Opini

Bebas dari Pandemi, Cukupkah dengan Gerakan Keluarga Berdoa?

Pemimpin yang dibutuhkan umat saat ini adalah pemimpin yang benar-benar mau mengurus dan melindungi mereka dari maraknya bencana. Iman dan takwa harus dijadikan landasan kehidupan mereka demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Bila benar membutuhkan pertolongan Allah Swt. mestinya tidak sekadar doa namun juga taubatan nasuha seluruh masyarakat dan pemerintah.


Oleh Yulia Hastuti, S.E, M.Si.

JURNALVIBES.COM – Menghadapi wabah corona yang telah menjadi bencana pandemi selama kurang lebih setahun ini, Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal dan Transmigrasi (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar mengimbau warga desa untuk membatasi mobilitas di luar rumah saat penerapan PPKM Darurat kecuali ada keperluan yang sangat mendesak. Pernyataan tersebut muncul dalam cuitan di akun Twitternya @halimiskandarnu.

“Tetap waspada, jaga kesehatan, patuhi protokol kesehatan; cuci tangan dengan sabun dan air mengalir, selalu pakai masker, jaga jarak, hindari kerumunan, kurangi mobilitas dan jangan lupa senantiasa memanjatkan doa,” pesan Halim Iskandar.

Halim Iskandar mengingatkan warga desa agar pandemi ini cepat berlalu, maka harus mematuhi kebijakan yang diterapkan dengan tetap menjaga protokol kesehatan dimulai dari diri sendiri. Mengingat lonjakan kasus di negeri ini semakin meroket tajam. Ia pun mengimbau seluruh kepala desa, pendamping desa, dan seluruh warga desa untuk melakukan doa rutin bersama keluarga di desa-desa sesuai dengan agama dan kepercayaan masing-masing agar bebas dari Covid-19.

“Dalam doa memohon kepada Allah Swt. dan Tuhan yang Maha Esa agar pemimpin dan seluruh warga negara Indonesia diberikan kesehatan, keselamatan, dan perlindungan dari wabah Covid-19,” katanya. Halim pun kembali menyerukan agar seluruh pihak saling menguatkan dan tabah dalam menghadapi wabah ini. Tak lupa juga dihimbau untuk mendoakan pemimpin dan masyarakat Indonesia untuk saling bekerja sama dalam menangani pandemi Covid-19. (detik.news, 04/07/2021)

Terkait himbauan Mendes bagaimana rakyat seharusnya menyikapi seruan beliau? Dengan melihat data di lapangan memasuki puncak gelombang ke-2 Covid-19 di Indonesia sejak akhir bulan Juni, para ahli menyebut manusia yang bertanggung jawab membuat virus Corona SARS-CoV-2 terus bermutasi bukan malah melakukan pencegahan penularan Covid-19. Hal ini tidak lain akibat dari perilaku manusia yang abai sehingga menyebabkan virus ini terus menular hingga akhirnya bermutasi.

Karena sejatinya virus tersebut tidak bisa berjalan sendiri, hanya manusia yang dapat menularkan sesamanya. Menurut Ahli Biomolekuler, Ahmad Rusdan Handoyo, virus memerlukan inang agar bisa bermutasi. Tubuh inang (manusia) inilah yang digunakan virus untuk bereplikasi (memperbanyak diri) hingga akhirnya muncul mutasi-mutasi virus. Pada Selasa (6/7) jumlah kasus harian infeksi virus corona (Covid-19) di Indonesia berada pada posisi ketiga terbesar di dunia setelah Brazil di posisi pertama dan India. Peningkatan kasus ini didorong oleh mutasi varian Delta virus corona yang berasal dari India. (cnnindonesia, 08/07/2021)

Dengan melihat fakta atas pernyataan pakar kesehatan penyebab virus ini semakin merebak penularannya, seharusnya penguasa dapat berkaca mengapa solusi yang ditawarkan selalu menjadi paradoks bagi rakyatnya sendiri. Di tengah himbauan agar pergerakan masyarakatnya diperketat saat penerapan PPKM Darurat di Tanah Air, namun dibukanya akses lebar-lebar terhadap kedatangan Tenaga Kerja Asing (TKA) ke Indonesia di saat lonjakan kasus semakin memperlihatkan arogansi kekuasaan yang dipertontonkan di tengah kedaruratan. Hal itulah yang mereduksi kepercayaan masyarakat terhadap penguasa.

