Tsunami Covid-19 India, Akankah Melanda Indonesia?

Oleh Pitra Delvina, S. Pd.
(Aktivis Dakwah dan Pegiat Literasi)
JurnalVibes.Com-Tsunami Covid-19 India sedang menjadi perhatian dunia Internasional. Dirjen WHO Todres menyebutnya sebagai kejadian yang ‘lebih dari memilukan’. Sebanyak 2.600 staf tenaga kesehatan sudah dikerahkan oleh WHO untuk membantu menangani krisis kesehatan di India. Dari penyediaan obat, tabung oksigen, laboratorium kesehatan dan kebutuhan lainnya. Namun, lonjakan kasus Covid-19 tetap tidak terbendung.
Data terbaru per 28 April 2021, dijumpai lebih dari 197,894 kematian dan lebih dari 17 juta kasus Covid-19 yang terkonfirmasi di India. Bahkan jumlah kasus harian tidak kunjung menunjukkan penurunan, justru sebaliknya terus mengalami kenaikan.
Akibat lonjakan kasus Covid-19 yang terus meningkat, rumah sakit sampai kewalahan menangani pasien yang berdatangan. Saking banyaknya pasien yang hendak diobati, banyak warga yang harus meregang nyawa sebelum sempat ditangani oleh dokter. Warga India sampai berebut kasur, obat, hingga tabung gas di rumah sakit. Unit Gawat Darurat (UGD) yang biasanya menampung tiga pasien, sekarang dipaksa menampung 7-8 orang.
Kondisi semakin runyam dengan adanya pihak-pihak yang kurang bertanggung jawab yang sengaja memanfaatkan keadaan kritis ini dengan menjual tabung oksigen dengan harga tinggi, bahkan harganya menyamai harga emas. Saking paniknya, rumah sakit terpaksa minta oksigen di media sosial. Pasien membludak hingga terpaksa berbaring di luar rumah sakit. Dikhawatirkan kondisi ini akan semakin memburuk hingga dua minggu kedepan (Detik.com, 27/04/2021).
Disinyalir, penyebab lonjakan kasus Covid-19 di India adalah karena ditemukannya varian baru virus Corona yang oleh WHO diberi nama B. 1.617 atau disebut juga “mutan ganda”. Namun para ahli masih memperdebatkan hal ini. Sebab, menurut pemaparan Dr. Zain Chagla, seorang ahli penyakit menular dari McMaster University di Hamilton, Ontario, mengatakan kepada The Canadian Press bahwa faktor-faktor lain di India mungkin berkontribusi dalam cepatnya proses penyebaran. Di antaranya adalah faktor kepadatan penduduk, rumah penduduk yang berventilasi buruk, serta kondisi kemiskinan yang ada di India.
Sungguh kondisi yang sangat memprihatinkan. Jangankan membayangkan kondisi tersebut menimpa Indonesia, menyaksikan kasus yang terjadi di India saja sudah membuat bulu kuduk merinding. Betapa pilu hati keluarga korban yang terpaksa melihat ayah, ibu, anak, nenek atau kakeknya harus meregang nyawa di depan matanya tanpa bisa berbuat apa-apa. Hanya tangis pilu keputus asaan yang mewakili perasaan mereka. Meski kasus Covid-19 di India masih tinggi, hingga hari ini Perdana Menteri India tak kunjung menyarankan lockdown.
Dari tsunami kasus Covid-19 India, hendaknya pemerintah Indonesia bisa mengambil pelajaran untuk menghentikan sebaran virus Covid-19 dan munculnya varian baru virus Corona seperti yang terjadi di India. Bukan perkara mustahil hal ini juga berpotensi melanda Indonesia. Mengingat sudah dua tahun pandemi melanda negeri ini, belum tampak keseriusan pemerintah dalam menghentikan sebaran virus Covid-19. Justru kebijakan yang dikeluarkan tumpang tindih dengan keinginan pemerintah untuk menjalankan roda ekonomi agar tetap stabil di tengah pandemi melanda. Ada atau tidak ada pandemi, tpertumbuhan ekonomi tetap menjadi prioritas utama negara.
