Opini

Sports Tourisme, Wajarkah Menjadi Penyangga Ekonomi Berkelanjutan?

Islam telah mengatur sumber pendapatan negara salah satunya adalah dari pengelolaan SDA. Yang pengelolaannya akan dikelola oleh negara dengan amanah, karena akan berpengaruh pada kehidupan rakyatnya.


Oleh Sulistijeni
(Pegiat Literasi)

JURNALVIBES.COM – Sport Tourism seperti menjadi angin segar bagi pertumbuhan ekonomi di Indonesia. Sebagaimana yang dirilis tirto (11/8/2023,), popularitas sport tourism di Indonesia memberikan awal yang baik bagi kebangkitan pariwisata Indonesia. Nilai sport tourism atau wisata berbasis olahraga di Indonesia diperkirakan bisa mencapai Rp18,790 triliun pada 2024 mendatang. Plt VP Corsec Jakpro Melisa Sjach. mengatakan, tentu angin segar ini menjadi langkah awal dalam membangkitkan pariwisata dan ekonomi di Indonesia, sekaligus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Seperti yang dilansir tempo (6/8/2023), Bank Jateng menggelar event wisata bersepeda Tour de Borobudur ke-23 pada tanggal 5-6 Agustus 2023 sebagai ajang promosi pariwisata di Jawa Tengah. Pj Ketua Penyelenggara Tur Sepeda Hendra Dharmanto mengatakan, Tour de Borobudur ke-23 menempuh jarak 113,7 kilometer pada hari pertama, dengan rute yang cukup menantang.

Menurut pemberitaan kompas (25/4/2023), olahraga menjadi salah satu bagian dari perkembangan bisnis yang menguntungkan. Sport tourism merupakan ajang untuk mempromosikan pariwisata atau mengenalkan obyek menarik di daerah yang menyelenggarakan acara tersebut. Even sport tourism merupakan daya tarik wisatawan untuk melakukan perjalanan sambil menyaksikan kegiatan olahraga di suatu tempat.

Popularitas sport tourism menjadi awal yang baik bagi pariwisata di Indonesia, dan sebagai atraksi wisata agar pertumbuhannya pesat. Karena dengan sport tourism akan punya pasar yang cukup besar akibat banyaknya wisatawan mancanegara yang tertarik pada aktivitas olahraga di Indonesia. Menurut Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, Sandiaga Uno saat memberikan keynote speech dalam webinar Pelatihan Pengembangan Pariwisata Olahraga Untuk Pemuda (9/7) diperkirakan pertumbuhan sport tourism di Indonesia bisa mencapai Rp18,790 triliun pada 2024 mendatang. Tentu ini merupakan angin segar dan menjadi langkah awal dalam membangkitkan pariwisata dan ekonomi di Indonesia, sekaligus membuka lapangan pekerjaan seluas-luasnya.

Dalam sistem kapitalis segala aktivitas apapun kalau bisa mendatangkan keuntungan, sebagaimana dengan sports tourisme dimana berolah raga dan berwisata. Karena sektor pariwisata merupakan salah satu sektor andalan pemerintah yang banyak menghasilkan devisa dan bisa menggerakkan ekonomi dengan cepat. Selain mengadakan acara olahraga, sport tourism digunakan untuk mempromosikan pariwisata, atau mengenalkan obyek menarik di daerah yang menyelenggarakan acara tersebut.

even ini akan memberikan kontribusi finansial kepada pemerintah daerah yang dapat mensejahterakan masyarakat lokal dan meningkatkan kesempatan kerja. Dengan kegiatan olahraga sebagai wisata olahraga dapat dirangkai sebagai jasa pariwisata yang akan bermanfaat dalam pengembangan pariwisata sehingga akan berpengaruh pada pembangunan ekonomi, sosial, budaya dan meningkatkan kemajuan daerah.

