Teenager

Valentine Day, Syahwat Berbalut Coklat

Dalam Islam tidak ada hari khusus untuk memperingati hari kasih sayang, justru Islam mengajarkan untuk senantiasa mengekspresikan kasih sayang setiap hari kepada pasangan (suami-istri), orang tua, sahabat, bukan hanya di hari tertentu saja.


Oleh Rizkika Fitriani

JURNALVIBES.COM – Hari kasih sayang atau Valentine Day merupakan tradisi Barat yang diadopsi sebagian kaum Muslim di belahan dunia, tak terkecuali di Indonesia sendiri.

Hari yang selalu diperingati setiap tanggal 14 Februari ini dianggap sebagai simbol kasih sayang terhadap pasangan.

Tidak jarang para muda-mudi yang merayakan ini mengekspresikan bentuk kasih sayangnya dengan memberikan kado ataupun coklat.

Namun saat ini perayaan Valentine Day bukan menjadi rahasia umum lagi dijadikan ajang zina Internasional, apalagi faktanya intensitas aktivitas zina meningkat, lebih miris lagi coklat dan bunga yang didamba dambakan kaum perempuan acap kali terselip alat kontrasepsi untuk merenggut mahkota para perempuan dengan dalih pembuktian kasih sayang.

Alih-alih untuk mencegah tindakan ini mulai dari mengerahkan Satpol PP untuk merazia penjualan kondom di berbagai minimarket, namun nyatanya negara masih kecolongan.

Jika kita melihat fakta ini, kita akan mendapati bahwa saat ini fondasi generasi pemuda Muslim sangat lemah.

Ini menjadi salah satu bencana kaum Muslim yakni latah meniru kebiasaan kaum kafir. Sehingga mereka tidak menyadari trend yang mereka ikuti membawanya keluar dari jalur syariat dan bernilai maksiat.

Sejarah Valentine Day

Melihat dari sejarahnya, perayaan Valentine day ini adalah hari raya yang diperingati semenjak Romawi Kuno (Jahiliah), dan perayaan ini berlangsung hingga masuknya bangsa Romawi pada agama Kristen hingga sekarang.

Perayaan ini bermula dari kisah seorang pendeta bernama Santo Valentine yang dihukum mati oleh raja Romawi Claudius pada tanggal 14 Februari tahun 207 Masehi karena menentang larangan pernikahan, dan menikahkan prajurit secara diam-diam di Gereja.

Gerejawan pada masa itu menganggap bahwa sikap Valentine benar karena itu ia dinobatkan sebagai pahlawan kasih sayang. Sehingga tercatat dalam sejarah bahwa 14 Februari diperingati sebagai hari kasih sayang.

Terlepas dari asal mulanya perayaan Valentine, yang sampai hari ini menjadi tradisi atau budaya yang selalu dirayakan dan disebarkan setiap tahunnya oleh orang-orang kafir tak ubahnya merupakan praktik kemungkaran dan perbuatan keji.

Bahkan sejatinya sudah keluar dari jalur akidah, dan hukumnya mutlak haram, karena perayaan tersebut dianggap tasyabbuh atau menyerupai kaum kafir, yang secara syara’ umat muslim tidak boleh ikut merayakan.

Maka dari itu, tidak boleh adanya simbol-simbol perayaan di hari raya tersebut, baik berupa makanan, pakaian, saling memberi hadiah dan lain sebagainya.

Berdasarkan dalil-dalil dari Al Kitab dan sunah. Para pendahulu umat sepakat bahwa hari raya umat islam ada dua yakni hari raya Idul Fitri dan hari raya Idul Adha.

Tidak boleh adanya hari raya lain, apalagi mengambil dari budaya orang kafir atau bertasyabbuh. Sebagaimana Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda “Barangsiapa mengikuti suatu kaum, maka ia termasuk golongan mereka” (HR. Abu Daud).

Hal ini juga diperkuat dengan riwayat yang menceritakan nabi ketika menjumpai masyarakat Madinah tengah merayakan hari raya Nairuz dan Mihrajan yang merupakan hari raya orang Majusi.
Nabi saw.bersabda : “Saya mendatangi kalian (di Madinah), sementara kalian memiliki dua hari yang kalian gunakan untuk bermain di masa jahiliyah. Padahal Allah telah memberikan dua hari yang lebih baik untuk kalian: Idul Qurban dan Idul Fitri”. (HR. Ahmad, Abu Daud, Nasai, dan disahihkan

Gambaran rusaknya generasi Muslim saat ini tak terlepas dari sistem Kapitalis sekuler yang kita terapkan sekarang, yakni memisahkan aturan agama dari kehidupan menjadikan umat Islam menabrak aturan hukum syara’.

Aktivitas maksiat, pacaran hingga zina seolah menjadi hal yang dinormalisasi karena membebek negeri Barat yang dianggap sebagai pengusung kebebasan.

Inilah akibatnya jika aturan Islam tidak diterapkan di segala aspek kehidupan, pemuda Islam bak kehilangan jati diri, sehingga sangat mudah tergerus dengan budaya Barat yang sesat dan menyesatkan.

Untuk itu wajib bagi kaum Muslim menerapkan Islam dalam sebuah institusi yang mana aturannya mampu menjadi rahmat seluruh alam, sehingga akan melahirkan generasi yang berkualitas, bukan generasi yang bucin ataupun menjadi followers Barat.

Jika Islam sudah diterapkan, tidak akan dibiarkan adanya budaya Barat menyerang kaum Muslim, termasuk perayaan Valentine Day yang dianggap sebagai ajang menyalurkan syahwat berbalut coklat.

Dalam Islam tidak ada hari khusus untuk memperingati hari kasih sayang, justru Islam mengajarkan untuk senantiasa mengekspresikan kasih sayang setiap hari kepada pasangan (suami-istri), orang tua, sahabat, bukan hanya di hari tertentu saja.

Bahkan kepada pasangan halal seperti suami istri yang diwajibkan untuk saling menyayangi, seorang anak yang senantiasa berbakti kepada orang tua, seorang sahabat atau teman yang senantiasa saling mengingatkan dalam kebaikan, inilah bentuk kasih sayang yang sesungguhnya, ketika cinta atas dasar Allah.

Bukan justru mengekspresikan syahwat dengan pacaran, jelas ini diharamkan dalam Islam. Umat akan terjaga, syariat akan terjaga, hanya dalam genggaman sistem Islam.

Sudah saatnya umat bangkit untuk memperjuangkan agama Allah agar kembali diterapkan dan kita bisa melanjutkan hidup dalam naungan syariat Islam yang diterapkan secara sempurna dalam seluruh aspek kehidupan. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button