Wibawa Sirna, Muslim Merana

Hanya penerapan Islam yang kafah, wibawa Islam akan terjaga kelestariannya. Maka kekuasaan dalam Islam sangat lah penting dalam rangka menerapkan syariat Allah.
Oleh Nurul Adha
JURNALVIBES.COM – Suara azan di negeri yang mayoritas Muslim terbesar dipersoalkan oleh media asing. Mereka mengungkapkan terdapat salah satu warga Jakarta yang terbangun setiap pukul 03.00 pagi karena pengeras suara yang begitu keras dari masjid di pinggiran Jakarta pada saat azan berkumandang.
Tidak berhenti sampai di situ, media lokal Prancis turut melaporkan adanya peningkatan keluhan di media sosial mengenai pengeras suara yang dianggap bising.
Mengutip dari poskota.co.id, dari laman resmi MUI menyebutkan suara azan beberapa kali menjadi sorotan di sejumlah negara. Keluhan yang merasa risih, sampai ada yang akhirnya memparodikannya sebagai lelucon.
Bahkan semakin menjadi-jadi, sebuah program televisi di Korea Selatan diketahui dengan lancangnya dengan sengaja me-remix potongan azan dengan DJ. (Pos kota.co.id, 15/10/2021)
Betapa durjananya mereka berani mempertontonkan secara terang terangan upaya merendahkan syiar Islam yang mulia.
Padahal azan sejatinya dalam Islam sangat krusial sebagai seruan untuk melaksanakan ibadah. kalimatnya penuh dengan pengagungan kepada Allah dan Rasul-Nya yang sama sekali tidak pantas diolok-olok terlebih disandingkan dengan DJ yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Inilah dampak dari hilangnya wibawa umat Islam di dunia internasional. Sehingga orang orang kafir sangat mudah merendahkan segala sesuatu yang berasal dari Islam sekehendak hatinya. Sedangkan kaum muslimin dengan jumlahnya yang tidak sedikit, namun seperti sabda Rasulullah Saw. umpama buih di lautan, tidak mampu berbuat banyak selain hanya mengecam tindakan-tindakan tersebut.
Termasuk saat aplikasi Al-Quran dengan pengguna hampir satu juta orang di Cina dihapus dari App Store di Cina. Sebuah aplikasi yang biasa digunakan untuk menugunduh berbagai aplikasi di Ios Apple, karena dianggap memuat teks-teks keagamaan yang ilegal. (suara.com, 16/10/2021)
Apple menyebut penghapusan ini merupakan permintaan penguasa Cina. Aneh, padahal Islam merupakan salah satu agama yang dilindungi oleh Cina. Aplikasi ini adalah aplikasi yang populer di Cina dan dunia, bahkan pengguna aplikasi ini secara global diperkirakan mencapai sekitar 35 juta orang. (cnnindonesia.com, 18/10/2021)
Betapa liciknya orang-orang kafir, terlebih sulit rasanya jika tidak mengkaitkan fenomena ini dengan apa yang telah dilakukan Cina kepada etnis Uighur, etnis Muslim yang berada di Xinjiang, Cina. Walau Cina sendiri membantah telah melakukan kekerasan. Namun banyak bukti yang memperlihatkan fakta kekejaman Cina terhadap etnis Muslim Uighur ini. (BBC.com, 18/12/2021)
Hal ini semakin membuat fenomena tersebut terkait. Namun mirisnya lagi-lagi tidak ada yang dapat menghentikan berbagai malapetaka yang dialami oleh kaum Muslim, maupun mengembalikan wibawa Islam dan ajarannya saat ini. Sehingga siapapun bebas untuk melecehkan Islam dan ajarannya.
Kebebasan beropini menjadi kunci yang membebaskan siapapun untuk mencerca apapun termasuk ajaran atau syiar agama. Maka dari itu sanksi yang saat ini diberlakukan atas berbagai tindakan yang merendahkan wibawa Islam tidak dapat berhasil menuntaskan hingga benar-benar tuntas. Sehingga sampai hari ini masih saja bermunculan fenomena yang serupa.
Oleh karena itu, tidak ada pilihan lain selain Islamlah satu satunya sistem yang dapat dijadikan alternatif. Sebab sistem saat ini telah gagal mengembalikan wibawa Islam di mata dunia.
Islam dalam aturan menjalankan roda kekuasaanya menghendaki pemimpin haruslah mengurusi urusan umat tanpa pamrih dan letih. Menjadi junnah yang akan melindungi umat dari berbagai tindakan pelecehan, perendahan, dan kejelekan lainnya.
Sejarah telah mencatat ketika Islam tegak, kaum Muslim menjadi kaum yang disegani. Sehingga orang orang kafir takut dan tidak bisa leluasa bertingkah sekehendaknya.
Seperti yang dahulu terjadi pada masa kekhilafahan Turki Utsmani yaitu pada masa Sultan Abdul Hamid II. Ketika Prancis berencana membuat pertunjukan drama teater yang merujuk karya dari Voltaire (seorang pemikir Eropa) yang menghina Rasulullah Saw., dengan judul “Muhammad dan Kefanatikan”.
Prancis ketakutan saat mengetahui Sultan Abdul Hamid II justru sangat murka mengetahui hal tersebut. Sultan melalui dutanya di Paris memerintahkan kepada pemerintah Prancis untuk menghentikan rencana pertunjukan teater tersebut. Ia turut mengancam akibat politik yang akan diterima Prancis jika tetap berencana melanjutkan pertunjukan teater tersebut. Perancis pun tunduk dan membatalkan rencananya sebab takut pada ancaman Sultan Abdul Hamid II tersebut.
Namun sayangnya, sejak kekhilafahan yang terakhir runtuh, wibawa dan izzah kaum Muslim bak ditelan bumi. Justru yang terjadi kaum Muslim di berbagai tempat dizalimi, ajaran dan syiar-Nya yang mulia terdengar di berbagai belahan dunia bersaut-sautan dilecehkan dan direndahkan tanpa ada yang berani memberikan ancaman kepada pelaku seperti yang dilakukan oleh Sultan Abdul Hamid II.
Maka benarlah seperti perkataan Imam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitabnya, al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd hlm. 128. Beliau mengumpamakan agama dan kekuasaan (kepemimpinan) sebagai saudara kembar (الدّين وَالسُّلْطَان توأمان). Beliau berkata : “Al-Dîin itu asas dan penguasa itu penjaganya, maka apa-apa yang tidak ada asasnya maka ia akan roboh dan apa-apa yang tidak ada penjaganya maka ia akan hilang.
Hanya penerapan Islam yang kafah lah kewibawaan Islam akan terjaga kelestariannya. Maka kekuasaan dalam Islam sangat lah penting dalam rangka menerapkan syariat Allah. Di mana hal inilah yang dapat menghadirkan kembali pemimpin yang dapat menjadi junnah untuk mengembalikan wibawa dan izzah Islam di mata dunia. Wallahu a’lam bisshawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






