Opini

Cukupkah Kriteria Pemimpin Hanya Memiliki Kualitas dan Kapasitas?

Dalam aturan Islam seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki integritas, tetapi wajib memiliki ketakwaan. Sebab seorang pemimpin dipilih tidak lain untuk menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan.


Oleh Ummi Nissa
(Penulis, Member Komunitas Rindu Surga)

JURNALVIBES.COM – Meski masih setahun lagi, suasana politik Jelang pemilu 2024 sudah mulai menghangat. Berbagai strategi dan manuver politik pun dilakukan parpol dan elit politik dengan bernegosiasi bahkan mendeklarasikan capres yang mereka usung. Dukungan parpol terhadap capres pun mulai ditunjukkan. Namun muncul opini yang kontroversi yang menyebutkan bahwa kriteria seorang pemimpin cukup dilihat dari kualitas dan kapasitasnya.

Dikutip dari republika.co (11/11/2023), Mantan terpidana kasus korupsi yang juga sebagai politikus PPP, Romahurmuziy mengungkapkan pandangannya soal kriteria calon presiden ke depan. Menurutnya, tiga calon presiden yang muncul berdasarkan survei saat ini cukup menyampaikan visi dan misi saja. Ketiganya Muslim hingga tak perlu mempersoalkan ketakwaan mereka yang dilihat dari rajin salat atau tidak, yang penting memiliki integritas.

Bahkan Romi menegaskan, meski PPP merupakan partai Islam, tapi dalam memilih pemimpin mengacu pada kitab al-ahkam sulthoniyah yang menjadi rujukan tata negara. Seorang pemimpin yang ahli maksiat tetap punya hak untuk ditaati sepanjang dia tidak melarang kebebasan beragama. Lantas benarkah seorang pemimpin tidak perlu takwa?

Sebagaimana diketahui bersama bahwa pemilu dalam sistem demokrasi merupakan ajang kontestasi politik lima tahunan. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk memilih pemimpin baru. Untuk pemilu 2024 bisa dipastikan akan ada pergantian presiden, pasalnya dalam ketentuan undang-undang presiden hanya boleh menjabat sebatas dua periode saja. Oleh sebab itu wajar jika euforia pemilu saat ini penuh dengan harapan pemimpin baru membawa perubahan.

Kenyataannya, harapan rakyat terhadap pemimpin baru membawa arah perubahan yang lebih baik, sering kali sekadar janji tanpa bukti. Betapa pergantian pemimpin telah dilakukan berulang kali. Namun rakyat tetap saja dalam kondisi yang sama, terpuruk dalam berbagai aspek kehidupan. Mengapa demikian?

Salah satunya disebabkan karena kualitas seorang pemimpin tidak diukur berdasarkan timbangan syariat, yaitu Al-Qur’an dan sunah. Namun, kapasitas pemimpin diukur berdasarkan konstitusi dan perundang-undangan saat ini. Terbukti tidak ada satu pun aturan dalam undang-undang yang mengharuskan jika seorang pemimpin harus bertakwa.

Kriteria pemimpin yang mengesampingkan urusan akhirat memang menjadi tabiat dalam sistem Demokrasi sekuler. Sebab aturan ini yang telah memisahkan aturan agama dari kehidupan. Maka wajar saja jika kriteria pemimpin cukup memiliki integritas, masalah ketakwaan tidak menjadi prioritas.

Padahal, Rasulullah saw. bersabda: “Semoga Allah melindungi kamu dari imarah as-sufaha.” Kaab bertanya,” Apa itu imarah as-sufaha, wahai Rasulullah?” Beliau bersabda : “Mereka adalah para pemimpin sesudahku, yang tidak mengikuti petunjukku dan tidak meneladani sunahku…” (HR. Ahmad, al- Hakim, dan al-Baihaqi)

Saat ini, betapa banyak pemimpin yang memiliki kualitas dan kapasitas, tetapi tetap mendukung dan menjalankan aturan yang bukan berasal dari Islam. Hal ini menunjukkan pemimpin mana pun, baik memiliki kemampuan dalam memimpin atau tidak, memiliki kecerdasan tinggi atau rendah, tetapi masih menjalankan sistem demokrasi yang hakikatnya jauh dari sistem Islam yang aturannya bersumber dari Zat Yang Maha Pencipta. Maka mereka sejatinya terkategori sebagai imarah as-sufaha (pemimpin bodoh).

Dengan demikian, dalam aturan Islam seorang pemimpin tidak hanya dituntut memiliki integritas, tetapi wajib memiliki ketakwaan. Sebab seorang pemimpin dipilih tidak lain untuk menerapkan syariat Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Dengan landasan ketakwaan maka pemimpin akan bertanggung jawab terhadap amanah kepemimpinannya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by istockphoto.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button