Harga Beras Melejit, Rakyat Menjerit

Syariat Islam memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok setiap rakyatnya. Islam menetapkan negara sebagai penanggung jawab kebutuhan rakyat, yakni menjamin kesejahteraan, keadilan dan keamanan. Mengenai bahan pokok, negara mengatur proses produksi hingga distribusi, dan menghapuskan feodalisme.
Oleh Audina Putri
(Aktivis Muslimah Pekanbaru)
Beras adalah makanan pokok yang paling dibutuhkan dan diminati oleh kebanyakan masyarakat Indonesia, lebih dari makanan pokok lain seperti jagung, sagu, singkong, kentang, maupun gandum. Bahkan sebagian orang mengatakan belum makan namanya jika belum makan nasi. Namun, sangat disayangkan saat ini harga beras semakin melejit dan terus naik, padahal presiden mengatakan bahwa stok beras aman, namun mengapa harga beras terus mengalami kenaikan?
Ironisnya lagi para penguasa dengan enteng mengatakan bahwa kenyang tidak harus makan nasi, lalu masyarakat dihimbau untuk mengurangi makan nasi jika harga beras mahal, atau diganti dengan dua buah pisang yang setara dengan satu porsi nasi, serta dianjurkan mulai membiasakan makan singkong, sagu, dan kentang.
Penguasa juga mengatakan pada rakyat miskin untuk tidak banyak makan, diet sedikit tidak menjadi masalah. Saran-saran ini tentu bukanlah solusi dari sebuah problematika kenaikan harga yang masih menjadi pertanyaan masyarakat hingga kini.
Dilansir dari Republika (13/10)2023), dipastikan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) stok beras nasional dalam keadaan aman, karena sedang berlangsungnya panen raya di sejumlah daerah. Beras hasil panen ini akan menambah jumlah pasokan cadangan beras nasional, dan juga presiden sedang mengupayakan mengimpor beras dari luar negeri demi tercukupinya stok beras nasional.
Presiden Jokowi turut hadir memantau kegiatan panen raya di Kecamatan Sukra, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, setelah sebelumnya menghadiri panen raya di Kabupaten Subang pada (08/10/2023). Presiden juga mengatakan bahwa proses pertanian sempat terdampak El-nino, tapi hasil panen masih aman.
Naiknya Harga Bahan Pokok
Saat ini harga beras terus mengalami kenaikan yang signifikan, disusul oleh kenaikan harga bahan pokok lainnya seperti cabai, bawang, minyak, dan lainnya. Kenaikan ini tentu saja semakin mempersulit kehidupan masyarakat, yang mayoritas makanan pokoknya adalah beras. Stok beras yang banyak tetap akan kesulitan dibeli oleh masyarakat jika harganya mahal. Hal ini tentu akan berdampak pada naiknya indeks angka kemiskinan dan kriminalitas, serta turut akan berdampak pada angka kekurangan gizi pada anak.
Padahal Indonesia memiliki wilayah yang sangat subur dan luas, juga memiliki banyak para petani yang bisa mengelola lahan pertanian. Jika stok beras nasional aman seharusnya tidak ada kenaikan pada harga jual, artinya ada faktor penyebab kenaikan harga beras yaitu penentuan harga yang dilakukan oleh pemilik modal atau penguasa pasar.
Sistem sekuler kapitalis saat ini membuat para penguasa bebas meraup keuntungan sebanyak-banyaknya dari berbagai aspek kehidupan, termasuk bahan pokok. Seperti beras bulog yang seharusnya sebagai bantuan untuk masyarakat kini pun dikomersilkan.
Adanya tuan tanah yang menguasai lahan mengakibatkan banyak buruh tani yang kehilangan lahan sehingga petani harus menyewa lahan untuk produksi, dan berdampak pada risiko kerugian petani menjadi semakin tinggi. Saat ini negara hanya berperan sebagai pembuat hukum, sehingga dalam sistem kapitalis ini para pemilik modal dan penguasa bisa berbuat semaunya. Hukum yang diterapkan pun cenderung sesuai pesanan pemilik modal, bukan lagi atas kemaslahatan masyarakat luas. Inilah yang menjadi cikal bakal kemiskinan masyarakat.
Islam Menjamin Kebutuhan Pokok Umat
Pada masa kekuasaan Khalifah Umar bin Khattab, beliau rutin berjalan-jalan sambil menyamar untuk melihat lebih dekat keadaan rakyatnya. Pada suatu malam sampailah Umar di sebuah dusun kecil, ia mendengar suara anak kecil menangis, lalu menghampiri sebuah gubuk sederhana, tampak di sana seorang ibu sedang memasak di tungku. Umar bertanya apa yang sedang dimasak ibu itu, dan kenapa anaknya menangis. Ibu itu bercerita sambil bersedih, ia mengatakan anaknya menangis karena kelaparan dan ia tak punya apapun di rumahnya untuk dimakan. Jadi ia memasak batu untuk menghibur anaknya dan menyuruh mereka tidur, namun anaknya selalu terbangun karena lapar.
Umar lalu pamit pergi mengambil sekarung gandum serta memanggulnya sendiri untuk dibawa ke rumah sang ibu. Ajudan Umar sempat menawarkan diri untuk membantu sang khalifah memanggul karung gandum itu. Namun Umar menolak sembari mengatakan “apakah kamu mau menanggung dosaku di neraka nanti? Biarkan aku yang membawanya sendiri”. Dalam perjalanan Umar menangis dan memohon ampun pada Allah Swt. atas kelalaiannya sebagai pemimpin, karena membiarkan rakyatnya kelaparan tanpa ada sesuatu pun yang bisa dimakan.
Harusnya negara mulai berkaca pada sejarah Indonesia yang dulunya adalah negara agraris. Profesi petani sangat diminati dan disegani oleh masyarakat, dan sektor pertanian menjadi prioritas. Bukan malah mengkapitalisasi sektor pertanian dengan membuka lebar-lebar keran impor, sungguh ini sangat mencoreng citra sejarah bangsa yang agung.
Syariah Islam memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok setiap rakyatnya. Islam menetapkan negara sebagai penanggung jawab kebutuhan rakyat, yakni menjamin kesejahteraan, keadilan dan keamanan. Mengenai bahan pokok, negara mengatur proses produksi hingga distribusi, menghapuskan feodalisme, dan membolehkan setiap individu memiliki lahan pertanian asal terus digunakan serta produktif, juga melarang aktivitas penyewaan lahan pertanian.
Negara mensupport para petani dengan menyediakan sarana pendukung pertanian, memberikan edukasi teknologi untuk petani, hingga memberikan bantuan berupa modal. Negara pun turut mengawasi pasar dalam hal pendistribusian. Jika seandainya ada permainan harga maka akan diberikan sanksi. Begitulah negara Islam, yang menerapkan aturan Islam secara menyeluruh sehingga semua masyarakat dapat merasakan Rahmatan lil ‘alamin. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






