Opini

Benarkah Haji Bisa Menjadi Momentum Persatuan Umat?

Persatuan umat Islam dalam naungan khilafah, terukir dengan tinta emas sejarah kegemilangan peradaban Islam, hampir 14 abad lamanya umat Islam menjadi umat terbaik, menjadi mercusuar dunia, disegani kawan dan takuti lawan.


Oleh Nafsiyah
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Bulan Dzulhijjah termasuk salah satu bulan yang disucikan Allah Swt. (Arbaatun Hurum). Pada bulan ini terdapat momentum luar biasa bagi umat Islam yaitu pelaksanaan ibadah haji dan penyembelihan hewan kurban. Setiap tahun di bulan Dzulhijjah umat Islam datang berbondong-bondong dari seluruh penjuru dunia menuju tempat yang sama yaitu Makkah Al Mukarramah, menjalankan rangkaian ibadah haji yang sama, berpakaian yang sama meskipun dari latar belakang yang berbeda.

Maka sejatinya haji merupakan lambang persatuan umat. Sekitar tiga juta Muslim berkumpul di Arafah melampaui sekat bangsa, ras, bangsa dan bahasa. Mewujudkan ukhuwah imaniyah yang didasari akidah Islam menghapus segala perbedaan duniawi.

Hari ini jumlah umat Islam di dunia hampir dua miliar, sesungguhnya mampu menjadi kekuatan besar dan disegani jika bersatu. Namun sayang kondisi umat Islam saat ini seperti buih di lautan, tercerai berai karena sekat nasionalisme. Persatuan umat Islam seringkali hanya bersifat sementara dan seremonial saja, tatkala rangkaian ibadah haji selesai dan masing-masing umat Islam kembali ke negara dan rumahnya, persatuan umat tak lagi ada, hilang begitu saja tanpa menyisakan ruh ukhuwah islamiyah. Umat Islam kembali ke setelan awal yaitu individual, cuek bahkan melupakan penderitaan saudara seiman di belahan dunia lainnya seperti di Palestina, Uighur Cina, Suriyah, Rohingnya dll yang saat ini terjajah dan terzalimi.

Sekat nasionalisme menjadikan sesama Muslim tidak bisa saling memiliki dan merasakan apa yang terjadi dengan saudara seimannya karena informasinya ditutup oleh media-media mainstream. Nasionalisme menutup ruang empati dan simpati terhadap saudara seakidah karena umat Islam lebih banyak dilalaikan dengan hedonisme.

Nasionalisme menjadi garis imajiner buatan manusia yang membuat umat Islam hanya bisa mengutuk atas genosida warga Palestina oleh entitas Yahudi, karena dilarang ikut campur urusan dalam negerinya negara lain. Terbukti para pemimpin negeri Muslim tak melakukan apapun meski tahu ada pembunuhan massal di Palestina, ada penghilangan identitas Muslim di Uighur dst. Para pemimpin negeri Muslim hanya mengutuk sebagai bahasa pemanis saja, tanpa melakukan tindak lebih dengan mengirimkan tentaranya untuk mengusir penjajah entitas Yahudi, meskipun kekuatan militer dimiliki oleh negeri-negeri Muslim.

Fakta yang lebih menyayat hati penguasa Arab Saudi, Qatar dan Uni Emirat Arab justru melakukan pengkhianatan dengan memberi bantuan kepada Amerika Serikat atas nama investasi. Padahal Amerika Serikat adalah penyokong utama entitas yahudi. Maka sejatinya nasionalisme adalah cara penjajah untuk mengendalikan dan melemahkan umat Islam. Nasionalisme telah memecah belah umat Islam menjadi lebih dari 50 negara kecil, tanpa kepemimpinan tunggal, tanpa perisai, seperti ayam kehilangan induknya, siap diterkam elang di manapun dan kapanpun.

Sesungguhnya umat Islam adalah umat yang satu, termaktub di dalam Qs. Al Mukminun ayat 52 yang artinya:“Sesungguhnya ini adalah umat kalian, umat yang satu, dan Aku adalah Tuhan kalian, maka bertakwalah kepada-Ku”. Persatuan umat dengan satu kepemimpinan, satu aturan (syariat Islam) dan satu perasaan sejatinya hanya dapat terwujud dalam institusi politik Islam global yang disebut (khilafah). Khilafah mampu menyatukan umat laksana satu tubuh. Menjadi satu kekuatan besar yang mampu menggentarkan musuh dan menebarkan rahmat ke seluruh alam. Ikatan yang terjalin sesama Muslim adalah ikatan akidah meskipun berbeda warna kulit, ras, suku, bahasa dan mahzhab, tidak menjadi penghalang untuk saling mencintai karena Allah sebagaimana sabda Rasulullah saw. :”Perumpamaan orang-orang yang beriman di dalam saling mencintai, saling menyayangi dan mengasihi adalah seperti satu tubuh, bila ada salah satu anggota tubuh mengaduh kesakitan, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakannya, yaitu dengan tidak bisa tidur dan merasa demam.” (HR Bukhari dan Muslim).

Persatuan umat Islam dalam naungan khilafah, terukir dengan tinta emas sejarah kegemilangan peradaban Islam, hampir 14 abad lamanya umat Islam menjadi umat terbaik, menjadi mercusuar dunia, disegani kawan dan takuti lawan.

Sudah saatnya umat bersatu dalam naungan khilafah, memuliakan manusia dengan penerapan Islam kafah. Menebarkan rahmat ke seluruh alam dengan dakwah dan mengusir penjajah dari negeri Muslim dengan jihad fii sabilillah. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button