Krisis Minyak Goreng, Kebutuhan Rakyat Bukan Prioritas?

Dalam Islam rakyat adalah prioritas, industri dalam negara Islam ada untuk menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan untuk memenuhi keserakahan pengusaha.
Oleh Arini F. Aprila
JURNALVIBES.COM – Rakyat Indonesia saat ini ibarat ayam yang mati di lumbung padi. Yang menyakitkan ternyata sebelumnya penguasa ayam sering membeli padi di lumbung orang untuk makan para ayam setiap hari. Pertanyaannya, kemana perginya padi-padi di lumbung mereka?
Negara pengekspor CPO (Crude Palm Oil) terbesar dunia mengalami krisis minyak goreng saat ini. Rakyat harus bersusah payah, mengantre berjam-jam hanya untuk mendapatkan seliter minyak goreng. Masih lebih baik bisa mengantre, di beberapa daerah kebutuhan sehari-hari para ibu ini bahkan tidak bisa ditemui, mereka terpaksa membuat minyak goreng sendiri. Haruskah kita bertepuk tangan, atas “prestasi” yang diciptakan negeri ini? Juara pertama lomba melucu sedunia.
CPO (Crude Palm Oil) adalah bahan baku untuk produksi minyak goreng, sebanyak 58 persen CPO dunia diproduksi di negara ini. Menurut laporan United State Department of Agriculture 2019, Indonesia menjadi negara dengan penghasil minyak kelapa sawit terbanyak di muka bumi. Pada 2019, Indonesia memproduksi minyak sawit mencapai 42,50 per juta metrik ton serta penyumbang 58 persen produksi minyak kelapa sawit dunia (tempo.co, 7/10/2020).
Artinya, harusnya Indonesia menjadi lumbung minyak goreng yang melimpah. Karena CPO hasil produksi dalam negeri ini banyak jumlahnya. Namun, lucunya lagi, ternyata selama ini lumbung minyak sawit mengimpor minyak goreng dari negara lain. BPS (Badan Pusat Statistik) mencatat pada tahun 2021 Indonesia mengimpor minyak goreng sebanyak 56,43 juta kg atau senilai Rp. 1,34 T. Di awal 2022 kembali mengimpor sebanyak 4,42 juta kg atau senilai US$ 8,2 juta.
Apa yang sebenarnya terjadi di negara ini? Mengapa untuk sekedar hidup rasional saja rasanya sulit sekali? Kemana CPO yang jumlahnya berjuta-juta ton itu?
Pertama, CPO diekspor karena lebih menguntungkan. Menurut Direktur Utama Perum Bulog, Budi Waseso (Buwas), salah satu penyebab minyak goreng mahal dan langka karena pasokan minyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO) produksi dalam negeri, lebih banyak diekspor. “Sebenarnya kalau kita lihat, produksi banyak, tapi CPO-nya sekarang diekspor dibandingkan untuk kepentingan dalam negeri. Ya wajar wajar saja orang berbisnis (produsen CPO) itu mencari keuntungan sebanyak-banyak mungkin,” kata Buwas dalam konferensi pers di gedung Bulog, Jakarta (idntimes.com, 28/12/2021).
Kedua, konsumsi naik untuk biodiesel dan eleokimia, namun turun untuk industri pangan. Direktur Eksekutif Gapki Mukti Sardjono mengatakan konsumsi CPO terbesar adalah untuk biodiesel sebesar 732.000 ton, diikuti untuk industri pangan sebesar 591.000 ton dan oleokimia 183.000 ton (sindonews.com, 11/3/2022).
Ketiga. minyak goreng diekspor karena harganya lebih mahal. Ketika CPO sudah diolah menjadi minyak goreng pun, rakyat masih tetap tidak bisa mendapatkannya.
Menteri Perdagangan Muhammad Lutfi mengatakan terjadi kebocoran minyak goreng murah hasil domestic market obligation atau DMO di tingkat distributor yang menyebabkan harga tertahan tinggi hingga pekan ini. Kebocoran distribusi itu, kata Lutfi, disebabkan karena minyak goreng harga murah itu sebagian disalurkan ke industri dan diselundupkan ke luar negeri mengikuti harga internasional yang relatif tinggi ketimbang harga jual domestik (ekonomi.bisnis.com, 09/03/2022).
Seharusnya ketika rakyat kesulitan mendapatkan minyak goreng, maka kurangi ekspor, penuhi kebutuhan CPO dalam negeri terlebih dahulu agar minyak goreng untuk rakyat tercukupi, bukan mengimpor minyak gorengnya. Apakah lagi-lagi ini urusan cuan?
Nasib rakyat di negara ini sungguh mengenaskan, rakyat bukanlah prioritas. Karena yang menjadi prioritas bagi penguasa adalah pengusaha, sementara prioritas pengusaha adalah cuan. Jadi wajar saja jika tak ada langkah kongkret untuk menyelesaikan penderitaan rakyat ini. Karena rakyat bukanlah siapa-siapa di negeri kaya raya ini. Penguasanya adalah mereka, para kapital yang disuburkan dalam sistem kehidupan demokrasi kapitalisme saat ini.
Lalu, adakah tempat dimana rakyat dapat merasa berharga? Ada! Dalam sistem kehidupan Islam, dimana segala aturan yang ada untuk mengatur kehidupan manusia, seluruhnya berasal dari Sang Pencipta alam semesta, Allah Swt, Zat Yang Maha Adil.
Dalam negara Islam, stabilitas dalam negeri menjadi prioritas utama. Ketika Rasulullah hijrah dan mendirikan negara Islam pertama di Madinah, salah satu hal yang dilakukannya adalah mempersaudarakan kaum Anshar dengan kaum Muhajirin. Tidak hanya bertujuan untuk mempersatukan keduanya dalam ikatan akidah, namun juga untuk menciptakan stabilitas ekonomi di Madinah. Karena kaum Muhajirin berhijrah dari Mekah di Madinah tanpa membawa harta mereka.
Untuk stabilitas dalam negeri maka negara wajib menjamin pemenuhan kebutuhan pokok individu (sandang, pangan, papan) dan pemenuhan kebutuhan pokok komunal (pendidikan, kesehatan, keamanan) secara layak. Minyak goreng adalah kebutuhan pangan masyarakat, wajib dipastikan keberadaannya serta kemudahan untuk mendapatkannya. Karena dalam Islam rakyat adalah prioritas, industri dalam negara Islam ada untuk menjamin pemenuhan kebutuhan rakyat, bukan untuk memenuhi keserakahan pengusaha. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






