Terpasung Pembangunan Gender


Oleh Rina Khoirum
JurnalVibes.Com-Tahun 2021, Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati menyampaikan bahwa APBN sebagai instrumen keuangan negara juga mengenali pentingnya kesetaraan gender. Salah satu inisiatif baru pada tahun 2021 adalah mengenalkan sebuah dana alokasi khusus nonfisik yang didedikasikan untuk dana pelayanan perlindungan perempuan dan anak.
“Ini adalah upaya bagi kita untuk memberikan peningkatan kualitas perlindungan kepada perempuan dan anak dari domestic violence atau kekerasan di dalam rumah tangga,” ujar Menkeu dalam webinar daring bertajuk “Menuju Planet 50:50 Kontribusi Bisnis Pada Pencapaian SDG’ 5” yang diselenggarakan Indonesia Business Coalition for Women Empowerment (IBCWE) bekerjasama dengan Global Reporting Initiative (GRI), Rabu, (16/12).
Pemerintah Indonesia terus berusaha untuk mendesain kebijakan-kebijakan publik yang mendukung perempuan. Bantuan sosial pemerintah, seperti Program Keluarga Harapan (PKH) untuk 10 juta rumah tangga atau bantuan pemberian sembako, diberikan kepada lebih dari 95% kepala keluarga perempuan. Kebijakan pemerintah untuk memberikan dukungan kepada usaha kecil menengah, seperti pembiayaan ultra mikro (UMi) dan kredit usaha kecil (KUR), mayoritas dipegang dan dikelola oleh perempuan.
Dalam peringatan Hari Ibu tanggal 22 Desember mendatang, Menkeu berharap semua perempuan tetap menjaga dan memelihara semangat sebagai perempuan untuk terus menyumbangkan dan memiliki kepercayaan diri dalam perannya mengisi pembangunan Indonesia.
Konsep pembangunan manusia menurut United Nations Development Programme (UNDP) menyusun ukuran pembangunan manusia yang dikenal sebagai indeks pembangunan manusia (IPM) dimana radio antara IPM perempuan dan IPM laki-laki harus setara. Jika indeks pembangunan gender mendekati 100 maka semakin rendah kesenjangan pembangunan manusia antara perempuan dan laki-laki.
Berdasarkan data human development report (HDR) tahun 2017 nilai IPG dunia berada pada tingkat 94,12 poin. Sedangkan Indonesia sendiri memiliki nilai IPG sebesar 93,22 poin (masih di bawah rata-rata nilai dunia 94,12 poin). Dengan nilai IPG sebesar 93, 22 poin menunjukkan bahwa capaian pembangunan perempuan masih di bawah laki-laki, meskipun perbedaannya tidak terlalu besar.
Rendahnya capaian IPG di Indonesia terjadi karena rendahnya capaian dari dimensi ekonomi. Oleh karena itu pemerintah senantiasa memberikan perhatian lebih pada peningkatan dimensi ekonomi melalui program pemberdayaan perempuan dengan menggerakkan di sektor ekonomi.
Masifnya program kesetaraan gender dan program unggulannya adalah pemberdayaan ekonomi perempuan harus di bayar mahal dengan kehancuran keluarga dan generasi muslim. Perempuan menjadi “tumbal” perekonomian kapitalisme global. Slogan bahwa ” perempuan bisa mendapatkan semuanya” yang di gencarkan oleh para feminis hanyalah mitos belaka. Studi yang dilakukan oleh seorang ahli strategi karier dan penulis ‘ Megan dan Camina ‘dalam bukunya Getting Real Abaout Having it All yang mengkisahkan tentang mimpi feminis perempuan yang memiliki karier bergengsi tinggi serta kehidupan rumah yang stabil dan sukses.
Studi ini mensurvei 1.000 profesional perempuan AS tentang kesejahteraan mereka dan menemukan bahwa sebagian besar kurang puas dengan kehidupan mereka. Sebanyak 70% percaya bahwa konsep sukses di rumah dan di tempat kerja adalah MITOS. Sebanyak 40% menyatakan mereka berada diujung tanduk, dan hanya 16% yang merasa sangat puas dengan kehidupan mereka.
Fakta dunia membuktikan bahwa hari ini manusia ,tidak terkecuali kaum perempuan masih bergelut dengan yang namanya kemiskinan. Hampir ½ dari penduduk dunia (3,4 miliar jiwa) berjuang untuk sekadar memenuhi kebutuhan dasar. Terdapat 821 juta orang yang kekurangan makan secara kronis di dunia. Satu dari sembilan orang di dunia menghadapi kelaparan sebagian besar di Afrika. 40 juta orang Amerika, termasuk lebih dari 15 juta anak-anak, mengalami rawan pangan. 14 juta atau 20% dari penduduk Inggris, termasuk 4,5 juta anak-anak, hidup di bawah garis kemiskinan. Kekayaan 1% orang terkaya di dunia setara dengan total kekayaan 99% penduduk dunia sisanya. Sebanyak 26 orang terkaya memiliki aset sejumlah yang dimiliki oleh 3,8 juta penduduk dunia.
Namun sebenarnya, inti persoalan bukan karena “kesetaraan gender” atau karena belum terwujudnya planet 50:50, namun akar penyebab kemiskinan dan kesenjangan kekayaan adalah sistem kapitalisme yang dikendalikan oleh para kapitalis (pemilik modal)
Maka, Satu-satunya sistem politik dan pemerintahan yang mampu menggantikan posisi kapitalisme di dunia ini adalah sistem pemerintahan Islam. Khilafah adalah sistem warisan Rasulullah saw. yang dilanjutkan oleh p khulafa’ur Rasyidin, para tabi’in berlanjut hingga masa kekhilafahan Utsmaniyah dan baru diruntuhkan tanggal 24 maret 1924 telah membuktikan kedigdayaan dan kejayaanya. Sistem khilafah telah terbukti sepanjang sejarah, selama kurun waktu 14 abad mampu membawa kedamaian dan kesejahteraan bagi dunia tanpa membedakan gender, ras, agama dan budaya. Perempuan sejahtera dan mulia tanpa beban menanggung perekonomian keluarga dan negara.
Kejayaan Islam dibawah naungan khilafah diakui oleh siapapun yang membaca sejarah dengan jujur. Diantaranya, Will Durant, dalam The Story of Civilization, vol. XIII, ia menulis: “Para khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapapun yang memerlukannya dan memberikan kesejahteraan selama berabad-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan tersebar luas, hingga berbagai ilmu, sastra, filsafat dan seni mengalami kemajuan luar biasa.
Secara tegas seorang muslimah tidak menginginkan kesetaraan gender yang di gaungkan oleh para feminis. Namun mereka menginginkan hidup mulia di bawah naungan ke, sebagai bentuk ketaatan dan keyakinan akan janji Allah Swt dan Bisyarah (kabar gembira) Rasulullah saw.
Maka sudah saatnya muslimah di belahan bumi ini bergerak dan berjuang di jalan Islam, demi meraih rida Allah karena surga tempat terakhir kita.
Wallahu a’lam bishawwab





