Sertifikasi Wawasan Kebangsaan Bagi Dai, untuk Apa?

Ibarat rakyat sedang sakit fisik dan sakit hati tapi yang diurusi bukan proses penyembuhannya. Apakah utang negeri, korupsi, pandemi akan selesai dengan sertifikasi dai ini?
Oleh Fatimah Azzahra, S. Pd
Jurnalvibes.Com-“Suatu penetapan yang diberikan oleh suatu organisasi profesional terhadap seseorang untuk menunjukkan bahwa orang tersebut mampu untuk melakukan suatu pekerjaan atau tugas spesifik.” (Wikipedia)
Begitulah kurang lebihnya pengertian sertifikasi yang biasanya diperlukan oleh beberapa profesi. Diantaranya guru, dokter, dan teknisi. Sertifikasi dianggap penting untuk menjaga profesionalisme dalam pekerjaan. Tentu kita ingin semuanya dilakukan dengan baik, berpengalaman, dan profesional.
Namun yang membuat publik kini terheran-heran adalah rencana sertifikasi wawasang kebangsaan bagi dai di tanah air. Dikutip dari laman Republika, Menteri Agama (Menag) Yaqut Cholil Qoumas dalam Rapat Kerja Komisi VIII DPR menyebut akan melakukan sertifikasi wawasan kebangsaan bagi para dai dan penceramah. Sertifikasi ini dilakukan dalam rangka penguatan moderasi beragama.
Harapannya, penceramah maupun dai yang telah mendapat fasilitas pembinaan ini akan mampu menjawab isu-isu aktual dengan metode dakwah yang menitikberatkan pada wawasan kebangsaan. Sertifikasi ini pun dinyatakan sebagai program realisasi slogan Hubbul waton minal iman (pikiranrakyat.com, 2/6/2021).
Menambah Luka Umat
Respon pun bergulir datang. Wakil Ketua MPR RI Hidayat Nur Wahid (HNW) menyebut sertifikasi dai tersebut terkesan diskriminatif karena hanya ditujukan bagi penceramah agama Islam. Beliau bahkan menyebutkan sertifikasi menambah luka bagi umat yang sudah dikecewakan pemerintah dengan pembatalan haji (detik.com, 8/6/2021).
Senada dengan Hidayar Nur Wahid, Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Dr Amirsyah Tambunan menolak rencana tersebut. Karena, menurut Amirsyah, sertifikasi ini tidak jelas manfaat yang diterima oleh penceramah dan dai yang akan disertifikasi (Republika.co, 4/6/2021).
Di tengah kondisi negeri yang karut marut, utang kian menumpuk, resesi ekonomi di depan mata, pandemi yang belum juga teratasi, korupsi yang kian menggurita, dana haji yang diragukan keberadaannya, dan masih banyak lagi. Sungguh, wajar jika publik mempertanyakan urgensitas program ini.
Ibarat rakyat sedang sakit fisik dan sakit hati tapi yang diurusi bukan proses penyembuhannya. Apakah utang negeri, korupsi, pandemi akan selesai dengan sertifikasi dai ini? Tentu tidak.
Klasifikasi Dai
Berkaca dari Tes Wawasan Kebangsaan (TWK) yang dilakukan pada lembaga pemberantasan korupsi yang hasilnya justru dipertanyakan publik. Banyak pegawai yang tak diragukan kontribusinya pada pemberantasan korupsi justru tak lulus tes ini dan akhirnya dirumahkan. Tes ini pun menghambat pengusutan kasus korupsi yang sedang diproses KPK.
Jangan sampai hal yang sama terjadi pada para dai dan dunia dakwah. Klasifikasi dai dengan label radikal, nasionalis, moderat, dan lainnya. Label radikal saja sudah membuat umat menjauh dari Islam yang lurus. Padahal umat sedang membutuhkan sentuhan agama dalam kehidupan sekuler yang makin keblinger ini. Apakah sertifikasi ini juga jadi ajang menghambat bahkan membungkam ulama yang selama ini kritis terhadap kebijakan penguasa?
