Islam sangat luas, meliputi aturan peribadatan antara hamba dan Allah, hubungan antara seseorang dengan dirinya sendiri, plus interaksi bersama sesamanya. Maka cakupan ajaran Islam tidak bisa disempitkan hanya pada ranah vertikal. Karena inilah Islam disebut sebagai the way of life.
Oleh Mini Salsabila
(Muslimah Indramayu)
JURNALVIBES.COM – Miris, fenomena perundungan masih menjadi PR besar hingga hari ini. Semakin hari kasusnya semakin bertambah. Tentu hal ini menimbulkan kekhawatiran tersendiri.
Menurut federasi serikat guru Indonesia (FSGI) terdapat 30 kasus perundungan di sekolah sepanjang 2023. Angka itu meningkat dari tahun sebelumnya dengan total 21 kasus. Sebanyak 80% kasus perundungan pada 2023 terjadi di sekolah yang dinaungi kementerian pendidikan kebudayaan riset dan teknologi (Kemendikbudristek) dan 20% di sekolah yang dinaungi kementerian agama. Menurut ketua Dewan pakar FSGI Retno Listyarti, 30 kasus tersebut merupakan kasus yang sudah dilaporkan kepada pihak berwenang dan diproses. (Kompas, 31/12/23).
Terbaru, video perundungan di Batam viral. Polresta Barelang telah menangkap 4 tersangka dari kasus tersebut. Kapolresta Barelang Kombes pol Nugroho Tri N menerangkan para pelaku menganiaya dua remaja berusia 17 dan 14 tahun. Salah satu korban dituduh mencuri barang milik salah satu pelaku. Berujung pada saling ejek dan sakit hati, pelaku mengajak tiga temannya untuk melakukan perundungan. (kompas, 2/03/24).
Perundungan dengan kekerasan fisik dan mental yang terjadi hari ini tentu dapat memberikan dampak buruk bagi korban berupa gangguan mental dan bahkan gangguan sosial. Bahkan tidak sedikit sampai pada gangguan fisik hingga menyebabkan kematian. Pada tahun 2015 WHO melalui Global School Based Student Half (GSHS ) melakukan survei. Survei tersebut menggambarkan bahwa dampak dari perundungan menyebabkan satu dari 20 remaja di Indonesia memiliki keinginan untuk bunuh diri.
Perilaku membully ini telah menjadi ancaman bagi generasi muda ke depannya. Mungkin anak-anak kita yang akan menjadi korban atau malah menjadi pembully. Maka penting untuk selalu waspada. Di sisi lain, meskipun berbagai pihak termasuk negara telah berupaya untuk menyelesaikan problem ini, namun belum nampak memberikan efek, justru problem ini terus berulang. Itulah yang akhirnya menjadi pertanyaan besar, terkait apa akar penyebab dari permasalahan ini.
Sejatinya, perilaku anak dipengaruhi oleh lingkungan. Kalau lingkungannya baik maka perilakunya juga baik, begitu pun sebaliknya. Lingkungan terdiri dari keluarga, masyarakat, pendidikan atau sekolah, dan aturan negara. Namun sayangnya lingkungan sosial saat ini dipengaruhi oleh penerapan sistem kehidupan sekuler, yaitu memisahkan syariat agama dari keseharian.
Akibatnya, pada lingkup terkecil yakni keluarga, orang tua tidak lagi menjadi pendidik awal anak-anaknya, juga kosong dari menanamkan ajaran Islam sejak dini. Bahkan ketika anaknya melakukan perilaku buruk terhadap temannya, alih-alih memberikan pemahaman atau hukuman, justru orang tua membela dan berusaha membenarkan perilaku si anak. Belum lagi ketika orang tua disibukkan dengan pekerjaan, sehingga anak-anak merasa kurang perhatian dari orang tuanya. Lalu jadilah mereka mencari pelarian di luar rumah.
Pendidikan bercorak sekuler hari ini pun makin memperparah. Anak-anak di sekolah hanya dididik bagaimana mendapatkan nilai akademis yang baik, namun tidak disertai dengan pemahaman agama. Sehingga mereka tidak memahami mana perilaku yang baik dan mana yang buruk. Dari sinilah muncul pribadi jahat yang tidak takut dengan konsekuensi.
