Opini

Polah Caleg Gagal, Potret Gelap Masyarakat Kita

Dengan diterapkan aturan Islam, negara kita akan terhindar dari pemborosan, kekecewaan, dan penipuan. Warga negara akan mendapat pemeliharaan yang maksimal, karena pemimpin yang beriman dan bertakwa yang takut menghadap Allah dengan pertanggung jawaban yang buruk, sehingga kesejahteraan dan kemudahan hidup akan dirasakan oleh setiap orang.


Oleh Ummu Miqdad

JURNALVIBES.COM – Pemilu telah usai. Berakhir pulalah gancaran gemercik rupiah dan hembusan janji manis yang membuai mimpi sesaat. Kembali ke realita kehidupan dengan aktifitas masyarakat dalam menjalankan kehidupan mereka. Mengayuh beratnya roda perekonomian yang kian terjal.

Masih teringat di perkumpulan masyarakat dikunjungi tim sukses dari calon pejabat yang menginginkan dukungan. Mereka datang menyampaikan tekadnya yang ingin memajukan daerah itu dengan segenap kemampuannya. Membawa buah tangan bagi semua tamu yang hadir sembari menjanjikan memberi hadiah tambahan yang lebih besar bagi semua asalkan mau memberi suara baginya secara terang-terangan.

Baru satu perkumpulan sudah begitu besar dana yang dikeluarkan. Pasti untuk berhasil tak mungkin hanya satu perkumpulan yang dikunjungi. Dengan kucuran dana yang sangat besar tentunya, yang entah mereka peroleh dari mana. Belum lagi kunjungan dari rumah ke rumah dengan jumlah yang cukup besar, agar tidak kalah saing dengan caleg lain.

Pesona kursi kekuasaan menghipnotis syahwat untuk mengejarnya, meski harus dengan berbagai cara. Fenomena yang dinantikan berbagai pihak di setiap periode jabatan. Demi mendapat berbagai tujuan pribadi maupun yang tulus menginginkan perubahan yang lebih baik.

Hari ini tentu tak akan ada makan gratis. Apa yang telah di berikan sangat mereka harapkan menghasilkan keuntungan berlipat dari modal yang mereka keluarkan. Seperti tak sadar, bahwa di luar sana juga banyak yang berangan sama dan bersaing gila-gilaan untuk meraih singgasana penuh permata, yang tak mungkin ditempati oleh mereka semua.

Kenyataan tak semanis harapan. Kekalahan merebak di sela banyaknya orang yang mencalonkan dirinya. Oleh karena itu, tak heran jika banyak kejadian yang menghebohkan yang diperbuat si calon yang gagal.

Seperti di lansir Tvonenews (18/2/ 2024), di Kabupaten Cirebon dua timses mendapat tekanan sehingga mengalami depresi dan mengambil kembali amplop yang diberikan kepada warga. Di Lombok salah satu timses melempari rumah timses lain karena dianggap curang.

Sementara itu mengutip dari Kompas (19/2/2024), caleg di Banyuwangi menarik bantuan paving diduga karena suara yang di dapat kecil. Sementara itu caleg di Subang membongkar kembali jalan dan gorong-gorong yang telah di bangun, serta meneror warga dengan menyalakan petasan, hingga mengakibatkan satu orang meninggal dunia akibat serangan jantung. Ada juga timses yang bunuh diri di pohon rambutan dengan cara gantung diri di Pelalawan, Riau.

Maraknya peristiwa yang terjadi pasca pemilu, menggambarkan lemahnya mental para caleg dan timsesnya. Mereka sangat optimis akan menang dan tidak siap menerima kekalahan. Sehingga melakukan hal-hal memalukan bahkan sampai menghilangkan nyawa sebagai ungkapan kekecewaannya.

Peristiwa ini juga menggambarkan bahwa mereka sangat menginginkan jabatan mengingat keuntungan yang akan mereka dapatkan, sehingga rela merogoh kocek dalam-dalam demi membeli suara rakyat untuk memilih mereka.

Di sisi lain, pemilihan model ini memerlukan modal yang sangat besar. Mulai dari atribut, iklan, kampanye, rapat-rapat, hingga bingkisan atau uang yang digunakan untuk meraih suara.

Jabatan merupakan amanah dalam pandangan Islam yang akan di pertanggung jawabkan kelak sampai ke akhirat. Keimanan adalah fondasinya. Sehingga orang yang mencalonkan diri adalah orang yang benar-benar siap memimpin dengan berbagai kemampuan yang diperlukan dalam pengurusan negara. Dengan menempuh cara-cara yang diperbolehkan oleh syara’.

Sedangkan jabatan merupakan bencana bagi orang yang melalaikan dan menelantarkan rakyatnya. Jadi bukan ajang mencari keuntungan yang orang-orang berlomba habis-habisan mendapatkannya.

Pemilu juga ada dalam Islam, yang merupakan uslub atau cara untuk mencari pemimpin atau majelis umah dengan mekanisme yang sederhana, praktis, tidak berbiaya tinggi dan penuh kejujuran, tanpa tipuan atau janji-janji. Para calon pun memiliki kepribadian islam dan hanya mengharap keridaan Allah semata.

Dengan diterapkan aturan Islam, negara kita akan terhindar dari pemborosan, kekecewaan, dan penipuan. Warga negara akan mendapat pemeliharaan yang maksimal, karena pemimpin yang beriman dan bertakwa yang takut menghadap Allah dengan pertanggungjawaban yang buruk, sehingga kesejahteraan dan kemudahan hidup akan dirasakan oleh setiap orang. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button