Mengapa Palestina Belum Bebas ?

Palestina secara tidak langsung merupakan korban dari buruknya ikatan nasionalisme ini di dunia Islam. Karena, sejak wilayahnya dicaplok oleh Yahudi pada tahun 1948 hingga kini, kaum Muslim Palestina nyaris berjuang sendirian. Para penguasa negara-negara Arab yang berada di sekelilingnya tidak melakukan pembelaan
Oleh Aulia Sabirin
JURNALVIBES.COM – Sejak 7 Oktober 2023 sampai 6 Januari 2024 Palestina mengalami krisis keamanan dan kemanusiaan yang sangat signifikan. Ribuan nyawa tak bersalah dilenyapkan, ribuan anak kehilangan salah satu bahkan kedua orang tuanya. Rumah sakit, tempat ibadah seperti masjid dan gereja dihancurkan. Tanpa rasa kemanusiaan menjatuhkan bom fosfor dan membunuh wanita, jurnalis, dan medis.
Semua manusia yang masih memiliki hati nurani dan kemanusiaan pasti sepakat bahwa tidak ada alasan sedikitpun untuk membenarkan pelanggaran kemanusiaan yang terjadi di Palestina. Oleh sebab itu, kita juga menyaksikan banyaknya aksi-aksi solidaritas terhadap rakyat Palestina yang dilakukan oleh masyarakat di berbagai negara yang ada di seluruh penjuru dunia. Suara mereka satu “free Palestine” beraksi bersama untuk mendesak para pemimpin dunia untuk segera mengakhiri genosida yang terjadi di Palestina sembari melakukan segenap daya dan upaya semaksimal mungkin untuk membantu krisis kemanusiaan yang ada di sana dengan mengirimkan berbagai bantuan kemanusiaan seperti makanan, obat-obatan, dan pakaian, melakukan boikot produk menyuarakanfakta kekejaman Israel di tanah Palestina, dan lain sebagainya.
Permasalahan Israel-Palestina telah menjadi sorotan bersama bagi dunia internasional. Melihat fakta menyakitkan terhadap kemanusiaan dan keamanan yang terjadi di dunia internasional akhir-akhir ini, banyak pemimpin dunia yang juga merasa terusik sehingga mereka mengajukan resolusi gencatan senjata kepada Dewan Keamanan PBB (DK PBB). Namun, berkali-kali pula resolusi gencatan senjata di veto. Contohnya saja pada Jum’at , 8 Desember 2023 Amerika Serikat memvento resolusi gencatan senjata. Menurut wakil duta besar PBB, Robert Wood AS menolak resolusi tersebut karena resolusi tersebut hanya akan menjadi benih bagi perang berikutnya karena Hamas tidak memiliki keinginan untuk melihat perdamaian yang bertahan lama.
Di mana Peran Kita?
Sebagian besar masyarakat di berbagai negara yang ada di seluruh penjuru dunia saat ini bersatu bersuara untuk membebaskan Palestina. Banyak cara yang dilakukan oleh masyarakat di seluruh penjuru dunia diantaranya adalah mengirimkan bantuan kemanusiaan, mendoakan saudara-saudari di Palestina, memboikot produk-produk yang mendukung aksi genosida Israel, bersuara menyuarakan fakta yang ada di Palestina, belajar mengenai sejarah Palestina, menyuarakan gencatan senjata dan lain-lain. Banyak cara yang dilakukan masyarakat sebagai wujud kepedulian rakyat diberbagai belahan dunia terhadap genosida yang terjadi di Palestina dan merupakan aksi nyata yang mereka lakukan untuk berperan dalam menolong Muslim Palestina.
Sayangnya masih banyak masyarakat di berbagai belahan dunia yang mendukung Israel dan bersikap netral. Selain itu, untuk menghentikan genosida atau krisis kemanusiaan di Palestina juga dibutuhkan peran para pemimpin negara di dunia. Mengapa pemimpin-pemimpin negara dunia belum bersatu untuk mengakhiri genosida di Palestina?
