Asma’ binti Abu Bakar

Wanita yang memiliki dua selendang di surga
(Bagian 1)
JOURNALVIBES.COM – Siapakah yang tidak mengenal Abdullah bin Zubair? Orang yang begitu khusyuk dalam menjalankan ibadah, sekaligus begitu hebat dalam berjihad di medan perang dan berpegang teguh dalam kebenaran.
Di balik sosok luar biasa Abdullah bin Zubair tersebut ada sosok ibu yang tangguh tentunya. Siapakah ibu yang telah mendidiknya?
Dengarlah doa sang ibunda terhadap Abdullah bin Zubair.
               Â
 “Ya Allah… Kasihanilah dia, karena salatnya yang panjang diselingi tangisan di tengah dinginnya malam yang sepi, ketika orang-orang sedang nyenyak dibuai mimpi.”
“Ya Allah… Kasihanilah dia yang sering menahan lapar dan dahaga ketika bertugas jauh dari Madinah atau Makkah, dalam menunaikan ibadah puasa kepada-Mu.”
“Ya Allah… Aku menyerahkan dia dalam pemeliharaan-Mu.
Aku rida dengan apa yang telah Engkau tetapkan bagiku dan baginya. Dan berilah kami pahala orang-orang yang sabar!”
Siapakah wanita mulia ini? Tak lain adalah Ibunda Abdullah bin Zubair, yaitu Asma binti Abu Bakar ash-Shiddiq.
Beliau adalah kakak dari Aisyah, Ummul Mukminin (istri Rasulullah). Merupakan anak dari sahabat terdekat Rasulullah, yaitu Abu Bakar ash-Shiddiq. Beliau adalah istri dari Zubair bin al-Awwam, pejuang dan tokoh Islam yang mengedepankan rida Allah dalam perjuangannya. Salah satu sahabat yang dijamin masuk surga.
Asma lahir 27 tahun sebelum hijrah. Beliau 10 tahun lebih tua daripada Aisyah. Asma termasuk salah satu wanita yang pertama kali masuk Islam. Setelah 17 orang sahabat lainnya, yang mengucap dua kalimah syahadat, maka Asma pun dibai’at oleh Rasulullah.
Asma adalah seorang wanita mulia. Pribadinya dirahmati Allah dengan keistimewaan yang sangat menonjol. Dia cerdas, cerdik, lincah, pemurah dan pemberani.
Kedermawanan Asma dapat dilihat jelas melalui ucapan anaknya,
“Aku belum pernah melihat wanita yang sangat pemurah melebihi ibuku, termasuk Aisyah. Beliau (Aisyah) mengumpulkan sedikit demi sedikit dari apa yang diperoleh, setelah terkumpul baru disedekahkan. Sedangkan ibuku, dia tidak pernah menyimpan sedikit pun, hingga hari esok. Semua yang dia peroleh, saat itu disedekahkan.”
Dzaatun Nithaqain
Asma diberi julukan ‘Dzaatun Nithaqain’ oleh Rasulullah, yang artinya “wanita yang mempunyai dua selendang”.
Julukan ini untuk mengingat pengorbanan dan keberanian Asma yang tiada bandingannya, dalam membantu perjuangan Rasulullah dan ayahnya pergi berhijrah ke Madinah, di tengah kejaran kafir Quraisy.
Asma yang saat itu sedang hamil, bersusah payah menyiapkan dan membawa bekal makanan dan minuman untuk Rasulullah dan Abu Bakar yang dalam perjalanan hijrah ke Madinah secara sembunyi-sembunyi.
Karena tidak ada tali, demi kecintaannya terhadap Islam, Asma rela merobek selendang indah yang dipakainya sebagai tali pinggang, menjadi dua helai.
Satu helai untuk mengikat bekal makanan dan minuman. Satu helai lagi untuk penutup kepalanya.
Atas peristiwa ini, Rasulullah pun mendoakan agar Allah Azza wa Jalla memberi ganti selendang yang lebih baik dan lebih indah di surga buat Asma.
Ketika terjadi peperangan antara kaum Muslimin dan penduduk Syam, mereka kaum kafir mengolok-olok putra Asma yaitu Abdulah Ibnu Zubair, dengan julukan “Dzaatun Nithaqain”.
Seusai pertempuran, Abdullah menanyakan julukan itu kepada Sang Bunda. Asma pun membenarkan julukan yang diberikan kepadanya itu, ”Demi Allah, itu adalah benar.”Â
Begitulah pengorbanan dan kecintaan Asma untuk agama dan Rasulullah yang telah mengajarkan kita pada jalan kebaikan.
Tidak hanya itu pengorbanan Asma. Pada saat peristiwa hijrah, kita bisa menyaksikan kecemerlangan berpikir dan kemampuannya merancang strategi yang dimiliki oleh seorang muslimah, dengan ketakwaan dan keimanan yang teguh.
Asma bukan hanya mengantarkan bekal makanan dan minuman kepada Rasulullah dan ayahnya, tapi ia juga berperan menyampaikan informasi penting berkaitan dengan rencana pihak musuh terhadap kaum Muslimin.
Dengan kehamilannya saat itu, Asma mengambil peran yang berisiko tinggi. Bukan saja nyawa yang menjadi taruhan, malah lebih dari itu, yaitu nyawa Rasulullah dan ayahnya turut terancam pula.[]
(bersambung)
Sumber: 35 Siroh Sahabiyah, Mahmud al Misri, Penerbit Al Ittishom
Photo Source by Google
Disclaimer: JOURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JOURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JOURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@journalvibes.com