Ditambah lagi kurangnya kontrol masyarakat akibat individualisme. Masyarakat seolah acuh ketika menemukan perilaku buruk anak di sekitarnya. Asal hal itu tidak menimpa anaknya maka mereka tidak akan peduli. Puncaknya, negara sebagai institusi tertinggi penjamin keamanan bagi warganya, termasuk anak-anak, malah tidak memberikan solusi tepat baik dari segi preventif maupun kuratif. Makanya tak aneh jika kasus perundingan, terus bermunculan.
Sungguh malang nasib generasi saat ini. Anak-anak terbentuk menjadi pribadi yang buruk tanpa ada yang peduli. Padahal kemajuan sebuah bangsa bergantung pada kualitas generasinya. Inilah akibat dari mendiamkan Islam dan memilih patron kehidupan sekuler.
Sejatinya sudah jauh-jauh hari Islam memiliki solusinya. 15 abad silam, Rasul saw. telah dibimbing oleh Allah, Al-Khaliq Al-Mudabbir, untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya. Mengubah generasi jahiliah menjadi generasi luhur dan unggul, baik secara moralitas juga level pemikirannya.
Di tangan Rasul saw. Islam disampaikan bukan hanya sebagai agama atau kepercayaan ritual, tapi juga sebagai mabda. Mabda dimaknai sistem berkehidupan yang holistik, sempurna dan menyeluruh. Dimensi Islam sangat luas, meliputi aturan peribadatan antara hamba dan Allah, hubungan antara seseorang dengan dirinya sendiri, plus interaksi bersama sesamanya. Maka cakupan ajaran Islam tidak bisa disempitkan hanya pada ranah vertikal. Karena inilah Islam disebut sebagai the way of life.
Pada saat Islam tertanam dalam benak anak sebagai karakter, maka perlakuannya pada teman sebaya, atau bahkan yang lebih muda akan disesuaikan dengan mabda tadi. Imannya akan tunduk pada dalil-dalil berikut: “Barangsiapa yang tidak menyayangi, niscaya ia tidak akan disayangi.” (HR Al-Bukhari). Dalam hadis lain pun disebutkan: “Rasulullah Saw., bersabda: ‘Wahai Anas, hormati yang lebih tua dan sayangi yang lebih muda, maka kau akan menemaniku di surga.'” (HR Baihaqi).
Dan pada hadis yang makhsyur, berikut ini: “Perumpamaan sesama kaum mukmin dalam menjaga hubungan kasih sayang dan kebersamaan seperti satu tubuh, jika satu anggota merasakan sakit, maka akan membuat seluruh tubuhnya terjaga dan merasakan demam.” (HR Muslim No. 2586). Kemudian seorang anak pun akan ditanamkan sekaligus diajak ber-tadabbur surat Al-Hujurat ayat 10: “Orang-orang beriman itu sesungguhnya bersaudara. Sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.”
Inilah sebagian ajaran kasih sayang dalam Islam. Kepada semua manusia, selagi tidak menyerang dan memusuhi Islam, maka haruslah melindungi dan menjaga. Utamanya lagi kepada sesama yang mengimani Allah. Dilarang keras untuk menyakitinya, jangankan fisik, hatinya saja diperhatikan, tidak boleh dilukai. Sebenarnya tidak berhenti sampai di sini, ajaran Islam merupakan rahmat bagi semesta, sehingga terhadap hewan dan tetumbuhan pun tidak boleh semena-mena.
Tinggal bagaimana memikirkan cara sesuai tuntunan syara’, agar ajaran Islam bisa tersampaikan dan terterapkan kepada seluruh umat, khususnya generasi muda. Maka ajakan untuk mengambil Islam sebagai sistem yang mengatur kehidupan ini menjadi suatu yang penting dan genting. Tentu bagi setiap hati yang terketuk dan prihatin terhadap kondisi anak muda di bawah kungkungan sistem sekuler saat ini. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