Saat ini pemimpin-pemimpin negara dan masyarakat di dunia masih disatukan dengan ikatan nasionalisme. Dalam ikatan nasionalisme pemimpin negara tidak akan berbuat lebih untuk membantu negara-negara lain jika dengan membantu negara-negara lain tersebut dianggap akan mengancam negaranya sendiri. Ikatan inilah yang nampak tercermin pada para pemimpin negara saat ini.
Ikatan ini merupakan ikatan yang buruk. Keburukan ikatan ini telah diakui juga sejak dulu oleh Letnan Jenderal Sir John Glubb (‘Glubb Pasha’), yang pernah memimpin ‘Arab Legion’ (1938-1956). Dalam bukunya “The Canging Scenes of Life-An Autobiography” Sir John Glubb dengan tegas menyatakan, “Nasionalisme adalah satu kecelakaan (bagi Dunia Islam, pen.) yang sengaja dibawa masuk dari Eropa.”
Palestina secara tidak langsung merupakan korban dari buruknya ikatan nasionalisme ini di dunia Islam. Karena, sejak wilayahnya dicaplok oleh Yahudi pada tahun 1948 hingga kini, kaum Muslim Palestina nyaris berjuang sendirian. Para penguasa negara-negara Arab yang berada di sekelilingnya tidak melakukan pembelaan. Padahal sudah tak terhitung darah kaum Muslim Palestina yang oleh Zionis Yahudi sejak 75 tahun yang lalu.
Negara di dunia juga memiliki hubungan diplomatik dengan Israel dan memiliki kepentingan politik, ekonomi, atau keamanan dengan negara tersebut. Kepentingan ini dapat mencegah negara-negara tersebut untuk mengambil tindakan militer langsung terhadap Israel. Oleh sebab itu, tak mudah bagi kaum Muslim, khususnya tentara mereka, bahkan negeri-negeri Arab sekalipun untuk membatu mengakhiri genosida di Palestina.
Kesulitan ini tidak akan terjadi jika terdapat suatu negara yang menggunakan sistem kekhilafahan yang dipimpin oleh seorang khalifah.
Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
Imam (Khalifah) itu laksana perisai; kaum Muslim berperang di belakang dia dan dilindungi oleh dirinya (HR Muslim).
Apa yang disabdakan Rasulullah saw. di atas dibuktikan dalam sejarah pembabasan Baitul Maqdis oleh khilafah Umar Bin Khattab dan Sultan Shalahuddin Al Ayyubi. Begitupun Khalifah lah yang akan menaklukkan Zionis Yahudi Israel. Khalifah pula yang akan menyatukan berbagai negeri Islam, menjaga kehormatan kaum Muslim dan menolong kaum tertindas. Insya Allah sistem kekhilafahan tersebut akan segera tiba.
Sebagaimana Sabda Rasulullah:
“Kemudian akan datang kembali masa Khilafah yang mengikuti metode kenabian…” (HR Ahmad).
Namun, kabar gembira dari Rasulullah saw ini tak cukup disambut hanya dengan sukacita tanpa perjuangan. Agar sistem kekhilafahan dapat terwujud seluruh kaum Muslim sedunia, termasuk di Indonesia juga harus berjuang dengan sungguh-sungguh.
Bahkan sebelum Khalifah Umar Bin Khattab dan Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi berhasil membebaskan baitul Maqdis atas izin Allah Swt. di belakang mereka terdapat banyak para pejuang yang juga bersungguh-sungguh memperjuangkan terbebasnya Baitul Maqdis karena merekapun hidup di masa Baitul Maqdis terjajah seperti saat ini.
Perjuangan kita untuk menegakkan sistem kehilafahan dan membebaskan Baitul Maqdis bisa dimulai dari sekarang dengan memerdekakan pemikiran kita dan orang-orang disekeliling kita dari pemikiran-pemikiran rusak dengan cara belajar dan berbagi ilmu karena saat inipun kita dan orang-orang disekitar kita masih banyak yang terjajah secara pemikiran. Wallahu alam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz
Photo Source by canva.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






