Ibu Aniaya Anak Kandung Demi Nafkah, Normalkah?

Islam adalah sebuah agama ritual sekaligus ideologi yang memiliki seperangkat aturan dalam kehidupan. Maka bukan hanya mengatur urusan hamba dengan Tuhan-Nya di tempat ibadah saja, tetapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendir.i dan hubungan manusia dengan manusia lainnya.
Oleh Nuha
(Mahasiswi Surabaya)
JURNALVIBES.COM – Belum lama ini publik dikejutkan dengan sebuah video yang viral di media sosial, yaitu seorang ibu yang sedang menganiaya anak kandungnya yang masih balita di Lampung.
Hal ini seperti yang dilansir oleh sindonews.com (07/09/2022), bahwa seorang ibu muda (24 tahun) warga kecamatan Bukit Kemuning, Lampung, menganiaya anak balitanya dengan memukul, menutup dengan kain, membantingnya dari tempat tidur lalu direkam dan dikirimkan kepada suaminya. Motifnya adalah agar sang suami mau memberikannya nafkah. Sang ibu pun menjalani serangkaian aturan hukum dan sang anak sedang dalam perawatan.
Kejadian ibu atau ayah aniaya darah daging sendiri bukanlah kejadian pertama kalinya. Di kesempatan lain, kakak bunuh adik dan sebaliknya, paman bunuh keponakan dan sebaliknya. Tak terhitung berulang kali tragedi nahas ini bertebaran di media.
Akal sehat manusia normal tidak akan terpikirkan melakukan hal biadab ini. Hati nurani terdalam seorang ibu pasti menginginkan perlindungan pada anaknya. Namun apabila akal telah terdominasi oleh banyak sekali pikiran tuntutan hidup, berimbas pada terganggunya psikis, alhasil anak di sisinya pun bisa jadi pelampiasan.
Inilah yang dibentuk dalam sistem kapitalisme hari ini, karena kehidupan semua bermuara pada materi. Kesenjangan yang tinggi bagi golongan atas dan bawah menjadikan eksistensi di atas segalanya. Tuntutan memenuhi kehidupan sehari-hari yang begitu sulit lantaran mahalnya biaya makan, sekolah, listrik, pajak, menjadikan ibu dalam sistem ini semakin bingung menghadapi problema. Apalagi, jika gaji jauh dari bayangan.
Selain itu, minimnya pemahaman agama dalam keluarga menjadikan standar perbuatannya bebas. Berbagai masalah pun dihadapi sendirian dengan perasaan, tanpa pikir benar dan salah menurut tuntunan agama. Sekularisasi atau pemisahan agama dari lini kehidupan inilah buah dari penerapan kapitalisme.
Islam adalah sebuah agama ritual sekaligus ideologi yang memiliki seperangkat aturan dalam kehidupan. Maka bukan hanya mengatur urusan hamba dengan Tuhan-Nya di tempat ibadah saja. Tapi juga mengatur hubungan manusia dengan dirinya sendiri (habl- bi an-nafsi) dan hubungan manusia dengan manusia lainnya (habl- min an-annas).
Aturan Islam sempurna diterapkan dalam mengatur masyarakat dan negara. Hal ini dibuktikan dengan didirikannya negara Rasul, kemudian masa Khulafaur Rasyidin, hingga masa Khilafah Umayyah, Abbasiyyah, dan Utsmaniyyah.
Segala kebutuhan hidup ditanggung negara bahkan seorang sejarawan Barat, Will Durant menulis dalam bukunya yang berjudul The Story Of Civilization: ” Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Para Khalifah telah mempersiapkan berbagai kesempatan bagi siapa pun yang memerlukannya dan meratakan kesejahteraan selama berabad-abad dalam luasan wilayah yang belum pernah tercatatkan lagi. Fenomena seperti itu terjadi setelah masa mereka”.
Demikianlah, kesejahteraan hidup akan terwujud bila Islam diterapkan dalam aturan negara. Kaum ibu pun akan fokus mendidik anak-anaknya dengan kasih sayang dan rahmah. Keutuhan keluarga yang sakinah, mawadah warahmah pun menjadi hal yang bisa dirasakan oleh semua Muslim. Wallahu a’lam bishawwab. []
Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz
Photo Source by Google
Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com






