Opini

Setahun MBG, Mengapa Stunting Masih Ada?

Dengan mekanisme yang diterapkan dalam sistem Islam, maka permasalahan gizi dan stunting akan sangat mudah diatasi. Karena suasana keimanan akan membuat penguasanya taat kepada aturan Allah dengan keyakinan bahwa setiap kebijakan yang ditetapkan dan jabatannya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga menimbulkan tekad yang kuat untuk mengurus rakyatnya dengan sebaik-baiknya.


Oleh Ummu Miqdad

JURNALVIBES.COM – Setahun hampir berlalu, progam telah Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah berjalan. Program yang muncul saat terjadi persaingan kontes para penguasa. Harapan yang dimunculkan demi memperbaiki gizi anak bangsa agar dapat meningkatkan kualitas dalam pendidikan. Apakah ini benar?

Seiring berjalannya program ini, ternyata banyak kejadian yang mengkhawatirkan. Keracunan massal terjadi di berbagai daerah hingga menyebabkan ratusan siswa harus menjalani perawatan di RS. Ompreng yang digunakan pun diduga dilapisi minyak babi, yang tentu hal ini bermasalah pada kesucian makanan umat Islam. Beberapa SPPG tidak memenuhi standar dengan tingkat kebersihan yang minim dan rawan kontaminasi bakteri akibat tempat yang kumuh. Budget anggaran yang besar membuat pengurangan pada bidang lain, seperti pengurangan penerima BPJS kesehatan dari pemerintah dan beberapa fasilitas, efisiensi fasilitas di kantor-kantor, dan lain-lain.

Dilansir dari KompasTv (26-12-2025), kritikan terhadap MBG yang masih berjalan saat libur sekolah. Masyarakat pun bingung akan kebijaksanaan yang terkesan dipaksakan. Sekolah menyarankan siswa yang mau untuk mengambil MBG ke sekolah. Tentu tak semua orang tua dapat melakukannya karena jam MBG itu saat jam kerja bagi sebagian orang.

Menteri keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan, dana 60 triliyun yang di siapkan pemerintah masih cukup untuk penanggulangan bencana di Sumatra, sehingga tak perlu melakukan realokasi program lain seperti MBG. Hal ini disampaikan merespons pernyataan Wakil Ketua Komisi IX DPR, Charles Honoris yang mengusulkan agar pelaksanaan MBG dimasa libur di evaluasi dan dialihkan untuk kebutuhan yang lebih mendesak, seperti membantu korban bencana di Sumatra dan mendukung pemulihan gizi di wilayah dengan tingkat stunting yang akut. Menurutnya saat libur peran orang tua lebih dominan dalam pemenuhan gizi anak. (kontan, 28-12-2025).

MBG ini termasuk program populis kapitalistik, sehingga yang dipentingkan adalah terlaksananya program pemerintah, bukan manfaatnya untuk kemaslahatan masyarakat dan tidak juga mengatasi masalah stunting yang masih banyak terjadi di Indonesia. Hal ini sangat jelas terlihat ketika MBG terus dipaksakan untuk terus berjalan meski banyak permasalahan krusial di lapangan.

Berjalannya MBG saat liburan sekolah menunjukkan bahwa MBG bukan untuk kepentingan rakyat, tetapi kepentingan penguasa dan pengusaha yang mengelola dapur SPPG. Masalah krusial seperti terjadinya keracunan massal tidak juga menjadi bahan pertimbangan yang dapat menghentikan program ini.

Besarnya anggaran yang dikeluarkan untuk program MBG ini mengakibatkan banyak pendanaan yang lebih penting dikorbankan. Ini menunjukkan pemerintahan kapitalistik kurang amanah terhadap anggaran negara yang strategis. Misalnya saja untuk mengatasi stunting, perbaikan sekolah-sekolah dan kelengkapan fasilitas belajar, pelayanan kesehatan gratis, dan peningkatan kesejahteraan rakyat.

Sangat besar perbedaan pemerintahan kapitalistik dengan pemerintahan yang menerapkan sistem Islam. Kebijakan yang diambil adalah demi kemaslahatan rakyat dan sesuai syariat. Visi negara bukanlah untuk kepentingan pengusaha atau popularitas penguasanya, tapi raa’in atau pengurusan rakyat sehingga kebijakan yang ditetapkan harus dalam rangka melayani segala kebutuhan rakyat.

Masalah kebutuhan gizi diatasi secara integral dengan melibatkan segala semua sistem yang ada. Sistem pendidikan mengedukasi tentang gizi, melahirkan ahli gizi atau orang-orang yang memahami gizi, sehingga pemilihan makanan sehari-hari dapat memenuhi standar gizi harian ataupun alternatifnya. Sistem ekonomi memenuhi kebutuhan dasar rakyat, termasuk pangan. Sedangkan negara menyediakan lapangan pekerjaan sehingga kebutuhan gizi keluarga dapat dipenuhi oleh kepala keluarga.

Selain itu negara juga menjamin ketersediaan bahan pangan dengan harga terjangkau sehingga makanan bergizi dapat diakses rakyat.

Dengan mekanisme yang diterapkan dalam sistem Islam, maka permasalahan gizi dan stunting akan sangat mudah diatasi. Karena suasana keimanan akan membuat penguasanya taat kepada aturan Allah dengan keyakinan bahwa setiap kebijakan yang ditetapkan dan jabatannya akan dimintai pertanggungjawaban sehingga menimbulkan tekad yang kuat untuk mengurus rakyatnya dengan sebaik-baiknya. Wallahu a’lam bish-shawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button