Opini

Sedihnya Nasib Gen Z, Pengangguran Mengancam Masa Depan

Negara yang menerapkan sistem Islam tidak berlepas tangan membiarkan rakyat tanpa bekerja seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini. Dengan begitu tidak akan terjadi pengangguran bagi pemuda kaum Muslim bila hidup dalamĀ sistemĀ Islam.


Oleh Reni Susanti, S.Ap.
(Pemerhati Kebijakan Publik)

JURNALVIBES.COM – Bagaikan makan buah simalakama. Maju kena mundur juga kena. Peribahasa yang cocok untuk nasib Gen Z saat ini. Kondisi yang sulit untuk dijalankan. Sudah biaya pendidikan mahal, tapi tak menjamin akan mendapatkan pekerjaan.

Menteri Ketenagakerjaan (Menaker), Ida Fauziyah, bicara mengenai data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat ada 9,9 juta penduduk Indonesia yang tergolong usia muda atau Gen Z belum memiliki pekerjaan. Angka tersebut didominasi oleh penduduk yang berusia 18 hingga 24 tahun. (Kumparan, 20/5/2024).

Menurut analisa Ida, faktor utamanya banyaknya angka pengangguran pada penduduk muda berusia 15-24 tahun ini adalah karena kurang singkronnya pendidikan dan permintaan tenaga kerja. (Kompas, 24/5/2024).

Tingginya angka pengangguran pada pemuda saat ini sangat berbahaya bagi perekonomian. Bahkan akan menjadi bom waktu demografi di masa depan. Seharusnya para pemuda tersebut merupakan orang yang produktif sehingga bisa menanggung orang tua yamg sudah tidak lagi produktif. Tapi nyatanya mereka malah menjadi beban perekonomian. Menariknya, mereka yang menganggur ini bukanlah orang yang berpendidikan rendah. Banyak diantara mereka yang sudah menyelesaikan pendidikan mulai dari SMA/SMK hingga perguruan tinggi. Padahal di SMK, mereka diajari skill tertentu seperti desain grafis, akuntansi, tata boga, pelayaran, tata rias, dan sebagainya. Namun faktanya, selepas sekolah tak sedikit diantara mereka banyak yang menjadi pengangguran.

Ini membuktikan bahwa negara telah gagal menyiapkan para siswa yang menjadi orang yang mumpuni di bidangnya. Selain itu negara juga gagal membuka lapangan pekerjaan bagi generasi muda yang sudah masuk usia kerja. Dalam sistem kapitalisme, pemerintah hanya sebagai penghubung antara dunia pendidikan dengan industri. Sedangkan pemerintah berlepas tangan dari penyediaan lapangan pekerjaan.

Berbeda dengan pemerintah dalam sistem Islam. Sebagai agama yang sempurna Islam telah memberikan aturan terperinci dalam mengatur segala aspek kehidupan. Negara sebagai pengurus segala kebutuhan rakyat (riayah suunil ummah), menjamin ketersediaan lapangan kerja bagi rakyatnya. Jika ada individu yang malas bekerja, cacat atau tidak memiliki keahlian, maka khalifah akan memaksa mereka bekerja dengan menyediakan sarana dan prasarananya. Umar bin Khathab ra. pernah melakukannya ketika mendengar jawaban dari orang-orang yang berdiam diri di masjid pada saat orang-orang sibuk bekerja bahwa mereka sedang bertawakal. Saat itu beliau mengatakan bahwa mereka adalah orang-orang yang malas bekerja, padahal mereka tahu bahwa langit tidak akan menurunkan emas dan perak. Kemudian Khalifah Umar ra. mengusir dari masjid dan memberi mereka setakar biji-bijian.

Begitulah penjagaan negara Islam bagi rakyatnya yang tidak bekerja. Negara yang menerapkan sistem Islam tidak berlepas tangan membiarkan rakyat tanpa bekerja seperti yang terjadi dalam sistem kapitalisme saat ini. Dengan begitu tidak akan terjadi pengangguran bagi pemuda kaum Muslim bila hidup dalam sistem Islam.

Maka sudah saatnya kaum Muslim sadar untuk kembali kepada sistem yang Allah ridai yaitu sistem Islam yang akan memberikan kemudahan hidup baik di dunia maupun di akhirat. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button