Opini

Parpol Menjamur, Tidak Menjamin Kesejahteraan Selama Bernaung Dalam Sistem Demokrasi

Dalam negara Islam sejatinya membolehkan adanya banyak partai sebagai sarana melakukan muhasabah, tetapi partai partai tersebut tetap berasaskan pada ideologi Islam yang mana terikat pada aturan Allah dan Rasul-Nya.


Oleh Uty Maryanti

JURNALVIBES.COM – Sudah dikenal oleh khalayak ramai Indonesia adalah penganut politik demokrasi konstitusional dimana kedaulatan rakyat atau masyarakat yang termanifestasi dalam pemilihan parlemen dan presiden setiap lima tahun. Suasana Pemilu 2024 sudah menghangat di kalangan masyarakat, baliho serta spanduk capres dan cawapres yang di usung partai masing-masing pun sudah terpampang di setiap sudut kota, berbagai strategi dan manuver politik pun dilakukan parpol dan elit politik untuk menggaet simpati masyarakat.

Pesta Demokrasi yang diadakan setiap lima tahun ini tentunya diramaikan dengan banyak sekali partai politik. Hal ini tentu menimbulkan kubu-kubu antara partai satu dengan yang lain.

Dilansir dari republika (15/10/2023), telah terjadi Bentrokan antarsimpatisan PDIP dengan GPK yang terjadi di daerah Muntilan, Magelang, Jawa Tengah pada Minggu sore, aksi baku hantam saling lempar batu dan benda tumpul lainnya tidak terelakkan, sebanyak sebelas sepeda motor dan tiga rumah warga mengalami kerusakan, meski tidak ada korban jiwa pada kejadian tersebut ada salah seorang warga Pabelan, EH (31) yang dirawat di Rumah Sakit N21 karena terkena lemparan batu.

Menurut Polresta Magelang Kapolresta Magelang Kombes Pol Ruruh Wicaksono dugaan terjadinya bentrokan antar massa di Muntilan adalah karena tidak terima bleyeran dari salah satu kelompok.
Pemicu bentrok yang terjadi antar simpatisan sejatinya hanyalah persoalan sepele, akan tetapi kuatnya sentimen atau ego kelompok menjadikan gesekan kecil menjadi persoalan yang besar.

Menjelang Pemilu 2024 di Indonesia kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh simpatisan partai mulai marak dilakukan di tengah masyarakat, itu dilakukan tentu untuk mencari dukungan masyarakat terhadap capres dan cawapres yang diusung partai. Sebagaimana diketahui bersama bahwa pemilu dalam sistem demokrasi merupakan ajang kontestasi politik lima tahunan. Hal ini dilakukan sebagai sarana untuk memilih pemimpin baru.

Untuk pemilu 2024 bisa dipastikan akan ada pergantian presiden, pasalnya dalam ketentuan undang-undang presiden hanya boleh menjabat sebatas dua periode saja. Oleh sebab itu wajar jika euforia pemilu saat ini penuh dengan harapan pemimpin baru membawa perubahan. Hal yang penting yang perlu dikritik adalah bahwasanya keberpihakan rakyat kepada partai pada umumnya didorong oleh faktor emosional, simbol dan figur.

Masyarakat sejatinya belum memiliki pemahaman yang benar atas arah dan tujuan partai sehingga menjadi alasan kuat untuk mendukung parpol tersebut, maka tak heran perselisihan sering terjadi antar simpatisan partai politik.

Politik dalam sistem demokrasi tujuannya adalah meraih kekuasaan setinggi tingginya, maka tak heran jika sistem politik demokrasi identik dengan politik kepentingan yang tidak berpihak pada rakyat dan justru cenderung merugikan rakyat. Rakyat hanya diposisikan sebagai pihak yang dimanfaatkan suaranya untuk kepentingan elite partai demi memenuhi ambisi kekuasaan.

Hal ini tentu berbeda jauh dengan slogan yang sering kita dengar dimana dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat itu hanya menjadi slogan manis yang mustahil terealisasi pada sistem sekarang ini.

Oleh karena itu umat harus memahami bahwa partai politik dalam sistem demokrasi tidak akan mengantarkan kebaikan kepada umat, sebaik apapun visi misi yang di usung oleh partai politik selama itu bernaung dalam sistem demokrasi maka mustahil terwujud.

Maka sudah seharusnya umat Islam memerlukan partai politik yang berasaskan Islam yang bekerja untuk kepentingan umat semata, tidak ada embel-embel untuk memperkaya atau ditunggangi kepentingan individu.

Partai politik yang benar adalah yang menyandarkan pemikiran dan metodenya pada asas Islam dan bukan yang lain. Jika pemikiran dan metodenya berkiblat pada Islam, maka orang-orang yang bergerak dalam partai tersebut harus berbasis pada Islam bukan sekadar ikatan organisasi ataupun kepentingan individu semata.

Jika partai dibangun di atas ideologi yang benar yaitu Islam, maka orang yang di dalamnya pun akan menempuh dan meraih tujuannya berdasarkan asas tersebut, dimana peran penting partai politik Islam yakni hadir di tengah umat membina dan mendidik pemikiran ummat dengan Islam serta melakukan koreksi terhadap kebijakan para penguasa yang bertentangan dengan Islam.

Dalam negara Islam sejatinya membolehkan adanya banyak partai sebagai sarana melakukan muhasabah, tetapi partai partai tersebut tetap berasaskan pada ideologi Islam yang mana terikat pada aturan Allah dan Rasul-Nya serta saling menghormati dalam menjalankan amanahnya. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by bing.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button