Opini

Islam Melindungi Fitrah Perempuan

Islam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan ibu dan anak melalui berbagai mekanisme baik jalur nafkah dukungan masyarakat dan santunan negara. Dengan kata lain edukasi tertinggi bagi pemenuhan fitrah ini adalah oleh negara. Masih lekat dalam ingatan bagaimana kisah berkelilingnya seorang khalifah di malam hari untuk memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan.


Oleh Inge Oktavia Nordiani

JURNALVIBES.COM – Sungguh malang kondisi bayi yang baru lahir. Belum lama terlahir bayi ini harus kembali pulang ke haribaan Allah dengan cara yang tragis. Karena kelahirannya tidak diinginkan oleh ibu kandungnya sendiri.

Rohwana alias wana (38 th) seorang ibu di Kabupaten Belitung, Bangka Belitung ditangkap polisi karena terlibat pembunuhan dengan cara menenggelamkan bayinya ke dalam ember yang berisi air. Setelah meninggal bayi tersebut dibungkus kain dan dibuang ke semak-semak dalam kebun milik warga sekitar. Motif dari pembunuhan ini adalah masalah ekonomi (Kumparan News, 24/1/ 2024)

Di ruang dan waktu yang berbeda seorang ibu rumah tangga berinisial LK 20 tahun diduga membunuh bayi hasil hubungan gelapnya di Desa Nyimasi Kecamatan di Kalimantan Tengah, Timur Tengah Utara (Kompas, 27/1/ 2024)

Bukan barang baru di akhir zaman ini, namun sungguh Ironis dan mengiris hati. Hari ini bukan hanya hubungan gelap saja yang bisa menyebabkan membuang bayi namun ketika sudah jelas kedua orang tuanyapun pembunuhan bisa saja terjadi. Terjadinya hal-hal di atas tentu memiliki beberapa faktor, meliputi lemahnya ketahanan Iman. Iman merupakan kunci pencetus pola sikap, dimana pola sikap tercermin dalam pola akal. Pola akal terbentuk oleh iman sehingga seseorang dapat memiliki pemikiran yang khas terbimbing oleh wahyu.

Manusia sungguh makhluk yang lemah. Manusia tidak sanggup menentukan mati hidupnya sendiri. Seorang ibu dialah orang yang paling punya perasaan yang mendominasi, yang lembut perangainya. Begitulah Allah memberikan fitrah para ibu sebagai bentuk kedekatan dengan anak-anaknya. Ketika ada ibu yang tega membunuh anaknya maka Ibu tersebut telah jauh sebenarnya dari fitrahnya.

Faktor kedua, tidak berfungsinya peran keluarga sehingga Ibu juga terbebani pemenuhan ekonomi dalam keluarga. Tidak sedikit hari ini Ibu menjadi tulang punggung keluarga. Sehingga energi yang dikeluarkan oleh seorang ibu terkadang melebihi kapasitasnya sehingga berimbas padarespon seorag ibu pada anak-anaknya. Kehidupan kapitalisme yang serba sulit hari ini membuat kondisi perekonomian tidak pro rakyat.

Ketiga, lemahnya kepedulian masyarakat. Kehidupan kapitalisme menyebabkan hidup terasa sulit hingga melahirkan sikap acuh tak acuh alias individualis yang merajalela. Dari beberapa faktor penyebab di atas dapat ditarik benang merah dibutuhkannya edukasi tersistem oleh pemimpin negara beserta aturan yang mampu mengayomi secara keseluruhan ekosistem kehidupan.

Sebagai manusia patut kiranya muhasabah diri mengenai kondisi diri dan lingkungan yang terjadi. Pencipta manusia tentunya telah sempurna Memberikan pedoman hidup. Hal ini hanya bisa diterjemahkan oleh pemahaman akidah yang shahih yang bisa mengaitkan semua ini. Dalam Islam pencipta manusia tentu yang paling mengetahui seluk-peluk manusia. Fitrah apa yang lekat dengan karakteristik manusia. Sesungguhnya manusia memiliki potensi kehidupan. Potensi tersebut berupa akal dan naluri-naluri (fitrah).

Manusia wajib memahami peran akal dan bagaimana pemenuhan nalurinya. Bila tidak maka akan terjadi bentuk penyaluran fitrah yang salah bahkan menjerumuskan manusia pada jurang yang terdalam.

Islam mewajibkan negara menjamin kesejahteraan ibu dan anak melalui berbagai mekanisme baik jalur nafkah dukungan masyarakat dan santunan negara. Dengan kata lain edukasi tertinggi bagi pemenuhan fitrah ini adalah oleh negara. Masih lekat dalam ingatan bagaimana kisah berkelilingnya seorang khalifah di malam hari untuk memastikan bahwa rakyatnya tidak ada yang kelaparan. Ketika ditemukan ada satu keluarga yang kelaparan, didapati dua pelajaran. Yaitu keimanan yang kokoh seorang ibu dalam mengatasi kesulitannya dan bagaimana seorang kholifah dengan sigap mempertanggung jawabkan kepemimpinannya.

Selain itu Islam memiliki sistem ekonomi dan politik yang mampu mewujudkan kesejahteraan individu-individu yang miskin serta ketersediaan dana untuk mewujudkannya. Oleh karena itu seharusnya kita segera sadar dan meninggalkan sistem yang nyata membawa kerusakan dalam segala bidang, beralih ke sistem Islam. Sistem yang bersumber dari wahyu Sang Pencipta, yang terbukti mampu membawa kesejahteraan bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishawab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fahmzz


Photo Source by canva.com

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button