Peristiwa di Bulan Rajab yang Mulia

Hendaknya bulan Rajab ini pun kita jadikan momen untuk mengokohkan tekad, menggelorakan semangat, dan berpartisipasi semaksimal mungkin untuk mewujudkan penerapan syariat Islam secara kâfah. Itulah wujud hakiki ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan seperti inilah yang bakal mewujudkan aneka keberkahan dari langit dan dari bumi.
Oleh Aan Anisah
JURNALVIBES.COM – Ada suatu peristiwa paling agung dan bersejarah pada bulan ini mulia yaitu bulan Rajab, yang perlu umat Islam ketahui.
Bulan Rajab adalah bulan istimewa (bulan haram) dalam Islam. Bulan Rajab adalah satu dari empat bulan haram dalam sistem penanggalan Hijriah, kalender Islam yang merujuk para peredaran bulan (Qamariyah).
Rajab menjadi satu dari empat bulan suci sesuai firman Allah Swt. dalam surat At-Taubah ayat 36. Melalui ayat ini, Allah Swt. berfirman mengenai bulan-bulan yang diagungkan.
إِنَّ عِدَّةَ الشُّهُورِ عِنْدَ اللَّهِ اثْنَا عَشَرَ شَهْرًا فِي كِتَابِ اللَّهِ يَوْمَ خَلَقَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ مِنْهَا أَرْبَعَةٌ حُرُمٌ ۚ ذَٰلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ ۚ فَلَا تَظْلِمُوا فِيهِنَّ أَنْفُسَكُمْ ۚ وَقَاتِلُوا الْمُشْرِكِينَ كَافَّةً كَمَا يُقَاتِلُونَكُمْ كَافَّةً ۚ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ مَعَ الْمُتَّقِينَ
Artinya: “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu, dan perangilah kaum musyrikin itu semuanya sebagaimana merekapun memerangi kamu semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertakwa.”
Para ulama menafsirkan empat bulan haram itu, salah satunya adalah bulan Rajab. Tiga bulan lainnya adalah bulan Dzulqaidah, Dzulhijjah, dan Muharram.
Bulan Rajab ini adalah penanda atau pintu gerbang menuju Ramadan tak lama lagi. Setelah Rajab lantas bulan Sya’ban lalu sampailah ke bulan suci Ramadan yang ditunggu-tunggu seluruh umat Islam.
Ada pun catatan dalam sejarah Islam, terdapat peristiwa-peristiwa penting yang berkaitan dengan sejarah hidup Rasulullah Saw. dan juga perkembangan dakwah beliau pada bulan Rajab ini. Salah satu peristiwa yang paling terkenal terjadi di bulan Rajab adalah Isra’ Mi’raj.
Atas izin Allah Swt, banyak sekali menurunkan kemuliaan bagi kaum muslim yang terjadi pada bulan Rajab ini. Misalnya, momen hijrahnya kaum muslim yang pertama ke Habasyah pada tahun ke-5 kenabian.
Pada bulan Rajab pula Allah Swt. meng-isra-mikraj-kan Rasul Saw. pada tahun ke-10 kenabian. Dalam Isra’ mikraj itu Nabi saw. tidak hanya menerima titah kewajiban shalat. Beliau pun dikukuhkan sebagai pemimpin bagi seluruh umat manusia. Saat itu beliau dititahkan menjadi imam para nabi dan rasul terdahulu di Baitul Maqdis.
Atas kehendak Allah Swt. pula, bulan Rajab menjadi momen pertemuan pertama Nabi Saw. dengan kaum Anshar yang mempunyai kemuliaan. Melalui tangan merekalah negara Islam pertama tegak di Madinah. Sejak itu seluruh hukum syariat pun bisa diterapkan secara total. Dengan itu kesucian darah, harta, dan jiwa pun bisa terjaga (Lihat: Al-Hakim, Al-Mustadrak [IX/497], hadis penuturan Jabir bin Abdullah ra.).
Bulan Rajab juga telah dijadikan oleh Allah Swt. sebagai momen istimewa yaitu peralihan kiblat kaum Muslim, dari Masjidil Aqsa ke Masjidil Haram (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/252-253).
Pada bulan Rajab pula, yakni pada tahun ke-2 Hijrah, Rasul Saw. mengirimkan detasemen Abdullah bin Jahsy. Pengiriman detasemen ini menjadi pendahuluan atas peristiwa Perang Badar (Ibnu Katsir, Al-Bidâyah wa an-Nihâyah, III/248-249).