Jika untuk dai saja harus diperumit dengan ini itu, mengapa hal yang sama tidak diterapkan pada pejabat negeri yang bahkan diangkat menjadi komisaris tanpa pengalaman? Slogan Cinta negeri, berkebangsaan tidaklah cukup di lisan, tapi harus dibuktikan dengan aksi nyata. Hal ini harus diingat para pejabat negeri agar kebijakan yang dilahirkan betul-betul berpihak pada rakyat dan negeri. Sementara menjadi dai daiyah sejatinya bukanlah profesi, tapi itu aktivitas menjalankan kewajiban dari ilahi.
Kewajiban Berdakwah
Ada banyak dalil yang menjelaskan kewajiban berdakwah dalam Al-Qur’an.
“Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang mungkar; mereka adalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran [3] : 104)
“Dan serulah mereka ke (jalan) Rabbmu, dan janganlah sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.” (TQS. Al-Qashash[28]: 87)
“Dan suruhlah (manusia) mengerjakan yang baik dan cegahlah (mereka) dari perbuatan yang mungkar dan bersabarlah terhadap apa yang menimpa kamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan (oleh Allah).” (TQS Luqman [31]: 17)
Serta masih banyak lagi. Tidak hanya ayat Al-qur’an, Rasulullah saw. pun bersabda yang senada dengan Firman Allah.
“Siapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, maka hendaklah ia mengubahnya dengan tangannya, jika tidak mampu maka dengan lisannya, dan jika tidak mampu maka dengan hatinya, dan itulah selemah-lemahnya iman.” (HR Muslim, Abu Daud, dan Tirmidzi)
“Jihad yang paling utama ialah mengatakan kalimat yang haq (kebenaran) kepada penguasa yang zalim.” (HR Abu Daud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi)
Banyak juga sabda Rasul yang mengungkapkan keutamaan bagi para pendakwah.
“Wahai Ali, sesungguhnya Allah memberikan hidayah seseorang dengan usaha kedua tanganmu, maka itu lebih bagimu dari tempat mana pun yang matahari terbit di atasnya (lebih baik dari dunia dan isinya).” (HR Hakim)
“Sesungguhnya Allah memberi banyak kebaikan, para malaikat-Nya, penghuni langit dan bumi, sampai semut-semut di lubangnya dan ikan-ikan selalu mendoakan orang-orang yang mengajarkan kebaikan kepada orang lain.” (HR Tirmidzi).
“Barang siapa yang mencontohkan perbuatan baik dalam Islam, lalu perbuatan itu setelahnya dicontoh (orang lain), maka akan dicatat untuknya pahala seperti pahala orang yang mencontohnya tanpa dikurangi sedikit pun pahala mereka yang mencontohnya. Dan barang siapa mencontohkan perbuatan buruk, lalu perbuatan itu dilakukan oleh orang lain, maka akan ditulis baginya dosa seperti dosa orang yang menirunya tanpa mengurangi mereka yang menirunya.” (HR Muslim)
Jelaslah bahwa berdakwah adalah perintah Ilahi, bukan negara. Sama wajibnya seperti salat. Apalagi banyak keutamaan bagi yang melaksanakan dakwah itu sendiri, wajar jika kian banyak yang berdakwah. Dakwah ini dalam artian melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Bukan hanya mengajak pada yang ma’ruf tapi mendiamkan dan menutup mata pada kemunkaran. Apalagi kemunkaran yang dilakukan oleh para penguasa yang menzalimi rakyat banyak.
Daripada menyibukkan diri dengan sertifikasi dan moderasi, alangkah lebih baik jika membina generasi dengan islam yang sempurna. Islam sebagai jalan kehidupan yang memecahkan akar permasalahan manusia, menjawab tujuan hidup di dunia.
Sebagaimana Firman Allah Swt, “Wahai orang-orang yang beriman! Masuklah ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kamu ikuti langkah-langkah setan. Sungguh, ia musuh yang nyata bagimu.” (TQS. Al- Baqarah [2]: 208)
Wallahu a’lam
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






