Tren Kejutan Ultah Merenggut Nyawa, Bagaimana Bisa?

Sistem pendidikan dalam Islam mengajarkan kaidah berpikir yang benar yang akan menghasilkan amal produktif. Hal ini diperoleh dari pemikiran yang mendalam sehingga akan menjadi pembimbing bagi setiap orang dalam melakukan tindakan.
Oleh Ummu Miqdad
JURNALVIBES.COM – Hari lahir merupakan momen istimewa bagi sebagian orang. Hari di mana kehidupan di mulai, yang mendatangkan kebahagiaan bagi kedua orang tua dan kerabat.
Dahulu, di era kelahiran sebelum era milenial, hari lahir hanya sebatas hari yang dirayakan sebagian kecil orang yang mampu di rumah-rumah mereka. Acaranya pun tergolong sederhana, dengan undangan teman-teman tetangga di lengkapi dengan tumpeng sederhana.
Susunan acaranya pun sangat sederhana, terkadang setelah datang undangan beberapa anak kecil lalu dibacakan doa selamat. Menunya juga sederhana, seperti tumpeng pada umumnya, dengan sayur urap, tahu tempe goreng, telur rebus yang dibelah-belah, ada juga ayam goreng untuk keluarga yang tergolong mampu. Di bungkus dengan daun pisang yang bisa di makan langsung ataupun di bawa pulang. Tak ada kue, balon, terompet, ataupun kado. Sangat khidmat dan sederhana.
Itulah perayaan ulang tahun pada zaman dahulu. Sangat sederhana tapi penuh makna. Ada kebersamaan, kegembiraan, dan rasa syukur atas umur yang masih dikaruniakan.
Namun berbeda di tahun-tahun setelahnya. Di mana ulang tahun tidak hanya di rayakan di rumah-rumah. Namun juga di sekolah, di kampus, maupun di tempat kerja.
Caranya pun berbeda-beda. Ada yang dengan membawa kue ke kelas, mentraktir teman-teman makan, mengajak ke tempat wisata dan lain-lain.
Tujuan perayaannya pun mengalami pergeseran. Tidak lagi untuk mensyukuri kehidupan yang masih di dikaruniakan, tetapi lebih kepada menunjukkan eksistensi, seru-seruan, dan dianggap gaul juga keren.
Adapun anak-anak remaja, ada tren memberi kejutan kepada yang berulang tahun. Misal mereka membawa tepung dan telur, yang akan dilemparkan kepada yang berulang tahun. Jadilah lokasinya itu kotor dan berbau amis, tak jarang itu terjadi di dalam kelas. Meski sudah di bersihkan, namun tetap saja berbau amis.
Ada juga yang membuat sandiwara, yang intinya menyudutkan yang berulang tahun. Hingga pada puncaknya ketika emosi memuncak bahkan sampai membuatnya menangis, mereka bertepuk tangan sambil menyanyikan lagu selamat ulang tahun. Meski ada rasa bahagia, namun tentu rasa sakit hati itu tetap menggores hati.
Sandiwara ini terkadang terlalu berlebihan, tak hanya menyakiti perasaan orang yang berulang tahun, tapi juga menyakiti fisik, bahkan sampai berujung maut.
Seperti yang dilansir Tempo (10/07/2024), nasib tragis menimpa seorang ketua OSIS SMAN I Cawas, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah, yang meningal setelah tersetrum ketika di ceburkan ke dalam kolam saat perayaan ulang tahunnya.
Ketika itu korban, FN 18 tahun, tengah mengikuti rapat bersama 30 orang anggota OSIS lainnya. Ada salah satu teman yang mengetahui bahwa korban berulang tahun hari itu. Lalu dia disiram dengan tepung. Saat keluar dari kamar mandi, FN dibopong teman-temannya dan di ceburkan ke kolam. Korban berusaha keluar dari kolam, tetapi nahas dia menginjak kabel yang terpasang di kolam dan tersengat arus listrik.
Sungguh disayangkan tren merayakan ulang tahun, yang terkadang dimaksudkan untuk menunjukkan eksistensi diri berakibat merugikan, bahkan merenggut jiwa.
Selain itu, perilaku spontan yang dilakukan remaja saat ini menunjukkan kedangkalan pemikiran sehingga tidak memahami kaidah berpikir dan beramal, serta pertanggung jawaban atas setiap perbuatan.
Berlaku dengan standar perasan seru dan menyenangkan tanpa memperhitungkan risiko yang mungkin terjadi. Sehingga minim dari makna perayaan itu sendiri hingga berakibat buruk pada orang lain.
Sejatinya perbuatan yang demikian jauh dari kata produktif. Alih-alih merencanakan masa depan yang lebih baik seiring bertambah usia, malahan melakukan perbuatan sia-sia dan mubazir, seperti membuang-buang tepung atau telur, membuat sandiwara, ataupun menjahili kawan yang berulang tahun.
Bukankah remaja memiliki potensi yang sangat besar demi keberlangsungan kehidupan, yang seharusnya diberikan bimbingan dan arahan agar dapat menata waktunya lebih bermanfaat dan bermakna.
Sistem pendidikan dalam Islam mengajarkan kaidah berpikir yang benar yang akan menghasilkan amal produktif. Hal ini diperoleh dari pemikiran yang mendalam sehingga akan menjadi pembimbing bagi setiap orang dalam melakukan tindakan.
Dengan kembali menerapkan sistem kehidupan yang islami, maka perbuatan yang tidak produktif atau bahkan berbahaya dari remaja akan dapat di cegah. Akan menempa mereka untuk menjadi orang yang akan menjadi sebaik-baik penerus bangsa. Wallahu a’lam bishawab. []
Editor: Ulinnuha; Ilutrator: Fahmzz
Photo Source by bing.com
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