Tidak ada yang salah terkait seruan Bapak Mendes dalam menyikapi kasus wabah dengan mengajak masyarakat melakukan doa bersama, yang artinya pengakuan bahwa manusia butuh pertolongan Allah dalam menghadapi wabah. Bagi umat Islam, doa bersama bukanlah sesuatu yang baru. Sejak agama ini disampaikan oleh sang pembawa risalah Rasulullah Saw. hingga kini umat sudah terbiasa melakukannya. Doa adalah bentuk kegiatan berupa permohonan manusia kepada Allah Swt. semata. Karena kedudukan doa dalam ajaran Islam adalah ibadah. Doa merupakan inti sari ibadah yang mengandung unsur akidah, yakni hal yang paling fundamental dalam agama.

“Bukankah Dia (Allah) yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila dia berdoa kepada-Nya, dan menghilangkan kesusahan dan menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah (pemimpin) di bumi? Apakah di samping Allah ada Tuhan (yang lain)? Sedikit sekali (nikmat Allah) yang kamu ingat.” (TQS. An Naml :62)

Sudah seharusnya selain ikhtiar dalam bentuk mitigasi pencegahan bencana pandemi, ikhtiar batin pun perlu dilakukan. Salah satunya adalah dengan memanjatkan doa ketika bencana tersebut terjadi. Sebagai makhluk sudah seharusnya menyadari, segala sesuatu yang terjadi apapun itu termasuk musibah, ujian, dan bencana yang sedang dihadapi saat ini pada hakikatnya berasal dari Allah. Rasulullah Saw. bersabda yang artinya, ”Seseorang tidak beriman sampai ia mengimani takdir yang baik dan yang buruk”. (HR. Imam Ahmad)

Lebih lanjut, Rasulullah Saw. menyebutkan jika segala yang baik berasal dari Allah sedangkan semua yang buruk bukan berasal dari-Nya. Hal tersebut sebagaimana disebutkan dalam hadis yang artinya, “Seluruh kebaikan ada dalam kuasa-Mu dan keburukan tidak dinisbahkan kepada-Mu.” (HR Muslim).

Sehingga, meski semua kejadian berasal dari Allah Swt., manusia dituntut untuk menyatakan akhlak perihal bencana sebagai suatu yang berasal dari kekhilafan, kesalahan, kekeliruan, bahkan kezaliman manusia itu sendiri. Manusia perlu mengevaluasi dan menginstopeksi diri apakah perilaku individu, kultur masyarakat, dan segala kebijakan penguasa telah membawa maslahat atau malah membawa mudarat.

Umat harus menyadari dengan sistem sekuler kapitalis yang diterapkan sekarang ini bahwa mereka tidak memiliki kepemimpinan yang serius me-ri’ayah (mengurusi) urusan mereka. Harusnya penguasa mampu muhasabah diri secara totalitas dengan memberikan solusi dan kebijakan yang membuat masyarakat keluar dari setiap permasalahan, karena sejatinya musibah pandemi ini merupakan teguran dari Allah Swt. Sang Khaliq pengatur kehidupan. Dampak dari terlalu jauh keluar dari aturan hidup yang seharusnya.

Pemimpin yang dibutuhkan umat saat ini adalah pemimpin yang benar-benar mau mengurus dan melindungi mereka dari maraknya bencana. Iman dan takwa harus dijadikan landasan kehidupan mereka demi kelangsungan hidup yang lebih baik. Bila benar membutuhkan pertolongan Allah Swt mestinya tidak sekadar doa namun juga taubatan nasuha seluruh masyarakat dan pemerintah. Saatnya kita kembali dari sistem rusak kapitalis buatan manusia yang lemah kepada hukum Islam kafah yang hanya bersumber dari Allah Swt. Wallahu a’lam bishawwab. []

Editor: Ulinnuha; Ilustrator: Fathzz


Photo Source by Google

Disclaimer: JURNALVIBES.COM adalah wadah bagi para penulis untuk berbagi karya tulisan bernapaskan Islam yang kredibel, inspiratif, dan edukatif. JURNALVIBES.COM melakukan sistem seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan JURNALVIBES.COM. Silakan mengirimkan tulisan Anda ke email redaksi@jurnalvibes.com

Show More

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Related Articles

Back to top button