Demikian pula Perang Tabuk yang menggetarkan adidaya Romawi. Peristiwa ini terjadi pada bulan Rajab, yakni pada tahun 9 H (Ibnu Hisyam, As-Sîrah an-Nabawiyyah, V/195).
Bulan Rajab juga telah menjadi momen penting bagi perwujudan kemuliaan pada generasi setelahnya. Kota Damaskus (Syam) dibebaskan oleh kaum Muslim di bawah Panglima Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah ra. dan Khalid bin al-Walid ra. pada bulan Rajab tahun 14 H/635 M.
Namun demikian, selain banyak menorehkan sejarah kegemilangan umat Islam, pada bulan Rajab juga terjadi awal petaka bagi kaum Muslim di seluruh penjuru dunia. Pada 28 Rajab 1342 H, tepatnya pada 3 Maret 1924 M, Kekhilafahan Islam Turki Utsmani dibubarkan oleh Mustafa Kemal Ataturk.
Pasca keruntuhan khilafah, kehidupan masyarakat Turki berubah, karena Turki menjadi negara sekuler. Islam yang berfungsi sebagai agama dan sistem hidup, serta bermasyarakat dan bernegara mulai digantikan. Umat Islam yang sebelumnya bersatu dalam satu sistem pemerintahan Khilafah pada akhirnya tercerai-berai menjadi negeri-negeri kecil tak berdaya.
Sudah 101 tahun umat ini hidup tidak berada di bawah naungan Kekhilafahan Islam. Kekuasaan mereka dirampok dan kekayaan mereka dijarah oleh kaum kafir penjajah. Maka untuk saat ini untuk meraih kemulaian di bulan Rajab ini yaitu dengan lebih taat dan melaksanakan apa-apa yang diperintahkan oleh Allah Swt., yaitu untuk mejalankan perintah Allah dan menjauhi larangannya.
Harus melaksanakan amal-amalan saleh, giat melaksanakan kewajiban-kewajiban dari Allah Swt. dan memperbanyak amalan-amalan sunnah, seperti disiplin menunaikan salat lima waktu, memperbanyak salat sunnah, puasa sunnah, bersedekah dan juga untuk menasihati orang lain dengan amar makruf nahi mungkar dan amal-amaln shalih lainnya.
Yang termasuk amal saleh juga adalah menunaikan fardu kifayah. Salah satunya adalah menegakkan khilafah, yakni dengan mengangkat dan membaiat imam/khalifah, yang bertugas menerapkan syariat Islam secara kafah dalam seluruh aspek kehidupan.
Al-Imam al-Hafizh Abu Zakaria an-Nawawi asy-Syafii berkata, “Umat Islam wajib memiliki seorang imam (khalifah) yang menegakkan agama, menolong Sunnah, memberikan hak kepada orang yang dizalimi, menunaikan hak dan menempatkan hal tersebut pada tempatnya. Saya menyatakan bahwa menegakkan Imamah (Khilafah) adalah fardhu kifayah.” (An-Nawawi, Rawdhah ath-Thâlibîn wa Umdah al-Muftin, III/433).
Pelaksanaan kewajiban yang merupakan fardu kifayah itu dijelaskan oleh Imam Abu Ishaq asy-Syathibi di dalam kitabnya, Al-Muwâfaqât (I/179). Beliau mengatakan, “Karena itu siapa saja yang mampu atas wilâyah (kekuasaan), ia dituntut menegakkan kekuasaan itu. Siapa saja yang tidak mampu atas kekuasaan tersebut, ia dituntut dengan perkara lain, yaitu mengangkat orang yang mampu dan memaksa dia untuk menegakkan kekuasaan itu. Jadi orang yang mampu dituntut menegakkan fardhu itu, sementara orang yang tidak mampu dituntut mengadakan orang yang mampu itu.”
Hendaknya bulan Rajab ini pun kita jadikan momen untuk mengokohkan tekad, menggelorakan semangat dan berpartisipasi semaksimal mungkin untuk mewujudkan penerapan syariat Islam secara kâfah. Itulah wujud hakiki ketakwaan kita kepada Allah Swt. Ketakwaan seperti inilah yang bakal mewujudkan aneka keberkahan dari langit dan dari bumi. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuhal; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