Dengan dalih menjaga stabilitas ekonomi, pemerintah tetap membuka objek wisata di Indonesia. Tempat-tempat pariwisata tetap diberikan izin untuk beroperasi. Mall dan super market tetap buka. Kendati pun masyarakat dihimbau untuk menerapkan protokol kesehatan 3M yaitu memakai masker, mencuci tangan dengan sabun dan menjaga jarak, serta menghindari kerumunan. Namun masih banyak masyarakat yang abai terhadap himbauan pemerintah tersebut. Masyarakat masih tetap beraktivitas seperti biasa seolah-olah tidak ada Corona di era new normal ini.
Bagaimana pun juga, kehidupan terus berlanjut, masyarakat membutuhkan uang untuk bertahan hidup. Sedangkan negara tidak menjamin terpenuhinya semua kebutuhan mereka. Kalaupun ada bantuan sosial dari pemerintah, itu hanya menyasar segelintir orang saja, alias tidak merata pendistribusiannya. Apalagi pandemi memperparah kondisi perekonomian masyarakat. Angka kemiskinan bertambah sejak pandemi melanda negeri ini.
Islam solusi tuntas hentikan sebaran virus Covid-19
Seandainya pemerintah dari awal mengambil kebijakan lockdown, sudah barang tentu badai Corona sudah berlalu pergi dari negeri ini. Tapi, langkah ini tidak diambil oleh pemerintah lantaran bertolak belakang dengan kehendak para korporasi. Bagaimana tidak, kebijakan yang diambil pemerintah cenderung sesuai kehendak kapitalis, bukan atas kemaslahatan rakyat. Jika penguasa negeri ini benar-benar memikirkan kemaslahatan rakyat, maka tindakan lockdown sudah pasti diambil dari awal virus ini muncul dari Wuhan, China.
Apalagi negeri ini adalah negara maritim, sangat mudah sekali jika ingin memutus rantai sebaran Covid-19 dari China. Cukup tutup pintu akses masuknya imigran luar dari laut dan udara. Maka Corona tidak akan mewabah seperti sekarang ini. Kalau pun sudah terlanjur menginfeksi negeri ini, cukup terapkan apa yang sudah dicontohkan oleh para sahabat Nabi saw. tatkala negara Islam ditimpa wabah tha’un di masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab r.a.
Sebagaimana yang telah disabdakan oleh Rasulullah saw.
“Ababila kalian mendengarkan wabah di suatu tempat, maka janganlah memasuki tempat itu. Dan apabila terjadi wabah, sedangkan kalian berada di tempat itu, maka janganlah keluar darinya” (H. R. Muslim).
Di samping itu, Khalifah Umar r.a. juga mengisolasi orang yang sakit dari yang sehat. Sehingga, hal ini bisa memutus rantai penyebaran wabah dengan cepat. Untuk wilayah yang tidak terkena wabah, mereka bisa beraktivitas normal seperti biasa. Sedangkan wilayah yang terjangkiti wabah, khalifah memberikan penanganan dengan menjamin terpenuhinya semua kebutuhan mereka. Mulai dari kebutuhan pokok seperti makanan, pakaian, obat-obatan, tenaga medis serta fasilitas lainnya yang dibutuhkan oleh masyarakat.
Khalifah juga mendorong para ilmuwan muslim untuk melakukan penelitian agar diperoleh vaksin yang tepat untuk menangkal adanya penyakit menular tersebut. Seperti inilah bentuk periayahan seorang khilafah dalam mengurusi urusan rakyatnya. Kebijakan yang diambil khalifah sesuai dengan hukum syariat yakni demi kemaslahatan umat. Sebab mengurusi urusan rakyat adalah tanggung jawab khalifah yang langsung disematkan oleh Allah.
Kewajiban ini akan dimintai pertanggung jawaban oleh Allah di akhirat kelak. Jadi, seharusnya penguasa negeri ini belajar dari kisah sahabat Nabi saw. yang sudah berhasil dalam menangani wabah di masa silam. Bukan membiarkan masyarakat berjuang sendirian dalam melawan pandemi ini.
Allahu a’lam bishawwab.