Menjadikan sport tourisme sebagai penyangga ekonomi bangsa, menunjukkan negara abai mencari solusi strategis yang justru akan menuai berbagai persoalan. Karena sport tourisme menyangkut banyak hal, termasuk aspek ekonomi dan sosial. Sport tourisme yang diharapkan bisa menyumbangkan devisa negara karena dianggap mampu bersentuhan langsung dengan masyarakat setempat dan diharapkan akan langsung bisa menggerakkan perekonomian rakyat.

Sistem kapitalis yang menyandarkan segala sesuatunya pada materi, dalam hal tata kelola pariwisata masih di bawah sistem ekonomi neoliberalisme yang semua berujung pada keuntungan semata. Ekonomi neolib yang dianut negeri ini, telah menjadikan pariwisata sebagai tumpuan devisa negara. Sehingga menggenjot sektor pariwisata untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi dan mengeksploitasi sumber daya alam. Padahal dengan mengolah sumber daya alam yang melimpah ruah, akan mendapatkan benefit yang bisa mensejahterakan rakyat. Tetapi pada kenyataannya pembiayaan negara bertumpu pada sektor wisata yang melibatkan para kapitalis dalam pembangunannya. Yang ujungnya akan menguntungkan bagi si pemilik modal dan menjadikan rakyat semakin sengsara.

Hal ini juga berarti negara mengabaikan sumber pendapatan negara yang jauh lebih strategis, lebih menjanjikan dan berkelanjutan. Apalagi adanya investor swasta yang dilibatkan, makin nyata pengabaiannya terhadap nasib rakyat, sebagaimana yang terjadi di Stadion Mandalika. Bila dibandingkan dengan pengelolaan negara atas SDA yang ada, akankah sports tourisme bisa menjadi penyangga ekonomi yang berkelanjutan.

Mengutip ungkapan Abu Ubaid, “Ketika Nabi saw. mengetahui bahwa tambang laksana air yang mengalir, yang mana air merupakan benda yang tidak pernah habis, seperti mata air dan air bor, beliau mencabut kembali pemberian beliau. Rasul saw. bersabda bahwa manusia bersekutu dalam masalah padang, api dan air, sehingga beliau melarang siapa pun untuk memilikinya, sementara yang lain terhalang.” Tetapi pada kenyataannya di sistem demokrasi kapitalistik, SDA dimiliki dan dikelola oleh satu individu atau korporasi demi menguntungkan mereka.

Dalam Islam, kekayaan alam adalah bagian dari kepemilikan umum. Kepemilikan umum ini wajib dikelola oleh negara. Hasilnya diserahkan untuk kesejahteraan rakyat secara umum. Sebaliknya, haram hukumnya menyerahkan pengelolaan kepemilikan umum kepada individu, swasta apalagi asing. Di antara pedoman dalam pengelolaan kepemilikan umum antara lain merujuk pada sabda Rasulullah saw. bahwa, “Kaum Muslim berserikat (memiliki hak yang sama) dalam tiga hal: air, rumput dan api.” (HR Ibnu Majah).

Islam telah mengatur sumber pendapatan negara salah satunya adalah dari pengelolaan SDA. Yang pengelolaannya akan dikelola oleh negara dengan amanah, karena akan berpengaruh pada kehidupan rakyatnya. Negara akan memberikan hasil pengelolaannya untuk kebutuhan rumah tangga secara gratis. Dan negara akan membangun fasilitas sekolah-sekolah gratis, rumah-rumah sakit gratis, dan pelayanan umum lainnya. Semuanya diperuntukkan bagi kesejahteraan rakyat semata dan menjauhkan dari hidup susah serta menjamin pemenuhan segala kebutuhan rakyatnya. Rakyatpun akan hidup dalam kemakmuran dan kesejahteraan.

Oleh karena itu sudah saatnya Islam mengelola tambang yang merupakan salah satu SDA negara dengan pengelolaan yang amanah agar menyejahterakan rakyat dan tidak menjadikan sports tourisme sebagai penyangga ekonomi yang berkelanjutan. Semua itu akan bisa diwujudkan hanya dengan penerapan syariat Islam secara kafah. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by pexels.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button